
"Kamu kenal sama dia?"
Tatapan yang sesaat Bian dan Arga lempar seakan menunjukkan sesuatu di mata wanita yang saat ini sedang menjalin hubungan dengan Arga.
Entahlah, pria itu sudah seperti bebal dengan dosa atau kesalahan yang ia buat di masa lalu. Seakan tidak ada kopok dan tidak belajar dari apa yang sudah terjadi, ia hingga kini masih saja bermain dengan wanita.
Ya, akhir-akhir ini ia dekat dengan teman kantornya yang bernama Anita. Ia berniat akan menjadikan wanita single nan cantik itu tempat untuk tumbuhnya janin. Entah apa yang Arga pikirkan, ia seakan sedang dibutakan oleh keinginan untuk memiliki keturunan. Ditambah lagi dengan rongrongan ibunya yang terus mendesak untuk mengambil anak Nuna yang bahkan ia tak tahu keberadaannya, jangankan posisi Nuna sekarang, tahu nama anaknya saja tidak. Lalu bagaimana cara ia mencari anak itu? Harus pergi ke belahan dunia yang mana agar bisa menjumpai orang-orang yang pernah ada di masa lalunya?
"Nggak. Ya udah ayo masuk, udah laper." Jam makan siang belum datang, namun kedua karyawan yang sedang berada di luar kantor itu melipir lebih dulu ke restoran mewah yang belum lama dibangun, tapi sudah terkenal dan digunakan untuk beberapa pengusaha yang melakukan meeting.
Arga dan Anita kembali melangkah, dalam langkahnya itu Arga sempat terlintas di kepalanya bahwa Bian sangat berbeda dari tujuh tahun yang lalu. Mengingat Bian yang dulu membuat Arga teringat dengan ucapannya yang menggebu-gebu dalam hal membela Nuna. Ia jadi berpikir apakah Bian tahu keberadaan Nuna? Yah, minimal posisi anaknya sekarang.
°°°
Jika Arga masih sama seperti dahulu, sama halnya dengan Bu Ningsih. Wanita itu pun tak banyak berubah. Masih menyibukkan diri dengan membicarakan hal yang buruk pada orang lain. Sama seperti Nuna, Lia juga tak luput dari bahan bakar untuk menyulut beberapa orang jadi memandang wanita itu sebelah mata, sama seperti Nuna.
Hubungan beliau dengan Lia pun sudah tak sedekat dahulu, Bu Ningsih sudah tak lagi membantu pekerjaan rumah semenjak Lia keguguran. Hanya sesekali saja beliau bertandang ke rumah menantunya itu.
__ADS_1
"Ibu kalau ke sini cuman mau menceramahi aku mending udah deh, pulang aja. Sampai kapan pun aku nggak akan mau adopsi anak. Aku nggak mau merawat anak orang, membuang uangku untuk anak orang aku nggak mau."
"Ya terus maunya kamu gimana? Mau kamu seumur hidup tanpa anak? Nanti yang merawat kalian pas udah tua siapa? Ya minimal kalau nggak mau mengadopsi anak, biarkan Arga ngambil anak kandungnya dengan Nuna."
Entah sudah berapa kali Lia mendengar kalimat itu dari Ibu mertuanya. Ia sampai bosan dan jengah. Apa salahnya hidup tak punya anak. Berdua hingga tua. Jika Arga saja tak pernah meributkan soal anak kenapa wanita tua ini selalu saja membicarakan anak setiap harinya? Pikir Lia kesal.
"Aku nggak mau. Aku maunya begini, ya udah Ibu nggak usah atur-atur aku. Arga aja nggak mempermasalahkan ini, kenapa Ibu ribet sekali. Nanti kalau memang aku pengen adopsi anak, aku akan adopsi tanpa Ibu minta. Nyebelin banget, udah tua juga," gerutu Lia diakhir kalimat seraya berlalu dari hadapan Ibu mertuanya.
Bersamaan dengan tenggelamnya matahari sore itu, Bu Ningsih melangkah pergi meninggal rumah Lia dengan tak kalah kesal. Baru saja memutar tubuhnya untuk keluar rumah, Bu Ningsih sudah mendapati anak semata wayangnya yang berdiri di tengah pintu utama.
Arga pergi dari tengah pintu tanpa mendengar sahutan dari ibunya. Rasanya ia sudah sangat lelah dengan kehidupannya. Sempat terpikir dalam benaknya untuk kabur saja dari rumah dan menikah dengan Anita. Namun, statusnya yang menjadi anak semata wayang harus berpikir dua kali jika ingin melakukan itu. Otaknya masih cukup waras dan masih bisa digunakan untuk berpikir bagaimana dengan ibunya jika ia benar-benar pergi.
Namun rupanya, pertahan Arga pada pemikiran itu akhirnya menyerah satu bulan kemudian. Tanpa diketahui oleh istri dan ibunya, ia pergi meninggalkan rumah. Atas persetujuan Anita, pria itu akan menikahinya secara agama. Untuk melakukan itu, ia harus kabur terlebih dahulu, bukan?
Arga sebenarnya tak ingin seperti ini, jika saja Lia mau mengikuti satu saja keinginannya untuk memiliki anak dengan cara adopsi, Arga tak akan melakukan hal sekeji ini.
Ya, keinginannya untuk memiliki anak sebenarnya sama besarnya dengan ibunya. Tapi ibunya yang terus menerus merongrong dan seakan tak memberi pengertian padanya membuat ia juga ikut jengah. Ia sudah bertahun-tahun memendam keinginan untuk menghargai Lia dan barangkali suatu saat nanti istrinya itu bisa berubah. Namun, selama hampir tujuh tahun bersama tak ada sama sekali perubahan. Hidup dengan keinginan yang tidak terkabulkan ditambah ibunya yang terus menekannya membuat Arga kembali melangkah ke jalan yang salah.
__ADS_1
°°°
"Nek, sebentar lagi Ibu jadi pulang, kan? Aku mau nanti kalau berangkat sekolah kayak teman-teman yang lain di antar ibunya ke sekolah. Aku udah kangen sama Ibu," ujar Cashel seraya menyantap makan paginya.
Anak semata wayang Nuna tumbuh dengan baik dan menjadi anak cerdas di bawah asuhan keluarganya.
"Iya. Ibu sebentar lagi pulang. Makanya kamu harus jaga kesehatan, makan yang banyak. Biar Ibu makin bahagia lihat kamu makin gemuk."
Dengan semangat anak laki-laki yang baru kelas satu SD itu memakan lahap sarapannya. Ia tak pernah kekurangan apa pun meski dibesarkan tanpa sosok Ibu dan ayah yang hingga kini tak ia ketahui siapa namanya. Pernah sekali Cashel bertanya mengenai ayahnya, namun jawaban dari sang Nenek cukup membuatnya bungkam hingga sekarang.
"Cashel nggak perlu Ayah, hidup kamu sudah cukup sempurna dan bahagia tanpa Ayah. Kamu nggak punya Ayah, Nak. Ayah kamu sudah lama pergi. Bukan meninggal, tapi memang Ayah meninggalkan kita semua. Meninggalkan Ibu, meninggalkan Cashel, jadi Cashel nggak perlu punya keinginan untuk ketemu sama Ayah, ya. Suatu saat nanti jika kamu sudah dewasa, maka kamu akan mengerti arti dari meninggalkan. Jadi sekarang nikmati kehidupan kamu sama kami, ya."
Semenjak hari itu, Cashel tidak lagi bertanya mengenai ayahnya. Ia akan menjawab dengan jawaban yang seperti neneknya lontarkan ketika ada teman yang bertanya mengenai ayahnya.
Seperti biasa, dengan motor anak bungsunya, Ayah Nuna mengantar cucu satu-satunya itu hingga gerbang sekolah.
Tanpa disadari, motor dan mobil yang ditumpangi Bian berpapasan di dekat sekolah Cashel.
__ADS_1