Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
45. Debat


__ADS_3

Nuna menoleh ke arah sang anak. Ia sedikit menundukkan kepala untuk melihat anaknya yang menarik-narik bajunya. Dengan senyum yang lembut seperti biasa, ia mengangguk seraya menawarkan diri untuk mengantarnya.


"Aku bisa sendiri, aku udah gede." Cashel berlari setelah itu.


Nuna mendongak bermaksud untuk mengikuti langkah sang anak, namun yang ia dapat justu Bian yang berdiri tak jauh darinya. Senyum yang masih melekat di bibirnya dengan perlahan memudar seiring pandangan matanya yang melihat Bian dengan wajahnya datar menatapnya tanpa mengedipkan mata.


Rindu, aku sangat rindu kamu


Terasa saja kau masih ada di dekatku


Tak mudah aku melupakan dirimu


Di saat aku terbangun dari tidurku


Dadali-disaat sendiri


Gurauan macam apa ini? Kenapa lagu yang terputar harus seusai dengan kondisi keduanya yang sama-sama merindu?


Tak peduli seberapa ramai suasana dan juga bisingnya restoran itu, kedua manusia yang masih berdiri saling berhadapan itu masih saja diam dengan pandangan mata yang sama-sama tak mau lepas satu sama lain.


Lama kelamaan kedua insan itu sama-sama berkaca-kaca. Entah apa yang membuat mata mereka mendadak berembun. Air mata Nuna sudah menetes saat suara Cashel kembali terdengar di telinga keduanya.


"Cashel, kita pulang sekarang." Nuna meraih tangan anaknya dan menggeretnya degan cepat. Ia sampai melupakan bungkusan dan juga tas Cashel yang masih berada di kursi.


"Ibu kenapa? Ada apa? Ada orang jahat? Ibu tas aku masih di sana." Cashel terus berteriak seraya mengikuti langkah ibunya yang menyeretnya dengan langkah lebar.


Sementara Nuna sama sekali tidak menggubris teriakan anaknya, yang terdengar di telinganya hanyalah suara Bian yang terus memanggil namanya dan meminta untuk berhenti.


Sadar dengan Shanum yang masih berada dalam gendongannya, Bian menyerahkan dengan asal bayi itu ke karyawan yang kebetulan melintas di depannya.


"Nitip dulu. Saya ada urusan."

__ADS_1


Bian kembali berlari, masih terdengar di telinganya Cashel meminta untuk ibunya berhenti berjalan karena tasnya masih tertinggal.


"Ibu tas aku masih di dalam. Aku ambil dulu." Entah yang ke berapa kalimat itu diucapkan oleh Cashel.


Nuna baru mendengar ucapan anaknya ketika ia sudah naik ke atas motor.


"Ya udah nggak apa-apa, nanti biar om Nizar yang ambil. Kita pulang sekarang, kamu jangan banyak nanya." Nuna mulai menyalakan motornya dan bersiap akan memutarnya. Namun seakan semesta sedang berpihak pada Bian, disaat baru saja memutar setir, tangan Bian sudah menahannya.


"Tolong lepas, aku mau pulang," ujar Nuna tanpa melihat wajah Bian. Wanita itu entah kenapa sedang menghindari kontak mata dengan pria itu.


Bian tak bergeming. Tangannya masih berada di ujung setir dan mata yang masih menatap Nuna dengan lekat dan dalam. Ekspresi wajah Bian tak terbaca. Entah yang mana yang lebih dominan, rasa marah atau kerinduan yang mewakili sorot wajah dan matanya.


Heningnya Bian membuat Nuna kesal. Mood nya yang sedang tak baik di tambah ia sedang kedatangan tamu rutinnya membuat emosinya tidak stabil. Sedikit marah, sedikit kesal, dan sedikit sedih.


"Bian minggir atau aku tabrak."


"Nggak mau."


Hening sesaat.


"Ibu, aku mau ambil tas dulu kalau Ibu masih lama ngobrolnya."


"Ja...."


"Iya, ambil aja tasnya. Nggak apa-apa kok. Di dalam aman. Tadi bungkus makanan juga, kan? Kamu ambil di kasir, ya." Bian memotong ucapan Nuna bahkan disaat wanita itu belum sempat mengucapkan satu kata pun.


Cashel menatap ibunya seakan meminta persetujuan. Namun Nuna hanya menatap hamparan parkiran yang dipenuhi beberapa kendaraan karena memasuki jam makan siang. Dengan itu saja Cashel sudah paham bahwa ibunya ta memberi izin untuk ia masuk mengambil tas.


"Kenapa diam? Ayo Om antar ambil tas. Nanti kalau Ibu kamu ninggal kamu pulang, Om yang akan antar. Kita naik mobil."


Cashel hanyalah anak kecil polos yang seperti pada umumnya. Tidak pernah naik mobil seumur hidupnya membuat ia sedikit tergoda dengan tawaran Bian. Namun, ia tiba-tiba teringat pesan nenek, kakek, dan juga ibunya untuk tidak mudah tergiur dengan tawaran orang asing. Wajah yang semula menampakkan ingin mengiyakan tawaran Bian, seketika berubah datar.

__ADS_1


Melihat perubahan dari wajah Cashel, Bian menggeser bola matanya ke arah Nuna.


"Kamu tidak pernah memperkenalkan aku pada Cashel? Kamu nggak pernah cerita soal aku?"


"Untuk apa aku cerita?" Untuk kali ini Nuna membalas tatapan Bian. "Biarkan aku pulang."


"Aku akan biarkan kamu pulang setelah kita bicara."


"Aku nggak mau bicara sama kamu. jangan paksa aku!"


Merasa tak bisa bicara dengan Nuna, Bian memutar otak agar mereka tetap berada di sini, setidaknya untuk beberapa saat lagi. Ingin sekali ia bicara banyak hal dengan wanita ini. Ia juga ingin tahu apa yang membuat Nuna begitu dingin seperti ini padanya.


"Cashel, apa ada seseorang yang menunggu di rumah? Ayah mungkin." Sengaja Bian bertanya seperti itu untuk mengetahui apakah penyebab Nuna menghilang dan juga sikap dinginnya ini adalah karena ia susah memiliki suami.


"Bian tidak seharusnya kamu bertanya seperti itu."


"Aku nanya ke anak kamu. Kenapa kamu yang jawab? Itu mengajarkan anak untuk tidak percaya sama dirinya sendiri. Biarkan dia yang jawab."


Bian kembali menatap Cashel yang masih duduk diam di belakang ibunya.


"Aku nggak punya Ayah. Om tahu nama aku dari mana?"


Bian lalu merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengotak atik sebentar dan menunjukkan layar pipih itu pada Cashel.


Cashel melihat layar di depannya serta melirik Bian secara bergantian beberapa kali. Ia heran sekaligus bingung kenapa ada foto ibunya dan seorang bayi dalam gendongannya. Dan lebih herannya lagi, pria yang ia panggil  Om ini bagaimana bisa memiliki foto ibunya.


"Ini foto waktu kamu kecil sama Ibu kamu. Om juga punya foto kamu pas bayi. Om pernah gendong kamu, jadi kita kenal. Om bukan orang asing."


"Bian, sejak kapan kamu mengambil fotoku diam-diam? Itu namanya pelanggaran."


"Ayo kita masuk lagi ke dalam, tas kamu masih di dalam, kan? Biarin ibumu pulang sendiri, nanti kamu yang Om antar pulang, oke. Kita udah kenal dari bayi lho, Cashel. Masa takut sama Om?" ahian tak mengindahkan kalimat protes dari Nuna.

__ADS_1


Cashel belum melakukan apa-apa, ia masih mencerna apa yang terjadi. Namun, Nuna dengan cepat menggenggam pergelangan tangan anak itu agar tidak kemana-mana.


"Cashel, baru aja tadi Ibu minta kamu untuk nurut sama Ibu, kan? Tetap diam di tempat, jangan turun!"


__ADS_2