Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
28. Sumpah Serapah Bian


__ADS_3

Bian masih terduduk di sofa panjang, setelah anak Nuna lahir justru sekarang dirinya yang lemas. Hingga proses kelahiran selesai dan prosesi setelahnya Bian benar-benar tak diberi kesempatan untuk bicara bahwa ia bukan suami Nuna. Sementara Nuna sendiri tak menjelaskan apa pun bukan karena ia tak mau, ia sendiri masih mengumpulkan tenaganya karena setelah anaknya lahir ia sempat tak sadarkan diri sesaat.


"Bian, Maaf, ya kamu harus menemani Nuna di sini karena Ibu yang terlambat datang. Tadi sebenarnya nggak lama di toilet, tapi pas balik ke sini pintunya udah dikunci. Jadi Ibu nggak mau ganggu konsentrasi Dokter yang sedang menangani Nuna. Akhirnya Ibu memilih untuk duduk diam di luar. Maaf, ya."


"Tidak apa-apa, Bu. Saya tidak mempermasalahkan itu."


Sementara Nuna hanya terdiam karena menanggung malu yang teramat sangat. Sesekali ia melirik ke arah Bian yang terduduk dengan bersandar kepala sofa seraya mendongakkan kepalanya. Ia bingung harus yang mana dulu yang ia ucapkan, permintaan maaf atau terima kasih.


Ibu Nuna yang baru menjadi nenek sejak tadi tak lelah dan tak ada bosannya untuk menimang cucu pertamanya itu.


"Mau kasih nama siapa anakmu? Dia tampan sekali."


"Cashel Daniyal Akmal. Panggilannya Cashel," jawab Nuna seraya mengelus-elus kening bayinya yang berada dalam gendongan sang Ibu."


Menatap bayi itu terlalu lama membuat Nuna kembali berlinang. Ia masih sangat kecil untuk menanggung beban kehidupan yang berat. Tiba-tiba terlintas dalam kepalanya bagaimana jika suatu hari ia tumbuh besar dan menanyakan di mana ayahnya? Siapa namanya? Ia ingin bertemu? Jawaban apa yang harus ia berikan untuk anaknya kelak?


"Bu, bukankah dia terlalu dini untuk memiliki masalah? Dia baru saja lahir, tapi..." Nuna tak melanjutkan kalimatnya, ia menghapus sedikit air mata yang menetes.

__ADS_1


Mendengar suara Nuna yang bergetar membuat Bian terduduk tegak. Ia diam demi mendengar kelanjutan kalimat Nuna. Namun, tak kunjung mendengar kalimat berikutnya membuat Bian bangkit dan berjalan ke ranjang Nuna. Entahlah, ia merasa ingin dekat dengan Nuna akhir-akhir ini, apalagi jika mendengar ia menangis. Sungguh tak tega rasanya di hati. Ditambah lagi setelah momen beberapa jam lalu, rasa yang satu ini tak bisa ia bendung lagi.


"Nuna, seharusnya kau tahu ini. Orang yang baru melahirkan dan dalam keadaan menyusui nggak boleh stres. Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Jangan membayangkan sesuatu yang buruk atau indah di masa yang bahkan kau belum melewatinya. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Jadi fokuskan pada anakmu saja, jangan yang lain."


Nuna mengangguk patuh, "Bian aku minta maaf atas kejadian tadi, ya. Kamu jadi harus terjebak di sini karena aku dan terima kasih sudah kasih aku kekuatan."


"Santai saja. Kalau begitu aku pulang dulu, ya. Bianca sendirian. Makan malamnya jangan lupa di makan. Saya pamit, Bu." Bian sempat melirik anak Nuna yang memang terlihat tampan. Ia lebih mirip dengan ayahnya. Bian berkata dalam hati pasti Arga akan menyesal jika mengetahui fakta bahwa anak yang dikandung Nuna adalah darah dagingnya.


Darah daging? Mengingat dua kata itu membuat Bian ingin membantu Nuna dalam urusan tes DNA.


"Begitu kamu resmi cerai dengan Nuna, kamu harus segera nikahi aku. Perut ini akan semakin besar, aku nggak mau menanggung malu."


Bian mendengar sebuah percakapan yang suaranya pernah ia dengar. Langkahnya terhenti dan ia memutar tubuhnya ke belakang. Dan benar saja, dugaannya benar. Ia melihat sosok Arga dan Lia yang berjalan beriringan dengan bergandengan tangan mesra.


Pandangan ketiga manusia yang berada dalam koridor itu bertemu. Sepasang mata milik Bian menyorot keduanya depan tatapan yang teramat tajam serta tangan yang mengepal kuat. Urat-urat di punggung tangannya sampai menonjol keluar.


"Kau memang benar-benar brengsek! Laki-laki macam apa kau? Binatang saja tidak se brengsek dirimu. Istrimu berjuang antara hidup dan mati kau malah asyik bercinta di sini?" Bian masih sadar ia sedang berada di rumah sakit. Kalimat Bian memang menyakitkan, tapi ia mengatakannya dengan pelan dan tenang.

__ADS_1


"Apa urusannya denganku? Kau yang hamili dia kenapa harus aku yang memikirkannya? Bagus kalau dia sudah melahirkan, aku bisa mengirim berkas perceraian dengan segera."


"Ku tunggu kau di halaman samping rumah sakit."


Bian dengan cepat melipir pergi dari sana. Ia berjalan dengan emosi yang tertahan dan kedua bola mata yang memanas.


Butuh beberapa menit lamanya ia menunggu Arga untuk sampai di halaman. Emosinya sungguh berada di puncak mengingat percakapan singkat yang baru saja ia dengar. Bagaimana bisa ada manusia se bajingann itu dengan menghamili seorang wanita untuk yang kedua kalinya. Ditambah lagi istri yang ia peroleh sekarang juga hasil dari hamil di luar nikah dan kini kembali ia ulangi di saat ia masih sah menjadi suami Nuna.


Arga baru saja sampai di halaman ketika sebuah pukulan menyapa sudut bibirnya dengan keras. Cairan merah seketika mengalir di sudut bibir pria itu.


Arga yang tak terima tentu saja membalas pukulan itu, namun naasnya,  ia justru tersungkur ke bawah karena Bian dengan cekatan menghindar. Merasa ada momen yang pas, Bian melampiaskan kemarahannya dengan memberikan bertubi-tubi pukulan hingga wajah pria itu babak belur.


"Aku melakukan ini karena kau salah, kau sudah salah dengan menuduh Nuna hamil anakku. Kalau memang dia anakku, aku akan dengan senang hati menyambut perceraian kalian. Kalau aku yang menghamili Nuna, untuk apa aku menyuruh Nuna menikah denganmu? Katakan untuk apa? Bahkan ekonomiku saja jauh lebih baik darimu. Aku bisa membawa Nuna melahirkan di rumah sakit, memberikan pelayanan yang terbaik, sedangkan kau, laki-laki macam apa kau ini? Jika aku menghamili Nuna, untuk apa aku menjerumuskan dia dan juga anakku ke lembah penderitaan? Dasar tidak punya otak."


Arga terdiam seribu bahasa. Entah apa arti diamnya itu, ia membenarkan apa yang dikatakan Bian atau memang ia baru sadar yang dikatakan Bian ada bernarnya.


Untuk yang terakhir kalinya, Bian memanfaatkan momen ini untuk mengambil sesuatu dari Arga dan membuat pria itu menyesal secepatnya.

__ADS_1


"Pukulan bertubi-tubi pun tidak akan mampu membalaskan rasa sakit yang istrimu alami." Bian mengangkat tangannya dan menarik kuat rambut Arga. Ia dekatkan wajahnya ke wajah Arga dan, "Aku bersumpah akan membuat kau menyesal dan saat penyesalanmu itu menyiksamu, kau tidak akan pernah bisa kembali pada istrimu. Kau selalu menuduh aku yang menghamili Nuna, kan? Aku Daniyal Abian, akan merebut Nuna darimu. Dan saat itulah waktunya Nuna untuk menertawakanmu!" Bian lalu menarik dengan kuat dan kencang rambut Arga yang sejak tadi ia genggam.


Bian pergi begitu saja ketika sudah mendapatkan apa yang ia mau. Di tengah perjalanan, ia membuka tangannya yang tergenggam. Ada beberapa helai rambut Arga di sana. Melihat usahanya berhasil, ia menarik kedua ujung bibirnya.


__ADS_2