
"Ada tamu?" tanya Pak Lukman datar.
"Mau ketemu sama Cashel tadi, tapi Cashel nya lagi nggak di rumah. Ini saya mau pulang. Mumpung ketemu, saya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya sama Ayah dan Ibu. Saya tahu saya terlambat untuk mengatakan ini. Tapi saya rasa saya harus minta maaf meski tidak akan merubah apa pun." Arga berusaha untuk merendah dan menyalami kedua orang tua Nuna.
Ibu Nuna yang menjadi saksi betapa Arga menyakiti anaknya itu hanya bisa menahan amarah dalam diam. Pertemuan terakhir beberapa tahun lalu rupanya masih membekas di benak beliau, rasa sakitnya masih sama dan lukanya juga hampir sama lebarnya dengan sang anak.
Sementara Pak Lukman menyambut baik uluran tangan Arga meski memasang raut wajah biasa saja. Ibu Nuna pun sama, beliau berusaha untuk tetap memperlakukan baik seorang Arga meski anaknya sudah ia sakiti sedemikian rupa. Beliau selalu ingat pesan suaminya untuk tidak membalas kejahatan seseorang dengan sebuah tindakan yang sama. Cukup diam dan hindari orangnya, tanpa melakukan apa pun orang tersebut akan merasa bersalah dan menyesal dengan sendirinya.
Dan memang nyatanya benar. Setelah menyambut uluran tangannya, Ibu Nuna segera melipir dari ruang tamu tanpa pamit. Dan itu sukses membuat Arga tak enak hati dan bertambah malu. Jika saja dirinya tidak merasakan rindu yang menggunung terhadap sang anak ia tidak akan berani ke menunjukkan wajahnya dihadapan Nuna dan keluarganya.
"Kakinya kenapa?" Pertanyaan dari Pak Lukman membuyarkan lamunan Arga.
"Ah, ini tadi jatuh dari motor, tapi nggak apa-apa, hanya luka kecil saja. Kalau begitu saya permisi pulang. Titip salam untuk Cashel saja." Arga pamit undur diri setelah itu.
Kakinya terasa sakit saat ia gunakan berjalan. Namun, sebisa mungkin ia berjalan normal agar tak menimbulkan kekhawatiran bagi siapa pun yang melihat. Meski ia tidak bisa bicara dengan sang anak, hatinya cukup lega karena bisa memberikan hadiah yang ia siapkan beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"Nuna mana?"
"Mungkin di kamar, Yah. Tadi sempat nemuin Arga sebentar terus masuk."
"Dia ngapain ke sini?" Pak Lukman duduk di sofa panjang yang tadi sempat diduduki Arga. Entah kenapa beliau kembali bertanya perihal kedatangan Arga yang sebenarnya tadi sudah dijelaskan oleh pria itu.
"Mau ngasih ini buat Cashel. Jujur saya ini sebenarnya serba salah, Yah. Di satu sisi saya merasakan sakit yang Nuna rasakan, tapi di sisi lain saya juga iba sama Arga yang sekarang. Dia tadi sempat bilang kalau mau ngobrol sama Cashel sehari saja. Setidaknya sekali seumur hidupnya, dia juga ngasih ini buat Cashel biar dia kenal ayahnya. Meskipun dia nggak di panggil Ayah, dia hanya ingin Cashel tahu wajah ayahnya. Ayah lihat sendiri tadi bagaimana perubahan yang terlihat di fisik Arga. Itu sudah menunjukkan kalau dunianya sudah nggak ada tujuan, hidupnya bisa saja hanya untuk ibunya. Dia sempat bilang juga kalau nggak mau nikah lagi, nggak mau mikirin punya keturunan. Baginya, Cashel saja sudah cukup meski dia tidak pernah dipanggil Ayah sama anaknya."
Pak Lukman diam sembari menerawang jauh. Telinganya jeli mendengar kalimat dari Bian tapi pikirannya sedang melayang entah ke mana. Beliau tak pernah meminta atau menyarankan apa pun pada anaknya perihal Cashel dan Arga. Biar bagaimanapun berada di posisi Nuna tidak pernah beliau rasakan. Meski sakit hatinya juga sama menganga karena anaknya dicampakkan begitu saja, tidak bisa dipungkiri bahwa Arga sebenarnya juga punya hak hanya untuk sekedar bicara dengan sang anak.
"Saya nggak bisa jawab, Yah. Walaupun saya dan Nuna menikah nantinya, semua keputusan akan saya serahkan pada Nuna. Tadi sebenarnya juga Arga sempat meminta bantuan, tapi saya hanya bisa mengusahakan tanpa memberinya janji untuk bisa mengabulkan apa yang dia minta. seperti yang saya bilang tadi, saya bingung dan serba salah. Apa saya melakukan kesalahan dengan mencoba untuk mengusahakan Ayah dan anak itu berjumpa?"
"Jelas salah. Kamu tahu bagaimana aku berjuang sendirian, kamu masih berpihak sama dia? Aku calon istri kamu, kamu harusnya melindungi dan jaga aku termasuk Cashel juga. Kamu harusnya mentingin aku, bukan dia. Aku bilang aku nggak izinin, ya enggak. Jangan berusaha untuk bujuk aku!"
Nuna tiba-tiba muncul dan bersuara sembari menahan tangis. Hal itu sangat kentara dari suaranya yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca. Ia kembali ke belakang rumah setelah mengatakan kalimat protesnya. Bian jadi merasa bersalah karena terlalu sembrono dan terlalu cepat mengatakan itu di saat hati Nuna baru saja merasakan bahagia.
__ADS_1
Bian tanpa pikir panjang mengejar wanita yang baru saja ia lamar satu minggu yang lalu. Nuna hendak keluar rumah melalui pintu belakang, namun belum sempat ia melangkah keluar, tangannya sudah dicekal oleh Bian.
"Lepas! Sana kamu belain Arga. Baru aja seminggu yang lalu kamu lamar aku dan janji mau bikin akan bahagia terus. Tapi belum apa-apa kamu udah mau maksa aku buat ngabulin apa yang dimau Arga." Nuna semakin terisak dan itu membuat Bian jauh lebih sakit dibandingkan beberapa bulan lalu saat wanita itu berkali-kali menolaknya.
Bian menarik tangan calon istrinya dengan pelan dan lebih kelembutan. Tangannya yang lain terangkat dan menghapus air mata yang luruh.
"Kamu tahu aku benci ini, tolong dengerin aku dulu. Lihat aku," ujar Bian menggeser arah pandang Nuna agar melihatnya.
Wanita itu sesenggukan menatap Bian.
"Aku nggak maksa kamu, Sayang. Kenapa harus bersikap seperti tadi? Aku tadi emangnya bilang kalau aku akan maksa kamu buat mempertemukan Cashel sama Arga? Nggak, kan? Kamu salah paham, kalau suasana hatinya nggak baik, tenangin diri dulu, ya. Jangan begini. Masa mau jadi istri aku masih ambekan, nanti nggak aku kasih uang jajan. Udah nangisnya, nggak ada alasan buat kamu nangis, hm?"
Inilah yang membuat Nuna semakin jatuh hati pada mantan bosnya meski hanya beberapa hari. Laki-laki itu pandai mengambil hati wanitanya. Ia bisa memperlakukan dan mengimbangi Nuna yang yang terkadang kekanak-kanakan. Hanya butuh sentuhan dan kalimat menenangkan, Nuna sudah kembali berada dalam pelukan Bian.
"Maaf, ya. Maaf aku salah," ujar Bian mengelus pelan kepala ibu dari Cashel itu.
__ADS_1