
Akhirnya pagi itu Bianca berhasil membawa Nuna ke rumahnya. Tak ada lagi alasan Nuna untuk menolak apalagi menjauh dari laki-laki itu.
"Ca, apa kamu yakin ini tidak akan membuat Bian malu? Masalahnya penyakit Bian tidak biasa, maksudku sakitnya berhubungan dengan, aduh gimana ngomongnya, ya? Sakitnya dia bagian sensitif, kan?" Nuna menghentikan langkahnya ketika mereka sampai di depan pintu rumah megah Bian. Nuna sedikit mengabaikan itu karena perasaannya yang jujur saja sedang campur aduk.
Bianca nampak berpikir dengan pertanyaan wanita yang membuat kakaknya patah hati itu, jujur saja ia tidak terpikir sampai sana karena terlalu fokus dengan upaya penyembuhan Bian.
"Justru karena malu dia pasti nggak akan mau mengidap penyakit itu lama-lama." Bianca menggeret wanita itu untuk masuk dan memintanya untuk menunggu sejenak di ruang tamu.
Saat duduk di sofa mewah itulah Nuna baru sadar dengan rumah yang baru ia masuki. Matanya berkeliaran memandangi rumah besar Bian. Melihat ini membuatnya ingat dengan kalimat Bian sebelum ia berangkat ke negeri orang.
Masih ingat betul bahwa Bian ingin ia kembali pulang dengan cepat, ia mengatakan akan membantu mewujudkan impiannya yang membahagiakan kedua orang tuanya. Ia bersedia membantu hal itu asal dirinya kembali pulang dengan cepat dan menjadi teman hidupnya. Senyum tipis tiba-tiba tersungging di bibirnya entah untuk alasan apa.
Di tempat yang sama di bagian berbeda Bianca menghampiri Bian yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan laptop yang ia letakkan di pangkuannya.
"Mas, ada Nuna di bawah."
Bian termangu beberapa detik sebelum berujar, "Nggak usah ngelawak. Nggak lucu," ujarnya kembali fokus pada laptop.
"Ya udah kalau gitu aku suruh pulang lagi aja." Bianca berbalin badan.
__ADS_1
Wanita satu anak itu bahkan belum sempat melangkah, tapi sang Kakak sudah melesat bak angin kencang menuju ke lantai bawah. Ia hanya mencibir dalam hati dengan tingkah pria dewasa yang terkadang masih kekanakan itu.
Nuna sedang mengamati bunga yang berada di meja hias saat Bian sampai di ruang tamu. Pria itu terdiam sejenak mengamati Nuna yang sedang meraba-raba bunga mawar merah yang terpajang di sana. Dari wajahnya, Bian melihat bahwa wanita itu sedang mengagumi bunga yang Bian kumpulkan di satu vas berukuran sedang.
"Cantik bunganya?" sahutnya seraya berjalan mendekati wanita yang selalu tampil cantik itu.
Nuna terlonjak kaget. Ia menoleh ke belakang dengan sedikit gugup dan salah tingkah. Meskipun begitu, ia sembunyi kegugupanya dengan bertingkah sok elegan.
"Tahu rumah ku dari mana?" Bingung hendak bicara apa membuat Bian menanyakan hal yang tidak penting.
"Bianca. Tadi dia menemui aku di sekolah Cashel dan menjelaskan semuanya ke aku. Termasuk masalah kamu."
Nuna menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan cepat, "Kamu kenapa sih, Bian? Udah tahu kamu cuman punya Bianca, Bianca juga cuman punya kamu. Kenapa harus seperti anak kecil begini? Kalau sakit, ya diobati. Harus masih ada usaha untuk sembuh."
Bian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana tidak bingung jika Nuna membicarakan masalah penyakit seperti ini? Penyakit apa yang ia maksud? Pria itu terdiam sejenak dan beberapa detik kemudian, "Bianca ngomong apa aja sama kamu emangnya?"
"Banyak, banyak banget yang diomongin. Dia bilang kamu sakit, tapi kamu nggak punya semangat untuk sembuh, kamu nggak mau berobat. Apa yang membuat kamu seperti itu? Kenapa kamu nggak mau sembuh? Kamu masih punya masa depan, kamu sakit tapi kamu masih bisa sembuh. Kenapa kamu bertingkah seolah-olah penyakit kamu ini udah parah dan nggak bisa sembuh? Ayolah Bian, kamu ingat? Kamu dulu itu selalu mengatakan bahwa aku juga harus mencintai diriku sendiri, ingat, kan? Tapi lihat apa yang kamu lakukan sekarang. Kamu pandai menasehati orang, tapi tidak dengan dirimu sendiri."
Bian mengusap tengkuknya merasa sedikit tidak nyaman dengan obrolannya kali ini. Dalam hati ia benar-benar mengumpat dan memaki Bianca karena sudah mengatakan ini pada Nuna. Selain mengumpat Bianca, ia juga memaki dirinya sendiri karena kebohongannya ini ternyata membuat permasalahan menjadi panjang. Sungguh tidak ia sangka bahwa apa yang pernah terucap di mulutnya untuk sebuah kenyamanan malah membuatnya bermasalah di kemudian hari.
__ADS_1
"Nuna, kamu salah paham. Akan aku jelaskan duduk permasalahannya. Kamu dengar aku baik-baik, ya. Jadi aku nggak... "
"Kamu mau bilang apa, Mas? Kamu mau bilang sama Mbak Nuna kalau kamu nggak sakit? Iya begitu. Kenapa sih kamu memperpanjang masalah dengan ini? Kamu tinggal periksa pergi ke dokter, tanya apa yang harus dilakukan untuk penyembuhan kamu, setelah tahu apa yang harus kamu lakukan, ya kamu lakukan itu biar sembuh. Udah selesai, penyakit kamu ini masih bisa diobati, Mas. Berapa kali aku harus bilang ini akan lebih mudah untuk diobati ketika kamu cepat-cepat membawanya ke rumah sakit." Bianca turun dari tangga seraya mengomel dengan Shanum yang berada dalam gendongannya.
Tanpa pikir panjang Bian segera bangkit dari duduknya dan menyeret adiknya ke belakang.
"Kamu dari kemarin itu ngomongin masalah sakit, sakit terus. Udah berapa kali Mas bilang kalau Mas ini nggak sakit. Kamu itu paham sama bahasa Mas apa nggak sih? Kamu pasti dengar masalah ini dari Naya, kan? Dari awal kamu bilang Mas sakit udah Mas jelasin kalau Mas nggak sakit. Itu cuman salah paham, setelah itu Mas berusaha untuk menjelaskan ke kamu duduk perkaranya gimana. Kamu nggak pernah kasih kesempatan Mas untuk bicara, sekarang kamu diam dan dengerin Mas bicara jangan menyela."
Bian menatap adiknya untuk melihat wajah yang ingin sekali ia cakar. Sudah lama ia tidak bertengkar dengan ibu satu anak itu.
"Mas emang bilang kayak gitu sama Naya, tapi Mas bohong. Mas melakukan itu karena Mas sudah cape digangguin terus sama dia. Mas nggak suka sama temen kamu itu, benar-benar nggak suka, Mas ilfil. Tingkahnya, kelakuannya, itu udah bener-bener kayak wanita murahan tahu nggak. Makanya Mas terpaksa bohong dan bilang kalau Mas punya penyakit kanker testis itu biar dia menjauh dari Mas. Kamu lihat sekarang, berhasil, kan? Mas bener-bener tenang karena nggak diganggu sama teman kamu itu, tapi kamu malah bikin semuanya tambah runyam. Sekarang kita harus gimana? Jelaskan sama Nuna kalau kamu hanya salah paham. Bikin malu tahu nggak," protes Bian di akhir kalimat.
Bianca hanya menganga mendengar penuturan kakaknya. Ia menggigit ujung ibu jarinya bingung.
"Terus gimana? Kan nggak lucu Mas kalau aku bilang aku hanya salah paham."
"Terus mau gimana lagi? Kamu nyuruh Mas periksa ke Dokter gitu, iya? Jangan gila. Mas sekarang aja bingung ini muka taruh mana."
"Mas terusin aja sih ini. Ya mau gimana, kalau aku jujur aku hanya salah paham nanti malah Nuna ngira aku jebak dia biar ketemu sama Mas. Nanti kalau dia ngejauh dari Mas lagi gimana? Gimana sih? Mas gunakan ini buat ambil hati Nuna lagi sambil kita pikirin gimana caranya untuk meluruskan salah paham ini. Lagian Mas bohong kayak nggak ada cara lain aja sih. Mas, kan tinggal bilang punya penyakit apa kek gitu. penyakit, jan banyak. Kenapa harus testis? Bikin malu sendiri, kan."
__ADS_1
Ia juga tidak tahu kenapa harus mengatakan bahwa ia punya penyakit dibagian intim di saat ada sebrek penyakit yang bisa ia ucapkan. Bian yang semula ingin jujur jadi ragu karena mendengar ucapan Bianca. Bagaimana jika niatnya untuk jujur ini malah membuat Nuna kembali menjauh?