Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
82


__ADS_3

"Ibu ngapain dari kamar situ?" Arga heran kenapa ibunya ke luar dari kamar yang tak pernah ditempati semenjak kepergian sang Ayah.


Prank!


Bu Ningsih belum sempat membuka suara, tapi suara barang pecah dari kamar kosong itu membuat Arga menatap ibunya dengan sorot bertanya-tanya.


Tak kunjung buka suara, Arga melenggang pergi ke kamar tersebut. Ia begitu tersentak saat mendapati Cashel yang terduduk di ranjang dan pecahan mangkuk beserta bubur yang berserakan.


"Cashel, kenapa kamu bisa ada di sini, Nak?" Arga berjalan cepat ke arah ranjang setelah beberapa detik tertegun di tengah pintu. Ia memegang pundak anak yang memiliki tubuh berisi itu dengan dalam dan meneliti seluruh sudut wajah anak semata wayangnya itu.


"Aku bangun-bangun udah di sini. Tolong pulangin aku ke Ibu, Om. Pasti Ibu nyariin aku," ujar Cashel polos.


Hanya Arga yang tahu betapa sakitnya mendengar dirinya dipanggil om oleh anaknya sendiri. Tidak diakui, setidaknya itulah kata yang menggambarkan dirinya sekarang. Dulu ia memberikan sakit dan sekarang ia menerima sakit yang sama.


Karma, Tuhan selalu tepat menurunkan karmanya. Rasa sakit yang dirasakan dan pembalasan dari Tuhan sakitnya sungguh diluar nalar.


Sesakit apa pun Arga detik ini, ia tak meralat ucapan sang anak. Ia membiarkan Cashel memanggilnya dengan sebutan itu. Ia merasa Cashel terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi di masa lalu.


"Iya, Om antar pulang. Om pinjam mobil dulu, ya. Kan nggak mungkin kamu naik motor."

__ADS_1


Persetan dengan bagaimana proses Cashel ada di rumahnya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana ia bisa mengembalikan Cashel pada ibunya. Dan sebenarnya ia lebih memikirkan bagaimana nasibnya kedepannya setelah ini. Pasti semua akan lebih berat dan berantakan untuknya. Pasti tidak ada lagi kesempatan untuk sekedar menyapa anaknya sendiri.


"Siapa yang nyuruh kamu anter dia ke ibunya? Ibu dengan susah payah bawa dia ke sini bukan untuk kamu kembalikan ke ibunya, Arga. Nggak bisa, nggak boleh ada yang bawa dia ke mana pun dan siapa pun. Ibu yang bawa dia ke sini. Lebih baik sekarang kamu kemasi baju dan pergi dari sini. Kita bawa Cashel pergi jauh. Kenapa kamu ini takut sekali sama Nuna? Bahkan terlalu peduli juga sama perasaannya, dia sebentar lagi menikah dan pasti akan punya anak. Belum tentu juga nanti Cashel akan terurus kalau mereka udah punya anak. Mau sesayang apa pun Bian sama Cashel, kalau udah ada anak kandung pasti akan tersingkir juga. Lebih baik dia hidup sama kita."


"Ibu, berhenti untuk berpikir buruk. Ibu kapan bisa berubah, apa yang Ibu lakukan ini merugikan aku, Bu. Berhenti bersikap bodoh sepeti ini."


"Yang bodoh itu kamu. Laki-laki nggak punya sikap tegas sama sekali."


"Kalau aku tegas, mungkin aku bisa ambil sikap saat masih bersama Nuna. Dan hidup aku nggak akan sekacau ini. Sudah, Bu. Sudah cukup Ibu mengendalikan hidup aku. Ibu tidak belajar dari apa yang terjadi kah?"


Hening sesaat. Ibu dan anak itu saling lempar tatap dalam keheningan. Sebelum akhirnya Bu Ningsih tersadar dan akhirnya menghampiri Cashel yang hanya termangu menatap keduanya bertengkar.


"Cashel, kalau Ayah nggak mau pergi sama kita, kita pergi berdua aja. Nenek yang akan urus kamu dengan baik, jauh lebih baik dari Ibu kamu."


"Kamu dengerin nenek, ya. Sebentar lagi, Ibu kamu dan Om Bian akan menikah. Kalau sudah menikah mereka akan punya anak. Otomatis kamu punya adik, kasih sayang kamu akan terbagi sama adik kamu. Tanya aja sama temen-temen kamu yang punya adik. Pasti nanti waktu dan perhatian mereka akan lebih banyak ke adik kamu."


Cashel masih baru saja berusia delapan tahun beberapa waktu lalu. Usianya masih terlalu kecil untuk menyanggah ucapan sang nenek. Tidak ada anak yang tidak khawatir dengan berkurangnya kasih sayang orang tuanya saat anak pertama memiliki adik. Tak pernah sebelumnya Cashel memiliki perasaan atau pikiran soal bagaimana jika adiknya nanti ada di tengah-tengah dirinya dan orang tuanya. Apakah benar yang dikatakan wanita tua ini?


Melihat Cashel yang terdiam dan nampak sedang berpikir membuat Bu Ningsih senang. Beliau tahu pasti dalam kepala anak itu sedang memikirkan dan mencerna apa yang beliau katakan. Sejauh tidak ada kata sanggahan yang keluar dari mulut anak kecil itu, beliau meyakini pasti perlahan beliau bisa meracuni otaknya mengendalikan Cashel seperti saat beliau mengendalikan Arga dulu.

__ADS_1


"Cashel, kamu tahu, kan kalau kamu bukan anak Om Bian. Kamu mengerti hal itu, kan?"


Cashel mengangguk.


"Kasih sayang orang lain meskipun jadi orang tua sambung akan berbeda dengan orang tua kandung. Nenek takut kalau nanti kalian sudah satu rumah malah Om Bian berubah. Bisa saja, kan kalau Om Bian selama ini cuman mau sama Ibu kamu. Nanti kalau Ibu kamu sudah menikah sama Om Bian, bisa jadi semuanya berubah. Bisa jadi nanti Om sayang sama Ibu kamu aja. Sama kamunya nggak."


"Ibu sudah cukup! Jangan racuni pikiran anakku begini, Bu. Aku nggak mau dia tumbuh menjadi seorang pembenci. Dia anakku, jangan kotori seperti itu. Ayo Sayang, kita pulang ke rumah Ibu." Bian meraih tangan Cashel dan hendak membawa anak itu pergi dari rumahnya. Namun, tangan Bu Ningsih tak mau kalah, dengan cepat wanita tua itu menepis tangan anaknya.


"Jangan harap kamu bisa bawa Cashel untuk kembali pada ibunya. Ibu nggak Rela."


"Astagfirullah Ibu. Aku harus apa sih, biar Ibu ngertiin posisi aku? Ayo dong, Bu. Aku juga mau ketemu sama Cashel, aku juga mau bareng-bareng, tapi nggak kayak gini caranya. Ini namanya misahin aku sama anakku sendiri. Ibu tolong dong, Bu. Jangan egois, jangan mikirin diri sendiri." Arga merasa frustasi dengan ibunya sendiri.


"Anakku? Jadi benar Om ini Ayah aku? Ayah yang ninggalin Ibu sendirian?"


Bagai disambar petir di tengah hujan, ia sudah sangat frustasi dan hampir menyerah dengan sikap ibunya, kini ditambah lagi dengan ucapan Cashel yang seakan menampar pipinya. Sungguh sakitnya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


"Pantesan kita punya wajah yang mirip. Jadi Om yang udah buat Ibu sering menangis?"


"Nak..."

__ADS_1


"Om tahu, dulu aku setiap pulang sekolah sering menangis diam-diam. Aku sangat iri melihat teman-temanku yang dijemput sekolah oleh ayahnya atau ibunya. Sementara aku hanya dijemput kakekku. Ada beberapa teman yang mengolok ku, aku ini anak yang tidak punya ayah, karena dalam surat kelahiranku tidak ada nama ayahku. Mereka sering mengatakan aku ini anak haram. Aku nggak ngerti anak haram itu apa. Aku nggak pernah nanya ke nenek atau kakek, karena aku takut kalau pertanyaanku membuat nenek menangis sama seperti aku ketika menanyakan soal di mana ayahku? Kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya? Aku pernah berpikir kalau mungkin saja ayah aku sudah meninggal saat aku masih di dalam perut Ibu. Tapi nenek bilang Ayah masih hidup, tapi meninggalkan Ibu dan aku. Kenapa Ayah? Kenapa ninggalin Ibu? Ibu salah apa?" Cashel bertanya dengan mulut bergetar dan mata yang sudah dipenuhi genangan cairan bening.


Sementara Arga sudah tak sanggup menahan lagi lajunya air mata mendengar cerita dari sang anak. Tidak hanya Arga, Nuna dan Bian yang diam-diam sudah masuk ke dalam rumah tak luput dari sakitnya hati saat mendengar cerita Cashel.


__ADS_2