Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
48. Dejavu


__ADS_3

Seperti biasa, Lia menghabiskan setengah harinya berada di toko baju yang ia buka sejak berada di kampung halamannya. Terkadang ia juga merasa bosan dengan aktivitasnya yang itu-itu saja, tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah mata pencahariannya.


Tak pernah ia duga sebelumnya bahwa ia kedatangan seseorang yang selama beberapa bulan ini ia cari. Ia baru saja melepas helm nya, ia mendapati seorang pria yang sedang duduk di teras tokonya. Ia mematung sejenak sebelum akhirnya melangkah cepat menghampiri Arga yang fokus dengan ponselnya hingga tak menyadari wanita yang masih menyandang status istrinya itu berada di dekatnya.


"Ar, kenapa di sini? Kenapa nggak pulang? Kamu ke mana aja, Ar? Aku kangen sama kamu." Lia menghambur hendak memeluk suaminya, namun dengan segera pria itu mengangkat kedua tangannya tanda untuk tidak mendekat.


Tangis sekaligus senyum Lia seketika buyar, ia mematung dengan tangan yang masih terentang.


"Aku ke sini mau antar ini, aku mau kita pisah. Maaf Lia, aku nggak bisa meneruskan perjalanan kita. Aku sudah menemukan tambatan hati lain yang bisa memberiku keturunan." Arga memberikan selembar kertas.


Arga merasa dejavu, tepat tujuh tahun yang lalu ia juga melakukan hal ini dan sama persis. Ia mengantarkan surat cerai untuk Nuna demi Lia. Dan sekarang, ia juga melakukan hal yang sama. Ia kembali mengirim lembaran perpisahan untuk hidup dengan wanita lain. Sangat besar harapannya ini adalah perceraiannya yang terakhir. Tak ada lagi wanita, surat cerai, dan perpisahan setelah ini.


Hari masih pagi dan cuaca juga terang benderang, tapi rasanya sekujur tubuh Lia disambar petir beberapa kali dan dihujam dengan ribuan peluru yang berhasil masuk tepat ke dalam hati dan jantungnya.


"Kamu jangan becanda, Ar. Kalau kamu mau kita ngurus anak, baiklah. Aku bersedia untuk kita adopsi anak. Anak seperti apa yang kamu minta aku akan menyetujuinya. Selama ini kamu hanya ingin anak, kan? Adopsi berapa pun anak yang kamu mau, Ar. Asal kita nggak pisah."


"Maaf, Lia. aku nggak bisa, bukankah aku sudah memberimu waktu cukup lama? Tujuh tahun bukan waktu yang singkat."


"Setidaknya kamu bisa melakukan ini untuk Ibu. Kasihan dia, Ar. Semenjak kamu pergi dia jadi sering sakit dan tidak punya semangat untuk hidup.  Kamu adalah satu-satunya yang dia punya. Bagaimana bisa kamu meninggalkan dia? Pikirkan ibumu."


Tentu saja terbesit rasa khawatir dan rasa bersalah ketika mendengar berita itu. Sebejat-bejatnya Arga, ia pun hingga kini masih mencintai ibunya sama seperti yang dulu. Hanya saja sekarang ia lebih berani untuk mengambil keputusan untuk kebahagiaan dan jalan hidupnya sendiri. Tidak melulu memikirkan ibunya yang baru ia sadari bahwa beliau terlalu egois untuk disebut sebagai seorang Ibu.


"Sampaikan ke Ibu kalau suatu hari nanti aku akan pulang. Tapi tidak dalam waktu dekat, aku ingin hidup menjadi diriku sendiri tanpa aturan dan peraturan dari siapa pun. Tolong sampaikan juga untuk selalu jaga kesehatan. Aku pergi. Terima kasih untuk tujuh tahun kebersamaan kita dan maaf jika selama aku menjadi suami, aku banyak salah dan kurangnya."


Tanpa memberinya kesempatan untuk bicara lagi, Arga pergi begitu saja. Ia seolah menulikan telinganya dari panggilan Lia yang menggema hingga gendang telinganya.

__ADS_1


°°°


"Ko, mana istrimu?" Bian baru saja bangun tidur dan langsung mencari keberadaan adiknya. Ada kesalahpahaman yang harus ia luruskan.


"Ada di kamar, masih tidur. Semalaman nggak bisa tidur mikirin Mas Bian. Dia menggerutu katanya Mas Bian berubah. Aku udah bilang kalau Mas melakukan ini juga karena nggak mau buat dia kepikiran, dianya bandel ditangisin terus. Kemungkinan masih bisa sembuh, kan Mas? Lebih baik segera di obati dari pada nanti fatal akibatnya. Mana Mas belum nikah."


Bian menepuk dahinya pelan. Ia menggelengkan kepala pelan seraya membuang napas kasar.


"Ko, ini tuh cuman salah paham. Jadi..."


Belum usai Bian menjelaskan duduk perkaranya, Bianca berteriak memanggil sang suami. Sebelum Riko benar-benar menghilang dari pandangan, Bian sempat berucap, "Ko, tolong katakan pada Bianca bahwa aku sehat. Aku tidak mempunyai penyakit apa pun. Ini hanya salah paham." Bian berharap meskipun Riko tak menggubrisnya, adik iparnya itu paham dengan apa yang ia maksud.


Bian masih terduduk di meja makan saat ponsel yang berada dalam genggamannya berdering.


"Ya, kenapa?" Sapanya tanpa basa-basi seraya menuangkan nasi ke dalam piring.


Tuuut tuuut


Karyawan yang bertugas di kasir belum usai bicara, tapi Bian yang mengerti maksud dari ucapan karyawannya segera memutus sambungan telepon dan berjalan keluar rumah lalu tergesa melajukan mobilnya. Ia tak sadar bahwa dirinya belum mengganti pakaian tidur yang masih melekat ditubuhnya. Jangankan mengganti pakaian, menyentuh air saja tidak. Hanya wajah yang sempat tersiram air saat bangun tidur tadi.


Sementara di tempat lain, Nuna dengan mengerucutkan bibirnya entah berapa senti terus menggerutu dalam hati. Bagaimana tidak? Anaknya sudah terlambat untuk pergi sekolah dan Bukan dengan santainya mempermainkan permainan konyol seperti ini. Apakah ia mengira bahwa urusannya hanya dengannya saja?


Nuna menunggu dengan gelisah, beberapa kali ia melongokkan kepalanya ke arah luar. Namun, semakin sering ia melihat halaman, semakin sering juga ia merasakan kecewa. Sementara yang sekolah hanya duduk diam dengan santainya. Padahal ibunya sudah frustasi dengan dentingan jam yang terus berjalan.


"Mbak, saya yang jamin kehidupan Mbak. Saya jamin dia nggak akan pecat Mbak. Kalau sampai itu terjadi, Mbak bisa kerja di toko roti saya nanti. Mana tasnya? Ini anak saya kalau terlambat masuk kelas siapa yang mau tangung jawab? Buruan siniin tasnya!"

__ADS_1


"Biar aku yang tanggung jawab. Yang sekolah aja santai begini kenapa kamu repot sekali?" Bian berjalan santai dan duduk di kursi sebelah Cashel.


"Udah sarapan?" tanya Bian pada anak kecil itu.


Cashel hanya menganggukkan kepala serta menjawab iya. Sementara Nuna semakin kesal dengan tingkah Bian yang menganggap remeh hal-hal penting seperti ini.


"Nggak perlu banyak basa-basi Bian! Ini anakku terlambat sekolah, cepetan suruh karyawan kamu untuk ngambil tasnya. Kalau memang kamu merasa punya masalah sama aku selesaikan sama aku, jangan bawa-bawa anakku. Ini nggak lucu, ini sama sekali nggak lucu, Bian."


"Nggak ada yang bilang ini lucu, Nuna. Aku memang sedang tidak melucu."


"Bian, kita selesaikan masalah kita sekarang juga, tapi biarkan aku mengantar Cashel terlebih dahulu." Nuna semakin hilang kesabaran.


"Bukan kamu yang antar, aku nggak mau kamu melarikan diri lagi. Mana kunci motornya!" Bian menengadahkan tangan.


Nuna hanya sedikit membuka mulutnya menahan umpatan dan makian untuk pria yang kini duduk santai di depannya. Ia tak tahu ada apa dan apa yang salah dengan pria ini.


"Nggak akan aku beri. Kamu siapa berani atur-atur aku."


"Ya udah terserah kalau nggak mau mah, nggak apa-apa. Antar aja Cashel ke sekolah dengan tas baru."


"Bukan tasnya yang paling penting, Bian. Tapi buku di dalamnya."


"Ya udah kalau begitu turunkan ego kamu. Turunin sedikit, mana kunci motornya. Aku yang antar, kalau kamu yang antar, aku yakin kamu nggak akan kembali ke sini. Buruan!"


"Memang kenapa kalau aku nggak balik ke sini? Itu hak aku, kenapa kamu jadi atur-atur aku?"

__ADS_1


"Mau meneruskan berdebat atau anakmu sekolah?"


Sialan!


__ADS_2