Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
87


__ADS_3

"Mas, jujur saja aku takut dengan kedekatan Cashel dan Arga. Aku khawatir perlahan Cashel bisa hidup tanpa aku asal ada Arga." Nuna duduk di atas tempat tidur dengan memangku sebuah bantal. Kepalanya ia sandarkan pada kepala ranjang.


Bian menghembuskan napas dalam, "Ini yang nggak aku suka dari kamu. Overthinkingnya di kurangin, Sayang. Mana ada seorang anak bisa hidup tanpa ibunya? Seorang anak ditinggal mati ibunya aja patah hatinya seumur hidup. Jangan memikirkan hal buruk sedikit pun. Nanti kalau kejadian gimana? Mau kamu apa yang kamu takutkan terjadi?"


"Tapi memang pada kenyataannya ketakutanku selalu terjadi."


"Ya karena memang apa yang dipikirkan seseorang itu 90% akan terjadi. Makanya aku minta kamu untuk mikir positif. Sugesti itu penting, Sayang."


Hening beberapa saat. Tangan Bian tergerak untuk merangkul sang istri dan membawa kepalanya ke bahu lebarnya. Tak lama kemudian, pintu terdengar diketuk dari luar. Nuna dan Bian saling pandang sesaat sebelum akhirnya Bian turun dan membuka pintu.


"Cashel, kok belum tidur, Nak? Ada apa, kamu nggak bisa tidur sama Om?"


"Iya, Om nggak tahu aku ke sini. Aku boleh tidur sama Ayah sama Ibu nggak?" Bian berjongkok agar tingginya sejajar dengan sang anak.


"Boleh dong. Masa nggak boleh, ya udah masuk."


Kedua laki-laki itu lalu berjalan bersama menuju ranjang. Begitu sampai di ranjang, anak kecil itu menyampaikan apa yang membuat ia tak bisa tertidur kembali setelah beberapa saat bisa terpejam.


"Aku mimpi Ayah Arga pakai baju putih di atas awan. Aku panggil nggak mau ikut, aku mau ikut dia nggak boleh juga. Katanya mau ketemu sama bidadari dan adik aku. Emang aku punya adik, Bu?"


Bian dan Nuna saling pandang untuk kedua kalinya. Mereka bertukar pandang seolah menanyakan hal yang sama.


"Mimpi itu hanya bunga tidur, Nak. Nggak semua mimpi itu kenyataan dan akan menjadi kenyataan. Sekarang Cashel tidur, istirahat, besok kita mau jalan-jalan satu keluarga naik mobil."

__ADS_1


"Jalan-jalan? Mau, mau renang. Boleh, ya?" Cashel sedikit sumringah mendengar kata jalan-jalan.


"Boleh. Sekarang tidur dulu, tapi. Biar besok nggak kesiangan bangunnya."


Dengan berbekal kalimat besok jalan-jalan, akhirnya ketiga manusia itu tertidur. Dan tidur mereka malam itu terasa singkat saat denting alarm di ponsel Bian berbunyi dengan keras.


Jam menunjukkan pukul tujuh pagi saat ia membuka mata. Ia sedikit tersentak saat mendapati Cashel dan Nuna yang sedang tidur berpelukan. Sesaat kemudian ia teringat bahwa ia sudah menjadi seorang suami dari kemarin. Sunggingan senyum terpasang di bibir pria itu. Betapa manisnya pemandangan yang ia lihat.


Pria itu lalu beranjak dari tempat tidur, berniat ingin membersihkan diri terlebih dahulu dan membiarkan anak istrinya terbuai di mimpi yang mungkin saja indah jika dilihat dari betapa pulasnya mereka tertidur.


Bian baru saja menyambar handuk dan meletakkannya di pundak, kakinya hendak ia bawa ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Cashel yang mengigau, "Ayah mau ke mana? Jangan pergi, di sini aja sama aku. Kan Ibu udah maafin Ayah, Ibu sama ayah udah nggak ngambekan lagi, udah nggak bertengkar lagi. Kenapa sekarang malah pergi?"


Bian melipatkan keningnya mendengar ocehan Cashel saat tidur. Apa anaknya itu memimpikan hal yang sama seperti semalam? Seperti yang ia ceritakan bahwa ia melihat Arga berada di atas awan? Terkanya bingung.


"Ada apa, Nak? Kenapa kamu teriak?" tanya Nuna dengan segala kebingungan dan nyawa yang masih belum terkumpul sepenuhnya.


"Minum dulu." Bian memberikan segelas air putih dan mengelus pelan punggung anak kecil itu. "Mimpi buruk lagi, ya? Mimpi Ayah pergi ninggalin kamu kayak semalam?"


Cashel mengangguk, "Iya, Yah. Ayah udah aku panggil-panggil, tapi nggak mau berhenti."


"Memang di mimpi kamu Ayah ngomong apa?"


"Kalau yang barusan nggak ngomong apa-apa. Ayah Bian, apa Ayah Arga mau ninggalin aku?"

__ADS_1


Perasaan Bian mendadak tidak enak. Ia merasa seperti Arga sedang memberikan sebuah petunjuk atau firasat yang tidak baik. Ia menggeleng pelan untuk pikirannya yang negatif itu.


"Nggak, Sayang. Tidak akan terjadi apa pun. Berdoa aja mudah-mudahan nggak ada apa-apa, ya. Ini sekarang Cashel mandi dulu biar seger." Bian memberikan handuk yang tersampir di pundaknya.


"Mas, kamu merasa ini aneh nggak, sih? Kenapa Cashel memimpin dua hal syang sama berturut-turut?" Nuna bertanya setelah sang anak masuk ke dalam kamar mandi.


Bian menghembuskan napas berat, "Nggak tahu aku juga, perasaanku sedikit nggak enak, sih, tapi nanti aku coba hubungi Arga lah. Aku akan pastikan kalau dia baik-baik saja. Udah jangan jadi beban, ingat apa kata aku semalam. Aku sekarang suamimu, harus nurut sama aku, hm?" Bian mengelus pelan puncak kepala wanita itu.


°°°


Pukul sepuluh pagi, Pak Lukman dan yang lain pulang lebih dulu. Kini menyisakan Bian, Nuna, dan juga Cashel yang akan pergi berlibur ke puncak sebelum pulang ke rumah Bian. Sepasang suami istri itu bicara sepanjang perjalanan, membicarakan hal yang membuat Cashel teralihkan dengan mimpi buruk yang sejak semalam hadir di dalam tidurnya.


Hingga akhirnya mimpi buruk yang dialami Cashel menguap begitu saja setelah dua hari berada di puncak. Mereka bersenang-senang di sana. Tawa dan teriakan bahagia menghiasi bibir keluarga baru itu.


Hingga akhirnya tawa itu perlahan meredup ketika mendengar kabar bahwa Arga masuk rumah sakit dan dalam keadaan koma. Entah apa yang terjadi pada pria itu, Bian tidak bertanya lebih jauh dan lebih memilih untuk segera pulang dengan perasaan yang tidak karuan.


Sepanjang perjalanan, Cashel terus bertanya apa yang terjadi. Kenapa mereka pulang mendadak dan wajah kedua orang tuanya menjadi tegang.


"Ayah Arga sakit. Tadi kakek telepon Ayah, ngabarin kalau Ayah Arga sakit. Kita berdoa sama-sama biar Ayah sembuh, biar bisa main sama kamu lagi."


"Ayah sakit apa?"


"Nanti aja kita tanya kakek pas udah sampai di rumah sakit."

__ADS_1


Semua orang dalam keadan khawatir. Nuna juga merasakan hal sama, entahlah, firasatnya sudah tak enak sejak mendengar kabar dari ayanhnya bahwa mantan suaminya sedang koma. Memang apa yang terjadi sampai pria itu koma? Apa ini penyebab ia tidak datang ke pernikahannya, ini yang menyebabkan ia mengingkari janji pada anaknya sendiri?


__ADS_2