Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
32. Sama Sakitnya


__ADS_3

Bu Ningsih mencerca Arga dengan berbagai pertanyaan begitu ia sampai rumah. Beliau seakan tidak peduli dengan raut wajah anaknya yang nampak tidak baik-baik saja. Melihat Arga yang bungkam ketika ditanya, pandangan mata Bu Ningsih beredar ke bawah dan menarik lembaran amplop yang berada di tangan kanan anak semata wayangnya itu.


Senyum sumringah seketika mengembang sempurna tatkala melihat tanda tangan Nuna. Beliau bahagia sekaligus lega akhirnya yang beliau inginkan terwujud hari ini.


"Ah akhirnya. Kamu terbebas juga." Bu Ningsih menoleh ke arah  anaknya yang diam mematung. "Kamu kenapa kok kayak gitu mukanya?" tanyanya kemudian.


"Ibu pernah bilang ke aku kalau anak yang dikandung Nuna itu bukan anakku hanya karena Ibu pernah melihat Nuna di Puskesmas sama seorang laki-laki dan sekarang ini apa Bu?" Arga menyodorkan kertas yang ia dapat dari Bian.


Bu Ningsih mengambil kertas tersebut dengan sedikit gugup. Bukan karena hasilnya, tapi alasan apa yang akan beliau lempar pada Arga mengenai kebohongan yang beliau ciptakan. Belum melihat isinya saja beliau bisa menebak apa yang berada di dalamnya.


"Kenapa aku baru sadar sekarang? Ibu dari awal tidak menyukai Nuna, tapi kenapa harus sampai begini, Bu? Jadi selama ini yang Ibu katakan sama aku itu hanya karangan? Nuna selama ini terdzolimi? Kenapa Bu? Kenapa Ibu sampai bertindak sejauh ini?"

__ADS_1


Hancurnya kehidupan dan hati Arga yang datang secara tiba-tiba membuat ia tidak mampu untuk meninggikan suara. Ia ingin marah, tapi ia tak punya tenaga untuk melakukannya.


"Arga. Ibu waktu itu melihat mereka sangat mesra, bagaimana Ibu tidak berpikir kalau mereka punya hubungan? Lagian setelah itu mereka juga masih bertemu, kamu lihat sendiri juga, kan waktu itu mereka pegangan tangan di kedainya laki-laki itu. Gimana Ibu nggak mikir kalau mereka ada hubungan?"


Ya, jika kita kembali ke momen beberapa bulan lalu, momen di mana Bu Ningsih membuntuti Nuna yang menemui Bian di kedai dan memohon padanya untuk membantu meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Dan, ya, Nuna memang menghapus seluruh foto yang bisa menimbulkan peperangan, namun ia tak sadar jika salah satu foto sudah dikirim pada Arga. Itulah sebabnya pria itu langsung memberikan pukulan ketika ia pulang mencari nafkah.


Arga kembali mengingat momen itu, ingatannya masih jelas di mana Nuna dengan sadar menggengam tangan Bian dengan tatapan yang memohon. Sungguh gambaran itu masih melekat di kepalanya.


Merasa dirinya lelah dan tak tahu apa yang harus dilakukan, Arga masuk kamar dan mengistirahatkan tubuhnya. Entahlah, rasanya hancur saja hatinya mengetahui kenyataan ini. Menyesal dan membuat keadaan kembali seperti semula rasanya tak mungkin dilakukan.


Semenjak hari itu, Arga dan Nuna sama-sama berat menjalani hari-hari mereka. Arga yang sibuk dengan penyesalan serta ketidakberdayaannya membuat ia seperti tak semangat menjalani kehidupan. Bagaimana tidak? Bayi yang ia temui beberapa hari yang lalu ternyata anak kandungnya, apa lagi yang bisa ia lakukan selain penyesalan. Menemui Nuna lagi dan minta maaf? Rasanya itu sangat tidak pas mengingat ia baru saja beberapa hari yang lalu menyombongkan diri dengan tetap pada keyakinannya. Belum lagi ia juga punya benih di rahim wanita lain.

__ADS_1


Rasa yang hampir sama dengan Arga, wanita yang baru menjadi Ibu itu menjadi lebih sering melamun dan menyendiri. Tidak nafsu melakukan apa pun dan hanya menghabiskan waktu dengan terdiam dan mendalami sakit hati yang ia rasa.


"Nuna, sudahlah. Kamu jangan seperti ini terus. Kamu nggak kasihan sama Cashel. Dia pasti juga merasakan kesedihan kamu, dia rewel terus. Kasihan dia, Nuna. Ayah nanti sore juga datang, kalau kamu kayak gini banyak orang yang kepikiran. Kehidupan kamu nggak selesai sampai di sini. Harusnya kamu fokus saja sama Cashel. Dia udah nggak punya ayah masa kamu mau abaikan? Dia yang jadi korban kalau kamu begini."


"Kenapa nasib aku jadi begini, Bu? Aku sudah gagal dalam segala hal. Aku sangat ingin mempertahankan hubungan kami, meskipun aku sudah sangat hati dan sikap Arga sangat melukai aku dari segi apa pun, aku ingin kembali. Aku sudah merusak kepercayaan kalian dengan aku hamil sebelum aku menikah, aku sudah gagal menjaga apa yang seharusnya aku jaga, dan sekarang, aku juga gagal mempertahankan rumah tanggaku. Lalu apa lagi yang bisa aku lakukan, Bu?" Nuna tak tahan dan menangisi keadaannya.


Nampaknya kejadian ini benar-benar menyita kesehatan psikis Nuna. Ditambah lagi ia baru saja melahirkan, hormon pasti berubah dan perasaannya juga jauh lebih sensitif.


"Kata siapa kamu gagal? Kamu itu wanita hebat. Semua orang punya dosa, semua orang punya masa lalu yang buruk. Semua orang punya jalan untuk berbuat dosa. Tinggal kamunya aja mau menjadikan ini pelajaran atau mau tenggelam di sana. Kalau kamu merasa kamu menjadi manusia gagal di masa lalu. Untuk masa depan kamu harus berhasil menjadi lebih baik. Yang sudah terjadi nggak perlu ditangisi apalagi kamu nikmati seperti ini. Kamu hidup untukmu masa depan, bukan untuk masa lalu. Ibu tahu kamu pasti sakit hati, sedih, dan hancur. Tapi apakah kamu dengan seperti ini bisa merubah keadaan? Jadikan kehancuran kamu ini momen untuk balas dendam di masa lalu kamu. Kamu merasa masa lalu kamu hancur, kan? Kalau begitu buktikan di masa depan kamu jauh lebih baik. Itulah cara balas dendam yang baik. Jangan buat Arga dan ibunya tertawa dengan kehancuran kamu ini. Ibu nggak rela kalau anak Ibu mengorbankan segalanya demi menangisi laki-laki seperti itu."


Nuna menghapus air mata yang baru saja luruh. Memang benar kata ibunya, tak ia sangkal bahwa apa yang diucapkan ibunya adalah hal kebenaran. Tapi bukankah hal yang mudah diucapkan belum tentu mudah dilakukan? Begitulah kira-kira apa yang ada dalam pikiran Nuna. Meskipun puas menyadari bahwa apa yang diucapkan ibunya tidaklah mudah, ia akan mencoba untuk bangkit dari jatuhnya ini. Ia sangat yakin bahwa ia bisa melewati ini, mengingat selama ini ia sudah hidup dengan penuh perjuangan.

__ADS_1


"Iya, aku akan kuat untuk Cashel. Akan aku buktikan kalau kehancuran ini justru membuatku jauh lebih baik. Aku akan lupakan apa yang sudah terjadi. Terima kasih selalu menjadi pengingat buat aku, Bu."


__ADS_2