
Dari sekian banyak minggu yang terlewat, Bian masih belum punya ruang dan celah untuk memberikan Nuna kelapangan hati agar mengizinkan anak dan Ayah itu bertemu. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, tak ada niatan untuk berpihak pada salah satu diantara mereka apalagi merugikan salah satu sisi. Sungguh ia tak ada maksud untuk begitu, hanya saja ia ingin semua damai, ia ingin Nuna juga hidup dengan tenang.
Ya, semenjak Arga datang beberapa minggu yang lalu, hidup Nuna kembali tidak tenang. Ia jadi sedikit paranoid dengan keamanan Cashel. Sudah berkali-kali Bian jelaskan bahwa ia tidak perlu khawatir apalagi takut Arga atau Bu Ningsih merebut anak kecil itu darinya.
Pagi ini sepasang calon suami istri akan melakukan fitting gaun pengantin, sengaja mereka nengurus apa pun di hari libur agar Cashel juga ikut serta dalam proses acara besar ibunya. Ketiga manusia itu berhenti melangkah menuju mobil ketika Bu Ningsih datang dengan berjalan tergesa-gesa di usianya yang tidak lagi muda.
"Nuna, kamu jadi perempuan memang tidak tahu diri, ya. Arga mau ketemu sama anaknya aja nggak kamu izinin. Kamu pikir kamu siapa? Nggak ada Arga kamu nggak akan punya Cashel. Dasar nggak tau diri." Bu Ningsih bahkan belum sampai di hadapan Nuna, tapi wanita tua itu sudah berteriak-teriak dan sukses mengalihkan perhatian para tetangga yang sedang berada di luar rumah.
Nuna menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan cepat. Ia berusaha untuk tidak terpancing emosi kali ini.
"Ibu yakin Cashel anak Arga? Yang bilang dulu anak yang aku kandung anak Bian siapa? Yang dulu fitnah saya perempuan murahan siapa? Semua yang ada di diri saya murah. Lalu kenapa Ibu menuntut sesuatu yang melekat di diri saya? Cashel lahir dari rahim saya, wanita yang Ibu benci tanpa alasan." Tidak ada nada tinggi di kalimat Nuna. Semua ia katakan dengan pelan, namun penuh penekan. Cukup dengan menyuguhkan kalimat santai tapi menyakitkan sudah cukup membuat Bu Ningsih mati kutu.
Bu Ningsih diam seribu bahasa, kalimat dari Nuna sekan menampar pipinya tanpa sentuhan. Beliau sedikit malu saat bola matanya berkeliaran ke sekitar. Beliau baru sadar bahwa ada beberapa tetangga Nuna yang menyaksikan drama antara mantan menantu dan wanita tua itu.
"Berani kamu lawan saya, ya. Mau saya punya salah apa pun nggak akan merubah kalau Cashel adalah cucu saya. Saya dan Arga ada hak atas anak ini."
"Jujur saja saja, saya sangat bosan dengan kalimat Arga ada hak atas Cashel. Saya tahu itu, tapi sayangnya saya nggak mau beri hak dia. Apalagi beri hak Ibu. Maaf, sampai kapan pun saya nggak akan beri secuil pun hak kalian atas anak saya. Ibu tidak malu bicara seperti itu di depan saya? Jangan pikir saya lupa dengan apa yang Ibu berikan ke saya selama saya menjadi menantu Ibu. Gara-gara Ibu saya tidak mendapatkan hak saya sebagai istri. Jadi jangan harap saya tidak melakukan hal yang sama seperti yang Ibu lakukan. Resapi apa yang salah di diri Ibu sebelum meminta hak."
Bu Ningsih mengangkat tangannya dan hampir melayangkan sebuah tamparan. Namun, belum sampai tangan wanita tua itu sampai di pipi Nuna, tangannya sudah di cekal oleh Bian. Pria itu dengan jalangnya menatap Bu Ningsih.
__ADS_1
"Saya dari tadi sengaja diam mendengar Anda memaki calon istri saya. Karena saya menghormati Anda sebagai seorang wanita dan orang tua. Tapi perlu Anda tahu, saya tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk menyentuh calon istri saya apalagi dengan tangan kasar."
Bu Ningsih menarik tangannya kasar. Cekalan dari Bian yang cukup erat rupanya menyakiti pergelangan tangan wanita tua itu.
Wanita yang sedang mengincar cucu kandungnya itu tersenyum licik, "Oh, sama-sama penjahat sedang bersatu untuk mendzolimi anak saya. Kita lihat siapa nanti yang akan menang. Kita lihat siapa yang menjadi pemeran utama dari drama yang kalian buat. Tertawa selagi kalian bisa, sekali saya buat kalian menitikkan air mata, selamanya kalian akan kehilangan tawa." Bu Ningsih menatap tajam Nuna dan Bian.
Tatapan tajam itu berubah menjadi hangat ketika Bu Ningsih mengedarkan pandangan ke arah Cashel.
"Anak manis, lain kali kita akan bertemu lagi, ya. Pasti kamu belum kenal sama saya. Saya adalah Nenek kamu yang...."
"Cashel, masuk mobil!" pinta Nuna tegas.
Anak kecil itu tentu saja langsung menuruti perintah ibunya. Ia sedikit takut dengan peringai ibunya yang selama ini tidak pernah ia lihat. Tatapan ketegasan bercampur amarah terlihat jelas dan itu menakutkan bagi Cashel.
"Dasar wanita tidak tahu sopan santun."
"Kalau saya tidak punya sopan santun Ibu sudah saya seret dari tadi tanpa memberikan kesempatan untuk memakai saya. Lagipula kalau Ibu bilang saya tidak punya sopan santun , saya harus menyebut Ibu apa?" Nuna masih bicara dengan nada santai.
Respon dan pemilihan kata yang diucapkan Nuna sungguh membuat Bian kagum. Ia bangga melihat istrinya yang bisa melindungi dirinya sendiri, tidak seperti dahulu yang terlihat sok kuat meski dirinya lemah. Kini ia sudah melihat calon istrinya itu sudah kuat luar dalam. Ia bisa menjadi tameng untuk dirinya sendiri tanpa banyak bantuan dari orang lain.
__ADS_1
"Saya bersumpah akan membalas perbuatan kamu hari ini Nuna!"
"Saya tunggu, Bu. Kapan pun saya siap. Kita lihat saja, tangan Tuhan yang bekerja lebih dulu atau tangan Ibu. Ayo, Sayang. Kita harus pergi ke butik untuk fitting, kan? Tidak seharusnya kita buang waktu di sini, persiapan pernikahan yang kamu buat mewah itu harus dipersiapkan dengan cepat. Terima kasih sudah membuat pernikahan seperti yang aku inginkan."
Perkataan dari Nuna membuat Bu Ningsih panas. Apalagi gelagat yang di tunjukkan wanita itu sangat terlihat mengejeknya.
Sementara Bian hanya mampu termangu, mendengar kata panggilan sayang dari Nuna membuat ia seperti sedang tidak menapak tanah. Sebuah geretan dari tangan mungil Nuna akhirnya menyadarkan lamunan Bian.
"Kamu tadi panggil aku apa?" Bian bertanya setelah dirinya masuk dan menutup pintu mobil.
"Nggak ada siaran ulang."
"Khusukan untukku, siarkan sekali lagi saja. Aku janji tidak akan memintanya lagi," rengek Bian mendekati Nuna.
Wanita itu hanya menahan senyum seakan lupa apa yang terjadi barusan. Pikirannya yang bertambah khawatir dan cemas seakan ia lupakan sebentar.
"Mau minta setiap hari juga boleh."
"Ya sudah lakukan. Kenapa dari tadi berbelit-belit?"
__ADS_1
"Ibu, Om sampai kapan kalian ngobrol? Udah keburu siang. Aku nggak sabar mau cobain baju kembaran kayak Om."
Kalimat selaan dari Cashel membuat keduanya terkejut dan saling menjauh satu sama lain.