Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
86


__ADS_3

Untuk yang kedua kalinya, Nuna akan melaksanakan ijab qobul dengan orang yang ia kasihi sepenuh hati. Banyak perbedaan antara pernikahan pertama dan keduanya. Dimulai dari kemewahan dan dengan siapa ia menikah. Yang sama hanya satu, yakni perasaannya. Dulu ia juga merasakan cinta yang sama seperti sekarang terhadap Arga. Cinta dan kasih sayang tulus tanpa melihat apa pun. Tapi nyatanya Tuhan menakdirkan jodohnya dengan Arga hanya sesaat saja.


Tapi tak apa, tak ada yang bisa ia jadikan alasan untuk sebuah penyesalan atau ingin mengulang waktu dan berharap bertemu Bian terlebih dahulu. Semua yang terjadi dengannya adalah jalan hidup yang memang harus ia lewati dan ia tidak akan sekuat ini sekarang jika Arga tak membuatnya kuat.


Nuna menatap hamparan cermin yang berada di ruang VIP di sebuah hotel. Seulas senyum ia terbitkan saat melihat dirinya yang nampak anggun dengan kebaya putih yang pas di badannya. Hingga detik ini ia tak menyangka akan menikah dengan Bian, laki-laki yang sangat ingin ia hindari dahulu.


"Ada yang kurang, Mbak?"


"Sudah cukup. Ini sudah cantik," puji Nuna pada dirimu sendiri dengan mata yang tidak lepas dari cermin.


Sementara di ruangan lain, Bian sudah duduk diantara para saksi dan juga penghulu. Ia sudah siap melaksanakan ijab qobul. Getaran di dadanya sangat terasa. Ia sangat tak sabar dengan datangnya hari ini, tapi begitu hari ini tiba, sungguh ia ingin menghilang dari tempatnya sekarang.


"Sudah siap?" tanya Pak penghulu.


"Siap." Bian menjawab dengan mantap meski hatinya sedang jumpalitan.


Setelah itu, Pak penghulu dan Bian berjabat tangan. Untaian kalimat sakral terdengar dengan lantang menggema di ruangan yang dihiasi serba merah putih sesuai dengan warna kesukaan keduanya mempelai.


Napas kelegaan dari dua manusia yang terpisah tempat itu terdengar bersamaan. Nuna sedikit menitikkan air matanya di detik di mana ia sudah menjadi nyonya Daniyal Abian.

__ADS_1


Mudah-mudahan untuk selamanya.


Beberapa saat kemudian, Nuna diapit oleh kedua orang tuanya untuk diantar kepada suaminya. Sungguh senyum kebahagiaan tidak bisa di sembunyikan oleh wanita itu. Sepanjang perjalanan menuju pelaminan, ia mengedarkan pandangan pada tamu undangan dengan senyum yang seolah mampu menghipnotis semua orang.


Hingga tiba ia kini berada di hadapan Bian. Hanya berjarak satu hingga dua langkah saja. Pria yang sejak tadi mengagumi istrinya dalam diam itu kini bisa melihat istrinya dalam jarak dekat. Semakin lama mereka berdiri berhadapan, penglihatan Bian semakin buram lantaran tertutup oleh carian bening yang menumpuk di kelopak matanya.


Tersadar sedang di acara sakral, mereka kemudian melanjutkan acara seperti pernikahan pada umumnya. Air mata kedua manusia itu tidak sanggup ditahan saat pertama kali Nuna mencium punggung tangan suaminya. Air mata semakin deras saat kening wanita itu tersentuh oleh bibir Bian. Pria itu sudah pernah melakukan ini sebelumnya, tapi entah kenapa untuk kali ini ia merasakan sensasi yang berbeda.


"Cantiknya Bian. Terima kasih sudah bersedia menjadi teman hidupku dan ibu dari anak-anakku. Nanti buat anak yang banyak, ya." Ucapan Bian itu disambut tawa oleh beberapa tamu undangan.


Nuna mencubit pelan perut suaminya. Bisa-bisanya di saat suasana haru seperti ini ia mengeluarkan kalimat candaan.


Acara berlanjut ke prosesi lainnya. Hingga tak terasa kini mereka duduk berdua di pelaminan dengan gaun yang lebih santai dan semakin membuat Bian lupa daratan. Bagaimana tidak? Wanitanya itu semakin terlihat memabukkan dan ingin sekali rasanya ia menikmati paras cantik wanita itu untuk dirinya sendiri dan tak mau membaginya pada orang lain.


Disaat Bian sedang menikmati kecantikan sang istri, Cashel datang ke arah keduanya.


"Eh anak Ayah. Dari tadi Ayah cariin tahu. Udah makan belum anak Ayah?"


"Udah, habis banyak makannya enak-enak. Aku boleh manggil Om Bian Ayah?"

__ADS_1


"Boleh dong, kan,  sekarang Cashel sekarang punya dua ayah. Ayah Arga sama ayah Bian. Harus sayang sama dua-duanya, ya."


"Iya. Nanti Ayah Arga juga mau ke sini. Kemarin bilang sama aku katanya mau datang dinikahan Ibu sama Ayah Bian. Tapi sampai sekarang belum datang-datang." Cashel memasang wajah kecewa.


"Mungkin masih di jalan."


Cashel akhrinya duduk bergabung dengan kedua orang tuanya. Ia duduk di  tengah-tengah. Kasih sayang Bian sangat nampak nyata hari ini di mata banyak orang. Pemandangan ketiga manusia yang sedang bercengkrama dengan hangat di satu kursi yang sama membuat semua mata yang melihat juga menghangat.


"Akhirnya kita melepaskan Nuna untuk yang kedua kalinya, ya, Bu. Sepertinya kali ini kita bisa melepasnya lebih tenang dari saat kita melepasnya dulu. Tidak hanya dia yang bahagia, tapi lihatlah cucu kita juga sangat bahagia."


"Iya, Yah. Ibu lega, akhirnya Nuna mendapatkan kebahagiaan setelah banyak hal yang terjadi. Mudah-mudahan seperti ini terus."


Senyum kebahagiaan rupanya tidak hanya dimiliki oleh sepasang pengantin baru itu, tapi juga kedua orang tua Nuna yang sudah sangat mengharapkan kebahagiaan anaknya dari lama.


Detik yang terus berlalu membawa suasana gedung itu semakin lama semakin sedikit tamu, karena jam juga sudah menunjukkan hampir tengah malam. Kedua orang tua Nuna sudah beristirahat di kamar mereka.


Namun, tidak untuk Bian dan Nuna yang seharusnya mereka juga sudah berada dalam kamar. Mereka masih berada di pelaminan dengan Cashel yang merajuk lantaran Arga yang tidak menepati janjinya untuk datang ke pesta.


"Sayang, tadi kamu kita udah hubungi nomer Ayah dan nggak aktif. Mungkin Ayah sedang sibuk, besok kita telepon lagi Ayah, ya. Kita tanya kenapa nggak datang."

__ADS_1


Hubungan darah yang sempat terpisah oleh jarak itu rupanya sudah kembali dekat hanya dengan waktu beberapa minggu saja. Setelah kejadian penculikan yang dilakukan oleh Bu Ningsih itu, Cashel dan Bian berhasil membuat Nuna luluh dengan mengizinkan Arga menemui Cashel kapan pun yang ia mau. Dan kedekatan mereka rupanya terjalin dengan cepat hingga akhirnya kedekatan itu membawa kekecewaan di hati Cashel karena ia merasa dibohongi oleh sang Ayah.


__ADS_2