
Pak Lukman dan istrinya berlarian di lorong rumah sakit. Mendengar kabar anak dan cucunya beserta calon mantunya mengalami kecelakaan parah membuat kedua orang tua itu panik bukan main. Beberapa tetes carian bening bahkan sudah membasahi pipi wanita yang melahirkan Nuna 29 tahun yang lalu.
"Yah, itu Nuna. Itu Nuna, kan? Astaghfirullah, Na. Bagaimana keadaan kamu?" Ibu Nuna berlarian menuju tempat duduk anaknya yang tak jauh darinya. Beliau ingin menyentuh wajah Nuna, namun kepalanya yang dilingkari perban dan ada terdapat beberapa luka di bagian wajahnya membuat beliau urung melakukannya.
Nuna seketika memeluk ibunya saat wanita itu duduk di samping Nuna. Dengan menahan perih pada lukanya yang terbuka ia menangis tersedu di bahu sang Ibu.
"Ada yang sakit? Mana yang sakit? Kasih tahu Ibu. Kamu kenapa duduk di sini? harusnya kamu mendapat perawatan." Ibu Nuna nampak khawatir.
"Jangan nangis, Nak. Ini lukamu terbuka, bisa perih," sahut Pak Lukman yang sebenarnya dalam hatinya bertanya-tanya ke mana dan bagaimana keadaan cucunya dan juga Bian.
"Ibu, Ayah, gimana aku nggak sedih. Cashel sama Bian masih di tangani dokter. Dokter bilang mereka mengalami luka parah. Udah setengah hari kami di sini, tapi dokter belum selesai juga." Nuna seakan tidak peduli dengan wajahnya yang mengalami luka lecet di beberapa tempat. Ia terus mengeluarkan air matanya meluapkan kesedihan yang ia rasa.
Dua orang yang berada di dalam ruangan sedang berjuang. Entah luka apa dan bagian mana yang membuat dokter mengatakan bahwa mereka luka parah dan membuat keduanya belum selesai ditindak meski hari sudah hampir malam.
"Sudah, kita berdoa saja yang terbaik, mereka kuat, Na. Pasti mereka bisa melewati ini." Pak Lukman duduk di samping anaknya yang sedang merebahkan kepalanya bersandar pada bahu nyaman sama Ibu.
__ADS_1
Sepersekian menit berlalu, pintu UGD terdengar terbuka dari dalam. Di detik berikutnya memunculkan satu dokter dan satu suster yang memegang sebuah papan dada di tangannya.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya dan calon suami saya?" tanya Nuna tanpa basa basi.
"Pasien mengalami benturan yang cukup keras. Terlempar dari dalam mobil dan jatuh di aspal membuat keduanya sama-sama mengalami luka dalam dan luar, ditambah lagi mereka sedikit terlambat mendapat penanganan hingga akhirnya darah yang keluar cukup banyak apalagi yang kecil. Kami sudah menangani semuanya, baik luka dalam dan luar. Keduanya saat ini masih kritis dan butuh transfusi darah. Yang jadi masalah adalah darah anak Ibu cukup langka di sini, dan kami tidak punya pasokan darah AB-. Kami akan tetap berusaha untuk mencari golongan darah tersebut, tapi kalau bisa, Ibu dan keluarga juga membantu untuk mencari agar pasien juga mendapatkan penanganan yang cepat."
Nuna terduduk di lantai dengan lemas, ia tak cukup tenaga untuk bersikap tegar dalam kondisi yang membuatnya lemas. Perutnya yang tadi siang terasa perih lantaran lapar kini digantikan dengan perihnya hati yang membuatnya ingin menukar dirinya sendiri dengan Bian dan Cashel.
"Tapi mereka akan baik-baik saja, kan, dok?" Pak Lukman ikut terpukul dengan kabar yang ia dengar.
Nuna semakin terisak dalam dekapan ibunya. Tak ada suara histeris atau raungan kesedihan, yang terdengar hanya isakan Nuna yang membuat hati kedua orang tuanya juga terluka.
"Ayah coba hubungi teman-teman Ayah untuk cari darah yang sama seperti Cashel. Ibu bawa aja Nuna ke dalam ruangan, siapa tahu dengan hadirnya Nuna bisa membuat mereka lebih kuat." Pak Lukman membantu anak istrinya untuk berdiri.
Nuna memaksa dirinya untuk kuat dan berani masuk ke dalam ruangan anak dan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi imamnya. Pikiran bahagia yang sebentar lagi ia akan menjadi pengantin musnah begitu saja, ia tak sempat memikirkan itu lagi, pikirannya sudah penuh dengan ucapan dokter yang baru saja berujar mengenai kondisi dua laki-laki yang menjadi sumber kebahagiaannya.
__ADS_1
Nuna kali terisak dalam diam setelah beberapa detik berusaha menahan lajunya air mata. Melihat Bian dan Cashel yang tertidur berjajar seperti ini membuat hatinya terluka. Luka yang menyakitkan lebih dari lukanya saat ini dan juga luka yang diberi oleh Arga. Sungguh ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan dengan apa pun yang sudah ia alami.
"Nuna Ibu tahu kamu pasti nggak terima dengan keadaan ini. Ibu tahu ini sangat berat, tapi kami harus kuat untuk mereka. Meraka butuh support dari kamu untuk bangun. Ibu yakin Bian dan Cashel nggak suka lihat kamu kalau dalam keadaan begini. Kuat untuk mereka, Nak. Kamu sumber kekuatan mereka." Ibu Nuna juga sama terpukulnya melihat calon mantu dan cucunya yang terbaring tak berdaya di atas brankar, ditambah lagi dengan perintilan alat rumah sakit yang menempel di tubuh mereka membuat Ibu Nuna tak sampai hati untuk melihat lebih lama.
Namun, apalagi yang bisa beliau lakukan selain berusaha untuk kuat dan tegar. Melihat Nuna yang sudah begitu rapuh tak mungkin beliau menunjukkan kesedihannya juga. Siapa yang akan menguatkan anaknya, begitu pikirnya.
Nuna dan ibunya duduk diantara kedua brankar yang berisi Bian dan Cashel. Mata sembabnya menatap keduanya bergantian. Betapa hancurnya hatinya saat ini melihat kedua laki-laki yang sedang terbaring tak berdaya dengan beberapa luka yang menghiasi badan dan wajah mereka.
"Nuna, berusaha untuk kuat, Nak. Beri kekuatan mereka." Ibu Nuna menghapus air mata yang terus menetes membuat basah pipinya.
Nuna hanya menganggukkan kepala tanda mengeerti. Untuk sesaat ia bingung harus bicara pada siapa terlebih dahulu. Seakan mengerti dengan kebingungan Nuna, sang Ibu tergerak untuk berjalan mendekati ranjang Cashel.
Nuna menatap Bian dengan tatapan sendu. Ia pernah melihat Bian dengan kondisi seperti ini sebelumnya. Tapi tidak separah sekarang, meskipun begitu, seharusnya ia sudah kuat dan percaya bahwa laki-laki itu pasti akan bertahan untuknya. Namun, yahh terjadi justru sebaliknya.
Dengan berusaha sekuat tenaga untuk tegar, Nuna memaksa bibirnya untuk ia tarik ke atas, "Kamu pernah berada di posisi ini, aku yakin kamu pasti akan bisa bertahan apalagi kamu janji mau membuat pesta pernikahan yang mewah dan seperti yang aku inginkan. Harinya sudah dekat, Sayang. Kalau kamu nggak bangun juga aku gimana? Kamu mau buat aku sedihnya dua kali lipat? Bangun, ya. Nggak apa-apa pernikahan kita mundur, yang penting kamu bangun dulu. Aku cuman mau kamu bangun." Nuna menguatkan hatinya untuk menggenggam jari jemari panjang Bian.
__ADS_1
"Aku minta maaf sudah tidak mengindahkan keinginan kamu untuk melihat aku pakai gaun yang kita rancang sendiri. Kamu boleh hukum aku, tapi jangan hukum aku dengan cara begini. Bangun, Bian." Nuna meletakkan tangan Bian di pipinya dan memeluk tangan kekar itu dengan erat.