Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
56. Awal Perjuangan Bian


__ADS_3

Setelah obrolan serius itu, Bian melipir pada Cashel yang berada di ruang tengah dengan bermain mainan pemberiannya. Untuk sesaat ia terdiam mengamati anak kecil itu, wajahnya begitu mirip dengan Arga. Namun, sedikit pun pria itu tidak membencinya. Meskipun dalam hati ia benci sekali dengan ayah Cashel jika mengingat masa lalu.


Anak itu terlihat telaten menyusun puzzle-puzzle yang sengaja Bian berikan dengan berbagai jenis bentuk.


"Butuh bantuan?" tanya Bian duduk di samping anak itu.


"Aku masih bisa. Ini susah sih, tapi aku masih bisa menyelesaikannya." Cashel hanya menatap sekilas Bian lalu kembali fokus pada mainan.


Bian mencoba untuk terus melakukan pendekatan dengan anak itu meski ada sedikit perubahan dalam sikapnya. Ia ingat betul saat pertama kali bercengkrama dengan Cashel, anak itu begitu ramah dan banyak bertanya. Saat pertama kali mengantar Cashel ke sekolah saat itu ia meyakini bahwa bisa langsung bisa dekat dengan waktu yang singkat. Namun sayangnya, kebersamaan itu rupanya tak berlangsung lama dan sempat terhenti berbulan-bulan.


"Apa Cashel marah sama Om?"


"Nggak. Kenapa aku harus marah?"


"Terus dari tadi kenapa ngobrol sama Om nggak lihat muka Om. Masih sibuk aja sama mainan."

__ADS_1


"Ini kurang sedikit lagi. Nanggung. Kalau aku mau marah, pasti aku udah marah saat Om marahin Ibu sampai Ibu nangis."


"Kamu marah kalau Om marahin Ibu? Kan tadi udah Om kasih tahu kenapa Om marah."


"Iya, tapi gara-gara Om Ibu jadi sedih terus. Aku nggak suka kalau ada yang buat Ibu sedih apalagi nangis. Kakek sama Nenek selalu ingetin aku buat nggak nakal atau bikin Ibu sedih. Ibu cuman punya aku."


Hati Bian teriris mendengar deretan kalimat yang masuk ke dalam telinganya. Ia tak tahu jika amarahnya waktu itu membawa Cashel ke dalam kesalahpahaman yang tidak seharusnya. Diusianya yang sekecil itu tidak seterusnya ia mendengar sebuah pertengkaran.


"Aku kalau ada salah sama Ibu pasti aku akan minta maaf. Om nggak minta maaf? Kata Nenek kita nggak boleh melupakan tiga kata dalam sepanjang hidup kita. Terima kasih, maaf, dan tolong. Orang marah juga nggak boleh lebih dari tiga hari. Om emang nggak tahu itu?" tanya Cashel dengan polosnya.


Anak kecil itu meletakkan rumah yang sudah selesai ia susun. Tatapannya ia pertahankan di mata Bian yang juga menatapnya dalam.


"Aku nggak boleh terlalu dekat dengan orang asing."


Lagi-lagi Bian merasa ngilu mendengar penuturan Cashel. Ia tak tahu akan sesakit ini saat dianggap orang lain dan asing oleh seseorang yang begitu berharga dihatinya.

__ADS_1


"Om orang asing? Kamu nggak lihat tadi Om sama Kakek dekat? Kita akrab, kan? Masa begitu asing, atau kamu izin aja sama Kakek kalau kita jalan-jalan. Coba deh kamu izin. Kalau diizinin kita jalan-jalan, ya."


Cashel hampir saja menganggukkan kepala, tapi sebuah suara membuat perhatiannya teralihkan dan urung menggerakkan kepalanya.


"Cashel. Masuk kamar!" Tanpa basa basi lagi Nuna yang baru sampai rumah seketika memerintah anaknya untuk masuk kamar. Ia baru saja sampai rumah dan mendapati anaknya dengan Bian membuat ia sedikit terkejut dan refleks bersikap dingin. Mengingat ia sedang berjuang untuk melupakan masa lalunya.


Cashel tanpa berkata lagi beranjak dari ruang tengah dan masuk ke dalam kamar. Kebangkitan Cashel di susul oleh Bian, namun pria itu tidak ke kamar, melainkan berjalan menuju ke tempat Nuna berdiri yang tak jauh darinya.


Untuk sesaat Bian tak langsung berucap, ia meneliti wajah Nuna yang menampakkan ketidakterimaan.


"Aku nggak suka cara kamu yang seperti itu Bian. Apa maksud kamu ajak-ajak anak orang begitu? Kamu mau apa?"


"Mau ajak jalan aja kok. Kenapa harus meributkan hal kecil? Lagipula aku sampai sekarang bingung aku salah apa sampai kamu kayak gini sama aku. Aku nggak akan minta untuk jadi istriku. Aku juga nggak lagi menawarkan diri untuk jadi suamimu. Setidaknya biarkan aku melalukan apa yang aku mau. Aku cuman mau meneruskan silaturahmi yang sempat putus."


Nuna terdiam. Jangan tanyakan apa maunya sekarang. Nuna sendiri tak tahu dan tak mengerti bagaimana caranya memahami dirinya sendiri. Perasaan dan logika yang berjalan tak berdampingan membuat ia bingung dan terlihat bodoh di depan Bian.

__ADS_1


"Kalau kamu anggap kita ada masalah. Permasalahan kita cukup di aku dan kamu. Cashel jangan, kamu boleh benci aku, tapi jangan larang Cashel untuk menyukaiku. Aku tahu kamu ibunya, kamu tahu yang terbaik untuk dia. Tapi yang terbaik menurut kamu belum tentu yang terbaik untuk dia. Dan satu lagi, aku tahu kamu ibunya. Tapi bukan berarti kamu nggak pernah salah dalam mendidiknya. Kamu bisa jadi orang tua tunggal, kamu bisa jadi ibu dan ayah disaat yang tepat, tapi jangan lupa Cashel laki-laki, sosok ayah juga penting untuk dijadikan cerminan bagaimana caranya memperlakukan perempuan. Praktek lebih penting dari teori. Aku mengatakan ini bukan untuk memintamu menjadi istriku, hanya menyadarkan saja bahwa kamu tidak selamanya benar."


Bian lalu pergi dari hadapan Nuna. Sengaja ia menunjukkan sikap dinginnya seperti dulu. Ia merasa jika memperlihatkan sisi lembutnya wanita itu tak akan pernah sadar dengan perasaann


__ADS_2