Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
90. Pintu Hati Yang Terketuk


__ADS_3

Keesokan harinya, suasana pagi seakan turut beduka. Matahari yang biasa menyinari dunia dengan kehangatannya, kini nampak hanya bersembunyi dibalik awan mendung. Seakan kepergian Arga juga ditangisi oleh langit.


Nuna beserta seluruh keluarga yang lain turut bermalam di rumah duka. Ketulusan dan kebaikan hati mereka lah yang membawa mereka masih tetap tinggal di rumah yang penuh kenangan pahit bagi Nuna.


Proses pemakaman pagi itu berjalan lancar meski diwarnai isak tangis dan teriakan histeris dari Bu Ningsih. Bahkan beliau beberapa kali tak sadarkan diri lantaran tak kuat menerima kenyataan yang beliau hadapi, belum lagi fisiknya yang lemas lantaran tak diisi dengan benar seakan mampu membuat kondisi Bu Ningsih semakin terlihat mengenaskan.


"Nggak mau, saya nggak mau ninggalin Arga sendirian, dia takut gelap. Saya mau temani dia. Jangan ajak saya pulang. Kalian saja yang pulang," gumam Bu Ningsih seraya menepis tangan Nuna dan ibunya saat wanita itu diminta untuk pulang.


"Bu, Ibu bisa ke sini setiap hari kalau Ibu mau. Kita pulang dulu. Ibu harus istirahat, Ibu mau buat Arga sedih? Dia akan sedih kalau lihat Ibu seperti ini. Istirahatnya nanti tidak tenang. Kita kirim doa buat Arga, supaya dia juga menemukan kebahagiaan yang barangkali nggak bisa ditemukan di sini." Nuna yang bicara.


"Kamu tidak pernah merasakan menjadi saya. Mudah saja bagi kamu untuk bicara seperti itu, kamu baru akan tahu rasanya jadi saya kalau anakmu yang tiada. Lagipula tidak ada yang minta kalian untuk tetap menemani saya hingga detik ini. Nggak ada yang minta kalain untuk antar Arga sampai sini. Pergi kalian, saya akan pulang jika saya mau."


Bukan Bu Ningsih yang tidak berubah, justru hatinya sudah terketuk disaat-saat ia sedang terpuruk seperti ini. Rupanya hatinya masih bekerja dengan baik disaat beliau sedang berada di titik terapuh dan terendah.


Beliau sangat sadar dengan kebaikan dan kesucian hati Nuna dan kedua orang tuanya. Orang-orang yang pernah beliau rendahkan hingga serendah-rendahnya. Dan nyatanya, sekarang hanya merekalah yang menemani beliau dengan sepenuh hati tanpa pamrih.


Lalu ke mana perginya para tetangga yang dulunya sangat dekat bak keluarga bagi beliau? Tempat bersenang-senang dan telinga yang bisa memperdengarkan dongengannya untuk membicarakan keburukan manusia lainnya. Di momen inilah Bu Ningsih dengan sangat sadar mendengar sendiri bahwa beliau lah yang jadi bahan pergunjingan oleh tetangga yang dahulu partnernya dalam hal pergunjingan.

__ADS_1


"Lihat! Sekarang Bu Ningsih kena karma, dulu dia suka fitnah menantunya. Sekarang lihat dia sendirian, ditinggal anaknya pergi kayak gitu siapa lagi yang mau dia gunjingin? Apalagi orang yang selalu dia umbar keburukannya ada di sini. Nemenin dia sejak dari rumah sakit. Apa dia nggak malu? Dia bersandar di pundak wanita yang pernah dia hina. Saya jadi menyesal pernah percaya sama omongannya. Nyatanya yang salah dan jahat itu dia. Nuna yang jadi korban, bener-bener jahat banget mulutnya, suka nebar fitnah."


Itu adalah kalimat terpanjang dan termenyakitkan bagi Bu Ningsih. Memang benar apa yang ibu itu katakan. Beliau memang jahat dan tidak seharusnya mendapat kebaikan seperti ini. Apalagi dari orang yang pernah beliau dzolimi.


Rasa malu yang muncul tiba-tiba membuat Bu Ningsih kembali ke jati dirinya. Beliau tak mau mendapat kebaikan lebih banyak lagi. Beliau berpikir jika sifatnya kembali lagi seperti dulu maka mereka akan sakit hati dan lebih memilih untuk pergi lalu menghilangkan rasa iba.


Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka tetap bersikap baik dan tidak ada raut wajaha sakit hati dari orang-orang yang masih setia menunggunya untuk diajak pulang.


"Ya sudah, saya akan temani Ibu di sini," sahut Nuna.


"Ngapain kamu? Mau ngapain kamu di sini nemani saya?"


Bu Ningsih menghapus air matanya, baliau mulai memikirkan ucapan Nuna. Apakah benar Arga sudah bahagia?


"Mari, Bu. Mari kita pulang. Kita lanjutkan doa untuk kebahagiaan kehidupan Arga. Dia pasti akan senang melihat ibunya juga bahagia dengan kebahagiaannya." Ibu Nuna yang bicara.


"Saya akan pulang sendiri, tidak perlu antar saya ke rumah."

__ADS_1


"Arga akan marah sama kami kalau begitu, Bu. Bu, kita memang sudah tidak ada hubungan apa pun. Tapi anak yang sekarang sedang bersama saya masih mengalir dari Ibu. Ibu neneknya, Ibu masih punya kewajiban untuk nengokin Cashel sebagai gantinya Arga. Kita masih keluarga, Cashel yang sudah mengikat kita. Ibu mau tetap sehat untuk Cashel? Cuman dia yang Ibu punya sekarang, kan?" Mengarang sedikit cerita akhirnya dihalalkan Nuna untuk kebaikan Bu Ningsih juga. Tak apa lah, yang penting Bu Ningsih bisa kembali seperti sedia kala meski pasti akan membutuhkan proses yang lama. Setidaknya, ada alasan bagi beliau untuk bisa bangkit kembali.


"Saya masih boleh ketemu Cashel?"


"Kenapa tidak? Kami akan sering ke rumah. Sekarang kita pulang, Ibu istirahat. Biar bisa mewakili Arga untuk ketemu Cashel sering-sering."


Akhirnya bujukan dari Nuna membuahkan hasil. Entah berapa lama mereka berada di makam pagi itu, namun rasanya sudah terasa lama mengingat perutnya yang terasa perih.


Sepanjang perjalanan, Bu Ningsih masih terdiam meski beberapa kali menjawab pertanyaan Cashel. Anak kecil itu seolah mengerti harus menghibur sang nenek yang sedang berduka, meskipun hatinya sendiri sedang merasakan kehilangan.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah. Nuna meminta untuk mengantarkan kedua orang tuanya pulang terlebih dahulu, sementara ia dan Cashel menemani makan Bu Ningsih. Lagi dan lagi, Bu Ningsih menolak, namun jangan panggil si keras kepala ini Nuna jika ia tidak bisa membujuk seseorang untuk mengikuti kemauannya.


"Ya udah, Mas pulang dulu. Hati-hati di sini. Nanti agak siangan Mas jemput, ya. Nggak apa-apa, kan? Mau ke resto sebentar. Nanti langsung ke sini."


"Nggak apa-apa, Mas. Nanti sore pun nggak masalah. Kamu cape, istirahat dulu di rumah nggak apa-apa. Aku bisa jaga diri di sini."


Bian mengecup singkat kening sang istri lalu berpamitan pada Bu Ningsih dan Cashel. Setelah itu ia dan kedua mertuanya meninggalkan pekarangan rumah sederhana itu.

__ADS_1


"Kamu bahagia sekali sama suami mu yang sekarang."


__ADS_2