
"Ya Tuhan. Kenapa sakit sekali?" Nuna berlutut di lantai dengan dahi yang mulai berpeluh.
Sebuah tangan menyentuh lengan sisi kiri dan kanan wanita itu. Ia menoleh ke samping dan melihat Bian dengan air muka yang berbeda.
"Kau sakit?"
"Perutku. Ahhh." Nuna semakin mengeratkan cengkeraman. Tak berselang lama, ia merasa kaki bagian atasnya menghangat.
"Darah. Astaga, Bian tolong aku. Tolong bawa aku ke bidan. Tolong selamatkan anakku. Aku mohon." Rintihan menahan sakit kini berubah menjadi tangisan.
"Kau hamil?"
Bian refleks membawa Nuna ke dalam gendongannya dan membawanya ke puskesmas terdekat dengan berlari. Puskesmas yang kebetulan tidak jauh dari kedainya membuat mereka sampai di sana dengan cepat.
Tak ada perbincangan apa pun selama dalam perjalanan ke Puskesmas. Hanya terdengar rintihan dari Nuna yang sesekali membuat Bian semakin khawatir. Dalam hatinya, sebenarnya Bian merasa kesal dan marah pada wanita itu. Mengapa Nuna tidak jujur dari awal jika ia sedang mengandung. Dari kejadian ini, ia merasa menjadi manusia yang jahat jika terjadi apa-apa dengan janin wanita itu.
"Bagaimana? Apa kandungannya baik-baik saja?" Bian bertanya setelah wanita itu mendapat penanganan.
"Bu Nuna sudah saya beritahu untuk tidak bekerja terlalu lelah. Tidak boleh beraktivitas terlalu berat yang bisa menimbulkan lelah hebat. Baru beberapa hari yang lalu saat periksa saya beritahu. Dan sekarang malah terjadi benturan. Bapak suaminya, kan? Untuk kali ini janin kalian selamat. Tolong lebih hati-hati, ya Pak. Permisi."
Suami? Janin kami? Bedebah macam apa ini. Dasar wanita bodoh. Kenapa dia mengorbankan janinnya dengan bekerja.
Bian yang merasa kesalnya lebih tinggi dibandingkan dengan iba atau rasa bersalahnya, masuk ruangan dengan membuka pintu kasar. Ia tak tahan jika tak memberikan amukan pada wanita itu.
__ADS_1
Namun, saat melihat Nuna yang berbaring dengan wajah pucatnya, perlahan-lahan kesal dan amarahnya menurun hingga puluhan detik kemudian hilang.
"Kenapa nggak ngomong kalau kau sedang hamil? Kau pikir ini akan jadi hal yang lucu ketika terjadi apa-apa dengan kandunganmu?"
"Kau khawatirkan aku?"
"Pemikiran dari mana ucapan mu itu? Aku sama sekali tidak mengkhawatirkanmu, tapi masalahnya kau sedang bekerja denganku. Aku akan menjadi manusia jahat jika sampai janinmu itu tidak bisa diselamatkan." Emosi Bian yang sempat mereda kini kembali bangkit.
Nuna lalu bangkit dari berbaring dengan pelan. Ia sandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan tetapan kosong yang menatap pintu yang tertutup rapat.
"Aku melakukan itu pasti ada alasannya, Bian. Aku butuh pekerjaan, kalau aku jujur aku sedang hamil, aku takut kalau kau nggak terima aku kerja di kedaimu."
Jawaban dari Nuna membawa Bian ke dalam pikiran yang negatif. Ia butuh pekerjaan di saat hamil seperti ini apalagi jika bukan hamil tanpa suami. Mata pria itu masih menatap ke arah yang sama, yakni wajah pucat Nuna dan guratan lelah terlihat dari wajahnya. Ia sengaja diam hanya untuk mendengar lanjutan cerita dari wanita itu.
"Aku punya suami, Bian. Tapi aku memilih untuk bekerja karena ada sesuatu yang aku nggak mungkin jelaskan. Aku minta maaf, ya. Aku nggak jujur dari awal dan aku nggak tahu kalau apa yang aku sembunyikan menimbulkan masalah." Nuna merasa bersalah dan menundukkan kepala. Seperti biasa, ia terlalu takut untuk menatap Bian jika sedang kesal.
"Kau sadar tidak? Kalau pun kau tidak jujur, lambat laun kau akan kelihatan kalau kau sedang hamil. Apakah kau berpikir bahwa kau hamil perutmu akan begitu terus sampai kau melahirkan? Dasar bodoh!"
"Ya maksudku, aku akan cerita kalau perutku ini sudah sedikit membesar. Aku juga nggak akan mungkin nutupin ini darimu terus. Aku nggak bodoh, Bian. Kenapa kau selalu mengolok aku seperti itu?" Nuna protes dengan sedikit berteriak.
"Lihat ini! Kau bodoh, tapi tidak mau dikatain bodoh. Kau saja hampir kehilangan janinmu dan sekarang kau bicara berteriak. Kau tidak takut kalau janin itu keluar karena teriakanmu itu."
Nuna dengan perlahan membuang muka ke arah samping. Ia berpikir dengan masuknya ia ke puskesmas akan membuat Bian sedikit berperilaku baik. Setidaknya tidak terus menerus mengolok ia bodoh.
__ADS_1
Dalam hati pun Nuna merutuki dirinya sendiri. Ia berpikir setelah ini pasti tidak akan diizinkan untuk kembali bekerja.
"Bian, aku masih boleh kerja di kedaimu, kan?"
"Nggak!" Bian menjawab dengan tegas dan tanpa pikir panjang.
"Pikirkan sekali lagi, Bian."
"Apa kau sudah gila? Aku tidak sejahat itu dengan mempekerjakan wanita hamil. Sekarang aku tanya padamu. Suami mu tahu kau bekerja? Aku yakin tidak. Dia pasti akan melarangmu jika dia tahu kau bekerja. Kau tunggu di sini, aku akan kembali ke kedai dan mengambil tasmu, menghubungi keluargamu supaya kau dijemput di sini."
Bian memutar tubuhnya dan berjalan keluar. Ia tak sadar Nuna dengan tertatih seraya memegangi perutnya sedang berusaha untuk mengejar. Padahal telinganya masih dengan jelas mendengar namanya dipanggil, namun ia sengaja mengabaikannya karena ia merasa Nuna sudah keterlaluan. Ini termasuk penipuan menurutnya.
Bian berhenti berjalan ketika ia sudah di luar ruangan. Panggilan dari Nuna yang seperti mengikuti langkah kakinya membuat ia terhenti dan berbalik.
"Dasar bodoh!" Sekali lagi, Bian mengolok dengan pelan. Meskipun pisau kalah tajam dengan ucapannya, Bian tetaplah manusia yang pasti memiliki sisi baiknya. Meskipun sisi itu ia tunjukkan dengan cara yang terlihat kejam.
"Kau tidak punya otak atau bagaimana? Aku tidak mengerti kenapa Tuhan menitipkan bayi padamu. Wanita yang tidak bisa berpikir dengan otaknya. Siapa yang menyuruhmu berjalan mengikutiku? Kau mau terjadi apa-apa dengan calon anakmu? Pikirkan anakmu, jangan dirimu sendiri saja!"
Suara omelan dari Bian mendapat respon tatapan dari beberapa orang yang berada di puskesmas. Mereka tidak sadar bahwa beberapa orang mengalihkan perhatian ke mereka. Termasuk satu wanita yang sangat mengenal Nuna.
"Aku ... aku hanya minta jangan kabari suamiku. Iya benar, dia nggak tahu aku kerja. Aku mohon jangan beritahu dia. Aku akan keluar kedai, aku nggak kerja di kedaimu. Aku akan pulang. Aku minta maaf." Nuna sedikit berkaca-kaca saat mengatakanya.
"Hm. Aku maafkan, tapi jangan sampai suamimu datang padaku untuk memakiku, aku di sini juga korban atas penipuan yang kau lakukan. Masuk sana, jangan jalan-jalan. Itu pun jika kau peduli dengan calon anakmu."
__ADS_1
Bian melanjutkan langkah yang sempat ia paksa untuk berhenti. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia mendengar Nuna yang bicara dengan seseorang. Ia refleks berbalik kepala dan ia dapati Nuna yang sedang berhadapan dengan seorang wanita. Tak ingin tahu siapa dan ada hubungan apa keduanya, ia memilih untuk kembali ke kedai.