
"Tidak Bian, Cashel anakku. Dia tanggung jawabku, bukan kamu. Aku yang akan membayarnya."
Bian melengkungkan bibirnya, "Ya sudah, kamu yang bayar. Aku nggak mau debat."
Gimana caranya aku lupain kamu kalau kamu begini terus? Kamu punya sesuatu yang tidak di miliki wanita lain, Nuna. Aku jatuh cinta pada wanita yang benar kali ini.
Nuna bejalan menyusuri lorong yang cukup ramai lalu lalang beberapa orang. Tak pernah ia sangka akan berpapasan dengan orang yang tidak pernah ia inginkan untuk kembali bertemu. Kenapa dunia ini sempit sekali? Haruskah ia bertemu dengan Arga dan istrinya sekarang?
"Nuna, kamu di sini. Siapa yang sakit?"
Nuna membuang napas kasar dan, "Maaf aku buru-buru."
"Apa anakku yang sakit?" tanya Arga menghadang jalan Nuna.
"Namanya Cashel. Dia anakku. Panggil saja dia Cashel. Ada urusan apa aku di sini sepertinya itu bukan urusanmu. Dan kau juga tidak ada hak untuk menanyakan bagaimana anakku. Kau memang mantan suamiku, tapi aku tidak punya anak denganmu. Permisi!"
Nuna berjalan cepat-celat agar Arga tak tahu air matanya sudah luruh. Meskipun ia lemah jika berhadapan dengan Arga, ia ingat kata Bian untuk tidak menunjukkan kelemahannya di depan Arga. Nuna sudah sangat lelah dengan rasa sakit ini, ingin sekali ia sembuh dan melupakan segalanya. Tapi ia tak tahu caranya.
"Mas, sepertinya kamu memang harus benar-benar mengikhlaskan anakmu. Biarkan dia bahagia, meskipun kamu sangat ingin bertemu, tapi rasanya luka yang kamu beri cukup lebar dan meninggalkan bekas. Aku perempuan, aku pun akan melakukan hal yang sama jika jadi Nuna. Diakui atau tidak, kesalahan kamu besar ke dia." Istri Arga berusaha untuk mengingatkan. Berusaha sekeras apa pun nampaknya tidak akan mengubah pendirian wanita itu.
Arga hanya mengangguk, meski berat, ia akan berusaha untuk wanita yang sekarang ada bersamanya. Sudah cukup baginya kehilangan wanita yang mencintainya begitu tulus, sudah cukup Nuna yang ia sesalkan, untuk kali ini ia tak mau melepas wanita seperti Anita. Wanita yang menerimanya meski tahu betapa buruknya dirinya dan masa lalunya.
Setelah selesai dengan urusan administrasi, Nuna kembali dengan pikiran yang masih terfokus pada Arga. Jika ia bertemu pria itu di sini, apa itu artinya Arga tinggal di dekat sini? Bukankah rumah sakit ini terlalu jauh jika dari rumah Bu Ningsih? Pikir Nuna dalam hati.
"Ada apa, Nuna? Ngelamunin apa? Kamu jalan sampai nggak lihat aku, kamu lewatin aku gitu aja."
"Ha? Iyakah? Aku nggak sadar kalau nge lewatin kamu. Gimana Cashel, udah dipindah?"
"Udah, makanya ini aku mau nyusul kamu. Nanti takutnya kamu cari-cari, tapi malah kamu jalan sambil ngelamun. Kenapa?"
__ADS_1
"Aku tadi ketemu sama Arga lagi." Nuna bicara sembari berjalan.
"Terus? Apa dia melakukan sesuatu sama kamu kepikiran begitu?"
"Tidak. Hanya saja aku kepikiran kenapa Arga sampai ke rumah sakit ini? Jarak rumahnya ke sini, kan jauh banget. Bisa tiga jam lebih, kan? Apa dia pindah rumah dan tinggal di dekat sini?" Nuna bertanya pada Bian mengenai kekhawatirannya.
Sebelum Bian menjawab, ia menuntun Nuna untuk masuk ke ruangan sang anak. Memintanya untuk duduk dan minum air sebelum ia berucap apa pun.
"Apa kamu khawatir suatu saat nanti dia akan mendatangi rumahmu begitu? Itu yang kamu pikirkan?"
Nuna hanya mengangguk pelan.
"Jangan terlalu overthinking. Kamu dengerin aku, ya, dia nggak akan bisa merebut Cashel dari kamu. Kalaupun dia suatu hari nanti membawa ini ke persidangan, dia akan tetap kalah. Dia nggak akan bisa ambil Cashel dari kamu. Yakin sama aku, jangan khawatirkan yang belum tentu terjadi." Bian mengelus puncak kepala wanita itu.
Entah apa yang terjadi jika Bian tak ada di posisinya, pasti ia akan lebih khawatir dari ini. Berada di samping pria itu sungguh melegakan hati dan pikirannya. Sedikit demi sedikit membuka hati nampaknya bukan sebuah kesalahan, pikirnya.
"Cashel. Om mau nanya sesuatu boleh?" Ini adalah pertama kalinya Bian ingin bicara lebih serius pada anak kecil itu.
Saat ini mereka hanya berdua dalam ruangan. Bian sudah menantikan momen ini dari lama. Kebahagiaan yang ia berikan sepertinya akan bisa menjadi jalan baginya untuk mendapat status di mata Cashel dan ibunya.
"Apa, Om?"
"Kira-kira kalau Om jadi Ayah Cashel, Cashel mau nggak?"
Seperti biasa, anak itu tak langsung menjawab. Ia berpikir lebih dulu sebelum berucap.
"Kenapa Om mau jadi Ayah Cashel? Ayah aku aja pergi ninggalin aku."
"Kamu tahu dari mana kalau Ayah kamu ninggalin kamu?"
__ADS_1
"Nenek. Aku pernah tanya soal Ayah ke nenek dan nenek jawab kalau aku nggak punya ayah. Ayah aku nggak meninggal, tapi aku nggak punya Ayah. Ayah pergi ninggalin aku dan Ibu. Om jangan bilang ke Ibu kalau aku pernah tanya soal Ayah ke nenek, ya. Nanti Ibu sedih."
"Kamu pernah tanya soal Ayah ke Ibu?"
"Nggak. Aku cuman pernah nanya ke nenek. Aku hanya nanya satu kali habis itu nggak pernah nanya lagi. Aku takut buat mereka sedih. Om, apa aku ini nakal sampai Ayah ninggalin aku?"
Bian sampai bingung harus merespon bagaimana. Tidak seharusnya anak sekecil Cashel mengetahui kenyataan bahwa ia ditinggalkan ayahnya.
Bian sedih sekaligus bangga pada anak itu. Diusianya yang masih sangat anak-anak ia sudah bisa berpikir dewasa dengan memperhatikan dan peduli dengn perasaan orang lain. Ia rela tidak ingin tahu lebih jauh soal ayahnya karena menghargai ibunya dan anggota keluarga yang lain.
"Cashel nggak nakal kok, Sayang. Terkadang ada alasan seseorang kenapa meninggalkan dan ditinggalkan. Terkadang juga karena salah paham dan tidak adanya kepercayaan satu sama lain. Bahasa sederhananya begini. Kamu pernah salah paham sama Om karena Om marahin Ibu, kan? Kamu pasti salah paham sama Om dan mengira kalau Om ini jahat. Padahal Om marah karena ada yang salah sama Ibu. Nah karena kamu mikir Om jahat, akhirnya kamu pergi jauh dari Om, nggak mau ketemu sama Om lagi, jadi kayak gitu. Seseorang meninggalkan bukan karena nggak suka aja. Tapi kadang salah paham juga kayak yang Om contohkan tadi. Cashel ngerti nggak kira-kira?"
"Ngerti. Tapi menurut Om aku nakal apa enggak?"
"Enggak. Kamu anak pintar, nurut sama orang tua. Tidak semua anak seperti kamu. Makanya Om mau kamu jadi anak Om, mau nggak?"
"Kalau aku mau jadi anak Om. Berarti aku manggil omnya, ayah?"
"Iya. Mau nggak?"
"Ya udah aku mau. Jadi mulai sekarang aku manggil Ayah?"
Bian tertawa, "Nanti dulu, kita tanya Ibu dulu. Mau nggak jadiin Om ayahnya kamu."
"Kenapa harus izin Ibu juga?"
"Iya dong, biar kamu bisa panggil Om, ayah. Ibu sama Om harus menikah dulu. "
"Apa itu menikah?"
__ADS_1