Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
69. Pelajaran Kehidupan


__ADS_3

"Arga, apa yang terjadi?" Bian menyentuh pundak Arga dengan lembut. Pria itu masih menyembunyikan wajahnya di balik kedua lutut yang ia tekuk.


Arga mengangkat wajahnya begitu mendapat sentuhan di pundaknya. Mata dan wajah yang sembab tak bisa membohongi Nuna dan Bian bahwa ia begitu terpuruk hari ini.


"Kalian, kalian ada di sini? Apa yang terjadi padamu, Bian?" Arga bertanya seakan dirinya mengenyampingkan kesedihan dan dukanya. Tangannya mengelap pipi yang sudah basah oleh air mata. Matanya terasa panas karena beberapa hari ini ia menangis dalam diamnya.


"Aku kecelakaan. Harusnya kami yang bertanya padamu. Apa terjadi sesuatu? Duduklah di kursi. Biar enak kita ngobrolnya."


Arga memaksakan dirinya untuk bergerak dan duduk di kursi panjang khas rumah sakit yang tak jauh darinya. Setelah itu Nuna memberikan sebotol air mineral untuk pria itu.


"Dengar Arga, aku tak tahu apa yang terjadi dan menimpamu. Aku tadi nggak sengaja lihat kamu di sini dan menangis. Apa pun yang terjadi, bersabarlah." Bian yang bicara.

__ADS_1


"Aku nggak tahu caranya sabar, Bian. Aku kehilangan orang yang dua orang sekaligus dalam satu waktu. Aku sudah banyak kehilangan orang-orang di sekitarku. Jangan suruh aku sabar," jawab Arga dengan lemas dan pandangan menerawang.


"Semua yang ada dalam diri kita itu titipan, Ar. Semua yang kita punya akan kembali pada-Nya. Memang benar terasa sulit, tapi kau pasti bisa. Semua orang pasti akan mengalaminya. Harus kuat, Ar."


Arga terdiam, memang benar apa yang dikatakan Bian. Tapi ia juga merasa di sisi lain ada sebuah karma yang menang harus ia rasakan untuk membayar segala kesalahan yang pernah ia lakukan.


Dulu ia pernah menolak anak yang pernah hadir dalam perut istrinya. Ia masih ingat betul bagaimana ia menolak dan tidak mengakui darah dagingnya sendiri. Ditambah lagi ia menuduh istrinya sendiri telah menipunya dan kejahatan-kejahatan lain yang pernah ia lakukan. Betapa jahatnya ia dulu pada istrinya sendiri.


Jika mengingat masa lalu memang rasanya sulit untuk memberi maaf pada Arga. Sebaik apa pun Nuna, ia juga manusia biasa yang punya rasa sakit dan luka. Tak mudah memberi maaf pada sosok Arga yang memberinya bekas luka, meskipun ia tahu memberi maaf atau tidak, akan tetap saja tidak mengubah masa lalu dan masa depan yang akan belum ia jalani.


Nuna masih diam, entah apa karena apa diamnya. Karena enggan memberi maaf atau sedang mengingat luka yang dulu pernah diberikan.

__ADS_1


Bian seakan mengerti apa yang dirasakan oleh wanita itu, ia menggenggam punggung tangan Nuna dengan lembut. Ia seolah memberikan kekuatan tanpa mengucapkan kata. Berharap dengan sentuhannya itu bisa memberinya kekuatan lebih untuk sekedar memaafkan tanpa ada embel-embel lainnya.


"Untuk soal memaafkan aku sudah melakukannya dari dulu, Ar. Aku nggak ada sama sekali dendam atau apa pun. Jika kamu mengira aku nggak ngasih izin untuk bertemu dengan Cashel itu bukan berarti aku nggak maafin kamu. Tapi memang aku hanya menghindari sesuatu yang mengingatkan aku pada luka. Aku harap kamu bisa mengerti soal ini. Nggak semua luka bisa hilang karena maaf."


"Iya aku paham. Aku sangat mengerti. Itu sebabnya aku nggak akan maksa kamu lagi. Terima kasih sudah bersedia member maaf dan sekarang kalian datang untuk memberi kekuatan. Aku sudah menerima ganjaran dari penolakan yang aku berikan pada Cashel. Aku kehilangan dua anak. Dan Tuhan sepertinya memang sedang memberiku hukuman. Aku sudah pernah menolak dan tidak mengakui anak kandungku, dan sekarang Tuhan mengambil dua anakku yang lainnya."


"Anggap saja itu adalah penggugur dosa. Lagipula kamu harusnya husnuzon sama yang di Atas. Tuhan selalu punya cara untuk mewujudkan apa yang umat-Nya butuhkan. Dan cara-Nya selalu indah. Kami turut berdukacita atas meninggalnya anakmu. Dia yang akan bawa kamu ke surga nanti. Doakan dia, ini sudah jalan yang terbaik. Akan selalu ada hikmah dalam setiap musibah."


Tak lama setelah itu Bian dan Nuna pamit pergi. Mereka pergi dengan membawa sebuah pelajaran baru dalam kehidupan. Karma tidak semua menunggu nanti-nanti, jika Tuhan sudah berkehendak, maka di detik-detik itu juga Tuhan turunkan pembalasan yang ternyata teramat pedih dari yang kita kira.


"Aku bangga sama kamu, kamu bisa memaafkan orang yang nyakitin kamu begitu mudah meski luka dan sakitnya masih terasa."

__ADS_1


Nuna tersenyum kecil, "Itu karena aku sudah ada pengganti, aku sudah ada seseorang yang pasti akan bisa menyembuhkan luka aku meski perlahan. Terima kasih sudah menjadi obat buat aku." Nuna melingkari tangannya di sepanjang leher Bian dan mendekatkan kepalanya di kepala pria itu.


__ADS_2