
Sepergian Bian, Nuna beberapa kali membuka tutup pintu untuk memastikan keberadaan orang tuanya, sudah beberapa kali ia mengecek luar ruangan, tapi kedua orang tuanya tak kunjung nampak. Untuk yang kesekian kalinya, Nuna berbalik ke ranjang dengan hati yang tak tenang karena posisinya sekarang pasti akan lebih sulit.
Baru saja hendak mendudukkan dirinya ke ranjang, pintu terdengar terbuka dari luar. Nuna seketika membalikkan badan dan berkaca-kaca melihat kedua orang tuanya yang datang dengan membawa banyak oleh-oleh dari kampung.
"Ibu, Ayah." Nuna berkata lirih dengan lelehan air mata yang sudah sukses membasahi pipinya.
Ia berjalan menjemput orang tuanya dan berlutut di kaki keduanya. Mulutnya terasa terkunci dengan sendirinya, ia merasa tak bisa mengatakan apa-apa kecuali memperdengarkan isakan yang dalam dan menyayat.
Begitu pula kedua orang taunya, mereka juga sama-sama mematung di tempat dalam waktu yang cukup lama. Hal itu membuat Nuna berpikir bahwa mereka marah dan benar-benar kecewa padanya.
"Ayah, Ibu, maafkan aku. Sungguh aku tidak..."
Sebuah tangan lalu meraihnya lengannya dan membantunya untuk berdiri. Kini ia bisa melihat linangan air mata dari sang Ayah. Dan pipi ibunya yang sudah basah. Dekapan dari sang Ayah membuat Nuna semakin terisak.
Cukup lama mereka menangis dalam tanpa sepatah kata pun penjelasan. Bibir mereka seolah sama-sama terkunci dan lebih memilih untuk meluapkan tangisan dalam beberapa saat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Ibu Nuna membawa kedua anggota keluarga itu untuk duduk. Melihat wajah Nuna yang terlihat sedikit pucat membuat wanita itu khawatir. Entah rasa apa yang lebih dominan pada wanita yang melahirkan Nuna itu. Entah rasa kecewa, marah, atau pun iba pada kondisi anaknya yang cukup memprihatinkan karena penglihatan Ibu Nuna dan Bian sama, fisik Nuna terlihat kurus untuk ukuran ibu hamil.
"Ibu, Ayah, kenapa kalian nggak bilang kalau mau ke sini?"
"Kenapa kami harus bilang? Kami ingin memberikan kejutan dan membawa beberapa hadiah untuk kelahiran anakmu nanti. Kami sudah lama tidak bertemu dengan anak perempuan kami. Apa yang terjadi, Nuna? Kamu menyembunyikan hal sebesar ini pada kami, orang tuamu?" Ayah Nuna yang berucap.
Nuna tersenyum kecut, "Kalian pasti sudah mendengar cerita dari mereka, ya? Apa kalian masih mau mendengar cerita dari aku?"
"Ngomong apa kamu ini? Mana mungkin kami percaya begitu saja dengan mereka. Kamu lupa dengan kebiasaan kami saat kamu kecil? Kamu lupa Ayah dan Ibu akan melakukan apa ketika kamu dan adikmu bertengkar sampai kamu atau pun adikmu menangis? Apakah anak perempuan Ayah sudah melupakan kebiasaan orang tuanya menyelesaikan masalah?" Ayah Nuna mengelus wajah sang anak dengan lembut.
Merasa sudah lama tak melakukan hal itu membuat ayah Nuna sedikit berkaca-kaca, beliau meneliti wajah anaknya yang ternyata sudah dewasa. Padahal beliau merasa baru kemarin memasang kain bedong di tubuh mungilnya.
"Kalau begitu kenapa masih bertanya mau mendegar cerita kamu atau nggak? Cerita sama kami, jangan takut untuk jujur. Mau kamu salah atau benar, kami tidak akan menghukum kamu dengan kemarahan. Kamu anak gadis kami, mana mungkin kami melakukan itu?"
Ayah Nuna sengaja membuat situasi yang nyaman untuk Nuna. Jika memang yang dikatakan oleh Arga adalah sebuah kebenaran, Nuna tidak takut untuk mengatakan hal sebenarnya. Meskipun resikonya kekecewaan yang mungkin tak terbendung lagi, beliau merasa lebih baik Nuna jujur meski beliau akan merasa benar-benar menjadi satu-satunya manusia yang gagal.
__ADS_1
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Nuna mulai mengalirkan ceritanya. Ia kali ini akan mendengar ucapan ayahnya dan Bian tadi. Menceritakan apa yang se benar-benarnya dan tak ada yang disembunyikan. Butuh waktu 30 menit bagi Nuna untuk meringkas kisah hidupnya menjadi lebih sederhana tanpa meninggalkan satu momen pun.
"Akhirnya, Bian memaksaku untuk di sini hingga beberapa hari. Aku tahu, dia pasti kasihan sama aku, makanya dia memaksaku untuk menuruti saran dokter. Selama aku di sini, hanya Bian dan adiknya yang selalu ada buat aku, Bu. Aku harap kalian nggak kecewa sama aku karena ini. Aku juga nggak akan nekat bekerja jika Mas Arga memenuhi kewajibannya dengan benar."
Ayah Nuna begitu murka mendengar cerita anaknya yang begitu menyakitkan. Sakit hatinya lebih dalam dibandingkan dengan mendengar kabar Nuna yang hamil diluar nikah.
Sementara Ibu Nuna kembali terisak seraya memeluk anaknya. Beliau merasa bersalah karena tadi sempat berpikir bahwa yang diceritakan Arga adalah sebuah kebenaran dan beliau sempat kecewa pada anak perempuannya.
"Sekarang kamu nggak sendirian, ada kami. Udah, jangan diingat lagi. Jangan ditangisi, anak Ayah nggak boleh keluarin air mata buat laki-laki yang tidak punya rasa percaya sama istrinya. Itu bukan laki-laki yang baik. Sudah, kamu tidak perlu membuktikan apa pun pada mereka. Nggak usah pakai tes DNA, biar nanti Tuhan sendiri yang akan buka mata dan hatinya."
Nuna menghapus air matanya dan mengurai pelukan dengan sang Ibu. Untuk urusan tes DNA, ia tak bisa mengurungkannya. Ia harus tetap melakukannya. Ia tak mau menunda sebuah kebenaran yang seharusnya diungkap dengan cepat.
"Ya sudah iya. Jangan fokuskan itu dulu. Sekarang kamu harus istirahat, sudah malam. Maaf membuat kamu harus menangis malam-malam begini. Oh, ya. Ayah mau ketemu sama temen kamu tadi siapa namanya?" Ayah Nuna mencoba untuk mengingat nama Bian tapi tak kunjung ingat.
"Bian? Ayah mau ketemu sama Bian? Ayah nggak akan marahin dia, kan? Dia yang bantu aku banyak, Yah." Nuna belum apa-apa sudah khawatir.
__ADS_1
"Nggak. Kenapa harus marah? Mau ketemu aja masa nggak boleh."
Nuna hanya mengangguk pelan. Meski pikirannya ke mana-mana, ia mencoba untuk tidak banyak bertanya.