Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
65. Kecelakaan


__ADS_3

"Untuk apa kamu menyuruh Lita ke sini? Kamu ada urusan sama dia, kenapa harus bertemu di rumah aku? Nggak bisa bertemu di tempat lain?"


Bian menoleh, "Kamu sudah bangun? Aku, kan nggak mungkin ninggalin kamu. Makanya aku sudah datang ke sini biar bisa sekalian jagain kamu."


"Aku nggak butuh dijagain, sana kamu pergi! Ke mana Cashel?"


"Aku suruh istirahat di depan tv."


"Ya udah sana kamu pergi, aku udah nggak apa-apa. Penting banget kayaknya ketemuannya sampai nggak bisa ditunda."


"Ya memang penting. Ya udah kalau kamu emang udah baikan. Aku kalau gitu pulang dulu deh. Ini udah telat." Bian bergegas melangkah pergi dari sana.


Nuna menghentakkan kakinya kesal. Ia kini sudah tergeser dengan Lita. Ia semakin kesal disaat melihat Bian benar-benar meninggalkannya seorang diri di rumah denganĀ  berjalan terburu-buru.


Siapa sangka kekesalan yang ia rasakan itu ternyata terbawa hingga beberapa hari kemudian. Bian sudah tak serajin dahulu dalam berkomunikasi. Perhatian dan kepedulianmya masih ada, namun tak sangat terlihat seperti dulu. Nuna merasa ada yang berbeda, ia merasa sedikit demi sedikit kehilangan sosok Bian. Ia tersiksa dengan keadaan ini.


Begitu pula dengan Bian. Ia juga berusaha keras untuk menahan diri agar tak terlalu sering menjalin komunikasi agar wanita itu juga bisa merasakan rindu yang selalu ia rasakan setiap waktu.

__ADS_1


Rindu yang ia inginkan dari hati Nuna berujung merugikan dirinya sendiri. Terlalu hanyut dalam kerinduan dan lamunan saat berkendara membuat Bian kehilangan fokusnya saat berada di jalan raya. Ia mengalami kecelakaan disaat akan menuju restoran miliknya.


Tubrukan yang begitu kuat itu membuat Bian terlempar keluar dari mobil dan terguling di aspal. Darah segar berceceran di jalan yang cukup ramai itu. Ia tak sadarkan diri di detik itu juga.


Sore harinya, Nuna berlarian di lorong rumah sakit. Beberapa saat yang lalu ia dihubungi oleh Lita bahwa Bian mengalami kecelakaan. Ia tak bertanya banyak mengenai kondisi apalagi bagaimana proses wanita itu mengetahui Bian yang kecelakaan. Pikirannya tak terfokus pada apa pun kecuali keadaan Bian.


"Kamu Lita? Bagaimana kondisi Bian? Apa dia parah? Apa dia besamamu saat kecelakaan? Kenapa kamu tahu dia kecelakaan?" Nuna memberondong pertanyaan di tengah napasnya yang sudah terengah beserta keringat yang sudah membasahi dahinya.


"Kamu Nuna? Minumlah, akan aku jelaskan setelah kamu tenang." Lita memberikan satu botol air mineral.


"Bian tidak bersamaku saat kecelakaan. Aku sendiri juga mendapat kabar dari pihak rumah sakit. Pihak rumah sakit menghubungiku karena panggilan di HP Bian yang terakhir ke nomer aku. Aku udah hubungi kamu dari tadi siang, tapi kamu nggak angkat-angkat. Jadinya aku inisiatif telepon kamu pake nomer aku. Kondisi Bian kritis, benturan dikepalanya terlalu keras."


Bagai di sambar petir beberapa kali, hancur dan remuk sudah hati Nuna. Ia memang sejak tadi mengabaikan panggilan dari Bian, ia tak tahu jika laki-laki itu sedang mengalami kecelakaan. Penyesalan menyeruak ke atas dan memenuhi ruang dadanya yang membuat ia sesak.


Nuna terduduk di kursi yang berjejer di sana. Rasanya kedua kakinya tak bisa menopang lagi tubuhnya. Entah ke mana perginya tenaga dan makanan yang ia konsumsi tadi.


"Nuna, aku yakin kamu nggak tahu ini. Aku dan Bian memang dekat, tapi tidak lebih dari sahabat. Aku punya suami, bahkan suamiku juga sahabat dia. Yang menyatukan aku dan suami juga Bian. Itu sebabnya kami dekat seperti keluarga. Bian pasti ngomong macem-macem sama kamu, kan. Dia melakukan ini karena sayang sama kamu. Di bilang dia udah kehabisan cara untuk membuat meyakinkan kamu. Dia berpikir kalau kamu cemburu, kamu dekat sama aku, pasti kamu akan bilang jujur soal perasaan kamu. Aku nggak tahu kenapa Bian seyakin itu kalau kamu juga punya perasaan yang sama. Mungkin insting dia yang bilang gitu."

__ADS_1


Nuna hanya terdiam, ia mematung memikirkan Bian yang rupanya diam-diam sudah lelah dengan perjuangannya. Tanpa menyahuti ucapan Lita, Nuna berdiri dan melihat ke dalam ruangan Bian dari jendela kaca. Ada sedikit celah di sana untuk bisa melihat Bian dari luar.


Ada yang sakit dalam hatinya melihat Bian terbaring dengan banyak peralatan medis. Air matanya luruh begitu saja memperhatikan luka yang terlihat dengan mata telanjang.


Bian, aku mohon bangunlah. Aku janji begitu kamu bangun aku akan bersedia menjadi istrimu. Kamu nggak perlu berjuang lagi, melakukan hal aneh-aneh lagi. Tapi untuk menikah denganku kamu harus bangun dulu, Bian.


"Yang sabar, Nuna. Kalau hati kalian saling mencintai, aku yakin Bian bisa dengar suara hati kamu. Kamu harus yakin kalau dia akan sembuh. Aku nggak bisa lama-lama di sini, aku harus pulang. Tadi aku juga udah hubungi Bianca, tapi karena rumahnya jauh jadi mungkin baru besok dia sampai. Kamu bisa kok tinggu dia di dalam. Boleh kalau kamu masuk. Aku pulang, ya."


Nuna hanya mengangguk, sebelum pergi, Lita menyerahkan ponsel Bian yang sudah retak di beberapa bagian, namun masih bisa digunakan.


Nuna masuk ke ruangan begitu Lita sudah menghilang. Ia juga sempat mengirim pesan pada Nizar untuk bermalam di rumah sakit lantaran Bian tidak ada yang menunggu.


Dengan lelehan air mata penyesalan dan lain-lainnya, Nuna duduk di kursi dekat ranjang. Melihat Bian yang seperti ini tiba-tiba ia teringat dengan perlakuan dan tingkah manis terhadapnya. Penyesalan adalah satu-satunya rasa yang mendominasi saat ini. Betapa ia terlalu jual mahal dan tak mengerti atau memahami perasaan laki-laki itu.


"Bian, aku datang. Maaf jika aku terlalu mengulur waktu dan terkesan menjalani hubungan yang tidak jelas. Percayalah, keyakinan kamu ini benar. Aku memang punya perasaan sama kamu, aku cinta kamu juga, Bian. Kamu bangun, ya."


Entah berapa lama Nuna bicara, ia menghabiskan malam itu dengan bicara tanpa henti dengan Bian. Hingga lama-lama kepala dan matanya terasa berat. Ia meletakkan kepalanya di ranjang yang sama dengan Bian saat merasa tidak bisa lagi menyangga kepala. Tak lama kemudian dia tertidur dengan sendirinya.

__ADS_1


__ADS_2