Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
76


__ADS_3

Sudah hampir dua hari, Cashel belum juga mendapatkan donor untuk keselamatan hidupnya. Semua orang masih berusaha untuk mendapat cairan merah yang cukup langka itu. Sementara Bian sudah melewati masa kritisnya meski pria itu belum ada tanda-tanda untuk membuka mata.


Kecemasan dan kekhawatiran akan hal-hal yang tidak diinginkan terus saja bermunculan di pikiran Nuna. Usaha dan doa sudah dilakukan, namun belum ada tanda usaha yang mereka lakukan membuahkan hasil barang sedikit.


"Nggak ada pilihan lain selain kita hubungi Arga. Ini sudah pilihan terakhir, Cashel butuh Arga untuk kelangsungan hidupnya atau kita akan menyesal selamanya." Pak Lukman akhirnya buka suara mengenai pikiran yang selama dua hari ini ingin ia utarakan.


"Aku nggak mau. Aku nggak mau kalau ini dijadikan kesempatan Arga untuk ambil Cashel dari aku, Yah."


"Nuna, selama ini Ayah nggak pernah ikut campur perihal rumah tangga kamu dan Arga yang sudah usai. Untuk kali ini dengarkan Ayah, sekali ini saja. Turunkan sedikit ego kamu biar kamu bisa terus lihat anak kamu. Harga diri kamu nggak akan runtuh dengan kamu minta bantuan Arga soal ini. Terlepas dari masa lalu kalian, Cashel nggak boleh jadi korban."


Perdebatan antara anak dan ayah itu masih berlanjut. Pak Lukman tak mempedulikan apa pun selain Cashel yang harus diselamatkan, sementara Nuna masih berharap ada keajaiban Tuhan yang bisa menyelamatkan sang anak tanpa harus menerima atau meminta bantuan mantan suaminya.


Namun apa daya, nampaknya apa yang diharapakan Nuna tidak didukung oleh semesta. Tidak ada yang bisa memutuskan hubungan darah seburuk apa pun hubungannya. Siapa sangka Arga kini sedang berjalan dengan wajah cemasnya di lorong rumah sakit yang sama dengan Cashel. Perasaan tak enak akhir-akhir ini membuat Arga menekatkan hatinya untuk bertemu kembali dengan sang anak. Tak peduli bagaimana respon ibunya Cashel, baginya melihat satu-satunya anak yang dimiliki itu akan melegakan hatinya. Ia tak tahu kenapa perasaan yang tak enak itu timbul bersamaan dan terpaut dengan Cashel. Entahlah, hanya anak itu yang terbesit dalam pikirannya.


Namun, saat Arga datang ke rumah Nuna, bukan Nuna atau anak yang ia pikirkan yang ia temui. Rumah nampak sepi dan hanya ada Nizar yang berada di rumah. Adik Nuna itu mengatakan bahwa sang keponakan mengalami kecelakaan dan di rawat di rumah sakit yang ternyata cukup jauh dari rumah Nuna. Seberapa jauh pun jarak yang ditempuh Arga, tak masalah baginya yang penting ia bisa melihat keadaan sang anak. Pada umumnya, manusia yang sudah hidup dalam penyesalan akan seperti itu, akan melakukan apa pun demi sebuah maaf dan kembalinya hubungan yang baik.


"Cashel butuh donor darah, Mas. Semua orang sudah bingung cari darah yang cocok sama Cashel." Kalimat singkat dari Nizar sungguh membuat telinga Arga berdengung di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Air matanya turut menemani perjalanannya siang itu.

__ADS_1


Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya Arga mendapati Nuna dan kedua orang tuanya yang sedang duduk di luar dengan tangisan Nuna. Ia sempat berhenti sesaat mendengar obrolan mereka.


"Yah, kita nggak tahu pikiran orang. Bisa aja dia pura-pura berubah untuk mencari celah kurangnya kita. Aku yang pernah hidup sama dia, Yah. Aku nggak mau darah dia ada dalam tubuh anakku."


Bagaikan dihantam puluhan batu besar, sungguh sakit dan sesak dada Arga. Ia pernah mendengar bahwa ia sudah mendapat maaf dari Nuna, ia sudah melupakan semuanya, tapi rasa percayanya rupanya belum kembali seperti sedia kala. Sakit? Jelas, tapi ia berusaha untuk ikhlas dan menerima, ia sadar bahwa apa yang biasa dapat hari ini adalah hasil dari apa yang ia lakukan kemarin. Namun, pantaskah hukumannya seberat ini? Lalu sekarang ia harus mundur atau tetap maju?


Tak berselang lama dokter yang tengah memeriksa Cashel dan Bian keluar dan memberitahu bahwa donor darah harus segera dilakukan paling lambat dua jam dari sekarang.


"Dokter, kenapa butuh darah banyak sekali? Tadi, kan rumah sakit sudah dapat, kenapa cari lagi?" Nuna bertanya dengan frustasi.


Tanpa ragu lagi Arga maju seolah ia tidak memedulikan apa yang baru saja ia dengar bahwa Nuna tak sudi ada darahnya yang mengalir darah sang anak.


"Saya ayah kandungnya, dok. Saya bersedia memberikan darah saya sebanyak apa pun. Tolong segera ambil darah saya."


Nuna dan kedua orang tuanya seketika mengarahkan pandangan ke samping. Rasa tak suka langsung saja menyeruak di dada Nuna.


"Tidak ada yang meminta darahmu, masih ada darah orang lain yang bisa aku beli."

__ADS_1


"Kalau begitu lakukan! Kenapa tidak kamu lakukan dari awal Cashel kecelakaan? Kenapa harus menunggu beberapa hari? Kamu pikir nyawa anakmu bisa kamu coba-coba?" Arga akhirnya geram juga atas apa yang dilakukan oleh mantan istrinya. Ia tak tahu, lebih tepatnya baru tahu keegoisan Nuna yang rupanya tinggi juga. Ia seperti tak mengenal wanita yang cukup lama menemaninya, sebegitu sakitkah luka yang ia beri sampai egonya juga setinggi ini?


"Kamu siapa atur aku? Sekali nggak tetap nggak! Aku nggak mau punya hutang budi dengan orang yang salah."


Arga tersenyum kecut, "Hutang budi? Tidak ada istilah itu di hubungan ayah dengan anaknya. Kamu mau pungkiri yang gimana lagi? Mau menolak kenyataan dengan cara apa lagi? Tolonglah Nuna, benci aku sesuka hatimu tapi jangan korbankan anakmu. Mau bunuh aku sekali pun aku nggak peduli, tapi please, jangan biarkan egomu menguasaimu dan mengorbankan anakmu. Kamu mau anakmu selamat atau tidak? Masalah mu hanya denganku, bukan pada anakmu juga."


"Jangan pernah ajari aku apa pun! Orang seperti kamu tidak pantas untuk mengingatkan siapa pun dalam hal apa pun."


"Terserah! Aku tahu kesalahan aku besar, kesalahan aku nggak bisa dimaafkan. Aku punya kesalahan besar bukan berarti kamu nggak pernah punya salah, kita sama-sama pendosa hanya dengan jalan yang beda. Tuhan saja bisa memaafkan hamba-Nya yang benar-benar bertaubat, kamu siapa menentukan aku tidak boleh mengingatkan siapa pun? Kamu dan aku sama-sama punya salah, kamu pernah aku dzolimi bukan berarti kamu bisa menghakimi aku. Aku nggak nolong kamu, aku nolong anakku, aku mau beri kehidupan buat dia. Yang bahagia siapa kalau dia masih ada di sekitar kita?"


Bungkam sudah mulut Nuna. Bibirnya terkunci rapat seolah ucapan Arga menusuk dirinya dengan perlahan. Kedua manusia itu masih saling tatap dalam ketajaman.


"Bawa saya, dok! Saya ingin menyelamatkan anak saya demi kebahagiaan ibunya."


Tes!


Satu tetes air mata menetes begitu saja. Entah Nuna menangisi apa, kekalahan dalam perdebatan atau ia marah dan kesal karena gagal mencegah Arga atau justru ia menangis karena ucapan Arga yang terakhir?

__ADS_1


__ADS_2