Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
36. Kehilangan Kedua Kalinya


__ADS_3

Sudah beberapa bulan ini Bian kembali kepada jati dirinya yang dulu. Gampang marah, dingin, dan sedikit kaku. Hanya pada orang-orang tertentu saja ia bersikap ramah dan full senyum.


Jujur saja perubahan dalam kehidupannya yang cukup mendadak menurutnya, membuat jiwa Bian seperti ada yang kosong. Satu bulan lebih intens dekat dengan Nuna dan Cashel rupanya membawa dampak sendiri baginya ketika di tinggal secara tiba-tiba seperti ini. Meskipun ia masih sering bertukar kabar dengan Nuna, rasanya tak puas dan masih ada yang kurang.


Sudah lama Bian tak merasakan rasa seperti ini. Sejak terakhir kalinya ia di tinggal menikah oleh kekasihnya lima tahun yang lalu dunianya seakan berubah 180° dan perasaannya pun seketika mati rasa setelah itu. Entahlah, selama lima tahun ini ia sama sekali tak jatuh cinta dengan siapa pun, jangankan jatuh cinta, memiliki rasa untuk ingin dekat dengan seseorang saja tidak. Mantan kekasih Bian sepertinya benar-benar meninggalkan luka dan sakit yang tak akan bisa sirna hingga tutup usia.


Pria yang akhir-akhir ini merasakan kehampaan dalam hidup sedang menikmati bulan bintang yang bertebaran di hamparan langit yang luas. Ia tak tahu apakah Nuna saat ini sedang melakukan hal yang sama atau ia sedang sibuk dengan anaknya. Senyum kecil Bian tersungging begitu saja saat mengingat kebersamaannya dengan anak dan Ibu itu.


"Mas akhir-akhir ini beda, ya. Maksudnya tuh Mas jadi kembali kayak yang dulu lagi." Bianca duduk di samping sang Kakak.


"Emang kapan Mas pernah berubah?"


"Waktu masih ada Nuna. Mas tuh jadi lebih sumringah, nggak uring-uringan, ya meskipun kadang emosinya suka datang tiba-tiba, tapi nggak separah dulu. Udah lebih banyak senyum, aku bukan anak kecil lagi yang nggak bisa ngerasain apa pun perubahan dalam diri kamu, Mas. Secara nggak langsung kamu nggak sadar kalau kamu itu ada sesuatu yang berubah, ada rasa berbeda, tapi orang lain di sekelilingmu lah yang menyadari itu. Salah satunya adalah aku. Kehidupan Mas sebelum hadirnya Nuna, saat wanita itu ada di kehidupan Mas, dan setelah dia pergi, itu aku merasakan sesuatu yang berbeda dari diri Mas."

__ADS_1


"Nggak usah ngarang. Kamu tahu apa soal Mas?"


"Mas yang nggak tahu apa-apa soal Mas sendiri. Gitu aja ngak ngerti. Mending lakuin hal lain dari pasda ngelamun doang. Kayak abg aja." Bianca lalu kembali masuk rumah.


Bian hanya mencebik untuk merespon ejekan adiknya. Namun jika dipikir-pikir ucapan dari Bianca tadi ada benarnya juga. Ia memang merasakan perubahan sebelum dan setelah mengenal Nuna.


°°°


Sementara itu, situasi ketegangan terjadi di rumah Arga. Ia baru saja pulang kerja dan mendapati istrinya yang sudah terduduk di lantai dekat tangga dengan meringis kesakitan. Darah mengalir begitu saja di paha Lia.


Meski tak histeris atau tak berisik kesakitan, sangat terlihat di wajah wanita itu bawa sakit di perutnya teramat sangat, hal itu didukung dengan wajah yang semakin pucat.


"Arga." Hanya kata itu yang sejak tadi keluar dari mulut Lia. Ia beberapa kali menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit yang ia rasa.

__ADS_1


"Kita udah sampai, kamu harus yakin kalau nggak akan terjadi apa-apa sama anak kita."


Arga berteriak memanggil suster dan dengan cekatan petugas kesehatan yang bertugas di sana mendorong brankar dan membawa Lia ke UGD. Arga dan istrinya terpisah di ruangan tersebut.


Arga sama sekali tidak tenang. Ia tak tahu apa yang terjadi sampai Lia mengalami pendarahan yang cukup hebat dan banyak. Pikirannya kini berkecamuk, lintasan hal negatif kini berseliweran di dalam pikirannya.


Tidak-tidak. Tidak akan terjadi apa pun. Semua pasti akan baik-baik saja. Tolong jangan biarkan anakku kenapa-napa, Tuhan. Aku sudah kehilangan anak sulungku.


Tak berselang lama dari doa yang terpanjat di hatinya, pintu ruangan UGD terbuka dari dalam. Tanpa Arga bertanya, dokter laki-laki itu menjelaskan kepada Lia.


"Maaf sekali, Pak. Kami tidak bisa menyelamatkan janin Bapak. Rahim istri Bapak mengalami infeksi parah dan kita harus segera mengangkatnya agar tidak menjalar ke mana-mana."


Bagai ditikam belati, dihujam ribuan anak panah, disambar petir, dan diberi tembakan berkali-kali. Hanya sederet kalimat itu yang bisa Arga rasakan, meskipun sebenarnya rasa sakit dan keterkejutannya sebenarnya tak bisa diwakilkan dengan sebuah kalimat.

__ADS_1


Arga masih terdiam saat dokter menjelaskan kondisi Lia yang rupanya sudah pernah melakukan aborsi beberapa kali. Mendengar hal itu terus saja membuat Arga seketika tak berdaya dan ingin mati saja. Di detik itulah ia merasakan dunianya terhenti seketika. Apa yang harus ia lakukan? Inikah karma Tuhan? Secepat ini datangnya? Bagaimana ia melanjutkan hidup jika diterjang ujian seberat ini?


__ADS_2