Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
64. Cemburu


__ADS_3

Sesuai janji Bian sebelumnya, pagi-pagi sekali pria itu sudah sampai di rumah sakit untuk mengantar Cashel pulang. Ia sejak kemarin menghubungi Nuna, namun wanita itu mengabaikan pesan dan panggilannya. Ia tahu apa yang menjadi penyebab wanita itu seperti itu, tapi ia pura-pura tidak paham sampai wanita itu menyuarakan suara hatinya sendiri. Lihat saja siapa yang akan betah dengan situasi seperti ini, tantang Bian dalam hati.


"Udah selesai, kita bisa pulang sekarang? Yakin nggak ada yang ketinggalan?"


"Nggak."


Mereka setelah itu berjalan beriringan ke parkiran. Tak ada obrolan di sepanjang perjalanan, hanya Cashel yang banyak bicara pada Bian. Menyampaikan keinginan-keinginannya pas hari minggu tiba.


"Boleh, tapi Minggu ini kamu harus istirahat di rumah dulu, ya. Minggu depan aja kita jalan-jalan lagi, kamu harus pulih dulu."


Baru saja memasuki mobilnya dan bersiap akan melajukannya, dering ponsel Bian membuat ia mengalihkan sedikit perhatiannyan dan beralih ke benda pipih yang menemaninya beberapa tahun terakhir.


"Iya Lita? Oh iya, aku nanti ke rumah, ya. Satu jam lagi sampai. Oke bye."


Bian tahu, Nuna melirik ke arahnya dengan tatapan sinis. Ia hanya bisa menahan senyum kelakukan wanita ini. Sebenarnya ia sendiri tak mau bersandiwara seperti ini, dengan meminta Lita untuk sering kali meneleponnya saat berada dengan Nuna.


Ya, pertemuannya kemarin rupanya tak hanya membicarakan perihal pekerjaan saja. Tapi dengan polosnya Bian meminta wanita itu untuk membantunya membuat Nuna cemburu.


Di sepanjang perjalanan yang tak seberapa jauh itu hanya keheningan yang mendominasi. Bian yang biasanya banyak bicara pada Cashel pun hanya fokus menyetir.


Nuna sejak tadi diam ada perasaan aneh di dalam dadanya. Ia tidak ingin Bian langsung pulang setelah ini. Entahlah, rasanya sangat tidak suka jika pria itu sibuk dengan wanita lain. Diamnya sejak tadi sedang memikirkan bagaimana caranya agar Bian sedikit lebih lama tertahan dengannya.


Apa aku jangan-jangan sudah jatuh cinta beneran sama Bian? Aku selama ini hanya berpikir bahwa aku hanya terbawa perasaan, tapi kenapa melihat dua hari ini dia ditelepon terus-menerus sama Lita, aku jadi tidak terima. Apalagi dia lebih cantik dari aku. Sebenarnya dia serius nggak sih sama aku? Padahal aku udah mulai membuka hati dan berusaha untuk tidak insecure karena perjuangannya selama ini, tapi di saat aku melakukannya dia malah bikin aku ragu.


"Kamu sama Lita ada hubungan apa sih? Cuman sekedar teman, rekan kerja, atau apa? Kalau iya cuma rekan kerja dan teman lama kenapa sampai ke rumah?"

__ADS_1


"Kita kenal udah dari SMA, makanya deket. Dia itu jadi primadona pas masa SMA. Banyak yang jatuh cinta dan berusaha untuk jadi pacarnya, bahkan sampai adik kelas aja ada yang kepincut." Bian menceritakan Lita dengan nada yang antusias seperti ia bicara dengan Cashel.


"Seusia kamu dong? Masa belum nikah?"


"Baru cerai dia. Makanya aku berani ajak foto bareng, kan kemarin. Kalau udah punya laki, ya nggak mungkin berani, Nuna." Bian benar-benar ingin meledakkan tawanya saat itu juga. Bagaimana bisa ia mengarang cerita dengan selihay ini? Padahal yang terjadi bukanlah itu, Lita masih bersuami.


Usai dengan perbincangan itu mereka akhirnya sampai rumah. Perhatian Bian pada Cashel dan Nuna sebenarnya tidak berubah. Ia tetap memperlakukan keduanya dengan manis.


Nuna berpikir semakin keras untuk mempertahankan Bian di rumahnya sedikit lama. Membayangkan Bian di rumah berdua dengan Lita membuat ia berpikir yang tidak-tidak.


"Cashel, kamu langsung tidur dulu, ya. Badan Ibu agak nggak enak. Ibu juga mau tidur, apa mau Ibu antar ke toko?" Nuna berkata dengan sedikit bergemetar karena ia sedang bersandiwara.


"Kamu sakit?" Bian menyentuh dahi wanita itu.


"Mana bisa aku tinggalin kamu sendirian sama Cashel? Nggak apa-apa aku batalin aja."


"Jangan, Bian. Takutnya ada yang penting. Aku tidur sebentar udah enakan kok."


"Serius nggak apa-apa? Ya udah nanti aku pulang dulu, setelah urusan aku selesai aku akan balik ke sini, seenggaknya biar aku bisa nemenin Cashel.


Nuna sedikit membelalakkan matanya. Kalimat yang ia dengar dari mulut Bian adalah bukan harapannya. Ia heran, kenapa sejak Lita sering meneleponnya bian tidak keras kepala seperti biasanya. Ke mana perginya keras kepala yang seringkali membuat ia kesal? Dulu ia sangat kesal dengan keras kepala pria itu, tapi hari ini justru ia merindukannya.


"Sayang, Om pulang dulu, ya. Baik-baik di rumah. Ibu biar istirahat dulu, ya. Ibu lagi cape. Gantian Cashel yang jaga Ibu, ya. Nanti Om ke sini lagi buat nemenin Cashel." Pria itu berlutut agar sejajar dengan Cashel, tangannya mengelus pelan kepala anak itu.


Ayo, Nuna. Berpikir lebih keras lagi apa yang harus kamu lakukan? Nggak bisa, aku nggak mau Bian berduaan dengan janda itu.

__ADS_1


Nuna mengatakan itu seakan dirinya masih gadis. Ia sekarang tak mau memikirkan apakah ia sedang cemburu, jatuh cinta, atau rasa yang selama ini ia rasakan itu sebenarnya cinta atau bukan, ia hanya tahu bahwa ia tidak mau Bian dekat dengan wanita lain, ia tak suka dengan kedekatan mereka meski ia tak pernah melihatnya secara nyata.


"Aku pulang, ya. Langsung istirahat. Nanti chat aja mau dibawain apa." Seperti biasa, Bian akan selalu mengaktifkan bagian tubuhnya ketika ingin berpisah dengan Nuna. Mulutnya berucap sedangkan tangannya mengelus pelan puncak kepala wanita itu.


Bian melipir pergi setelah mendapat anggukan dari Nuna. Baru berjalan beberapa langkah, telinganya menangkap suara seperti benda jatuh dan disusul dengan teriakan Cashel.


Bian kembali berlari begitu mendapati Nuna yang sedang tergeletak di lantai. Tercetak jelas di wajah Bian bahwa pria itu mengkhawatirkan keadaan Nuna. Wanita itu terlihat baik-baik saja, tapi kenapa sampai pingsan? Selelah itukah badannya? Pikir Bian dalam hati.


Bian mengabulkan permintaan Nuna begitu saja untuk segera pulang bukan karena ia tega atau mengetahui jika Nuna sedang bersandiwara. Ia hanya ingin Nuna mencegahnya dengan kalimat, bukan dengan pingsan seperti ini. Siapa yang tidak khawatir jika di posisi Bian yang mendapati seseorang pingsan begitu saja.


"Om, Ibu kenapa?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu cape, nggak apa-apa, jangan khawatir, boleh minta tolong ambilin minyak?" Bian memindah tubuh Nuna ke sofa.


"Nuna, bangun, Na." Bian menepuk pelan pipi wanita itu sembari menunggu minyak yang diambil Cashel.


Tak berselang lama, Cashel datang dengan tergopoh-gopoh. Terbesit penyesalan karena menyuruh anak itu untuk mengambil minyak, ia jadi berlarian disaat baru saja pulang dari rumah sakit.


Bian membuka minyak dan menyodorkan botol yang terbuka itu ke hidung Nuna. Namun, wanita itu tak kunjung membuka mata. Untuk sesaat ia terdiam dan memperhatikan wajah Nuna. Kelopak matanya yang sangat samar melakukan pergerakan membuat Bian menunggu mata wanita itu tersadar. Namun, melihat Nuna yang tak kunjung membuka mata membuat ia sadar bahwa ia sedang di tipu.


Dasar perempuan, kenapa mereka ribet sekali? Tinggal bilang jangan pergi dulu apa susahnya?


Bian lalu beranjak berdiri dan berjalan sedikit jauh. Ia pura-pura menghubungi Lita dan menyuruh wanita itu untuk datang ke rumah Nuna.


Apa? Memang Bian sudah gila. Aku nggak mau membayangkan dia berduaan malah Lita di suruh ke sini.

__ADS_1


__ADS_2