Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
11. Ribut


__ADS_3

Nuna hendak beranjak dari hadapan Bian ketika ia berhasil membujuknya untuk membantu meluruskan kesalahpahaman ini. Namun saat hendak berbalik, Nuna merasa sedikit nyeri di perutnya. Refleks ia mengaduh dan sedikit membungkukkan badannya. Nampaknya ia butuh istirahat setelah berjalan beberapa meter dengan tergesa-gesa.


Bian pun refleks merangkul pundak wanita itu. Dan momen itu adalah momen emas bagi Bu Ningsih. Wanita yang sudah mulai beruban itu mengambil gambar dengan sisi yang pas. Sisi yang di mana mereka nampak memiliki hubungan dekat atau lebih dari sekedar teman.


"Perutmu sakit lagi? Duduklah!" Bian menarik kursi dan membantu Nuna untuk duduk. "Mau ke puskesmas lagi?"


"Nggak usah nggak apa-apa. Aku baik-baik saja."


Nuna mendapati Ibu mertuanya tepat di depannya saat ia mendongak. Melihat Ibu mertuanya yang menurunkan ponsel saat ia melihatnya membuat wanita muda itu berpikir hal terburuk. Ia melupakan sedikit nyeri yang sempat menghampiri dan tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja Bu Ningsih.


"Apa yang Ibu lakukan di sini? Ibu membuntuti ku?" Nuna bertanya seraya berusaha merebut ponsel yang berada di tangan wanita itu.


Namun, kecepatan tangannya masih kalah dengan Bu Ningsih. Wanita itu dengan gesit menyembunyikan ponselnya di balik punggung.


"Jangan sibuk dengan apa yang saya lakukan. Pikirkan bagaimana cara kamu bertahan dengan anak saya. Sudah saya duga dari awal bahwa kamu adalah wanita murahan. Apa pun yang ada dalam tubuhmu pasti kamu jual murah."


Nuna mengeratkan rahangnya. Tidak ada manusia satu pun yang akan diam jika sudah ada orang yang merendahkan harga dirinya. Ia sudah cukup beberapa bulan memendam amarah yang sebenarnya ingin ia luapkan. Ia diam sebagai bentuk penghormatan Ibu dari suaminya. Tapi ia rasa jika tindakannya sudah keterlaluan, Bu Ningsih tidak pantas mendapat penghormatannya.


"Ibu lebih murah dari aku, tindakan Ibu lah yang membuat Ibu murah. Menghalalkan segala cara untuk perpisahan anaknya bukan perbuatan manusia. Ibu selalu anggap aku lemah hanya karena aku diam. Ibu meremehkan aku hanya karena aku tidak bisa membela diriku sendiri di depan banyak orang. Satu yang harus Ibu tahu, diamku selama ini hanyalah sebagai bentuk rasa hormatku pada wanita yang melahirkan suamiku. Aku masih tak percaya, wanita berperilaku jahat seperti Ibu memliki seorang anak."


Sama seperti Nuna tadi, Bu Ningsih juga tak terima dengan deretan kalimat yang masuk ke dalam telinganya. Beliau menganggap ini sebuah penghinaan dan tak bisa dimaafkan, tidak pernah sebelumnya beliau mendapatkan perlakuan seperti ini.


Bu Ningsih melayangkan sebuah tamparan dan berhasil melukai sudut bibir Nuna. Wanita itu tentu saja merasa kesakitan, sementara Bian hanya terkejut dengan perkelahian kedua wanita itu. Ia merasa tak bisa melakukan apa-apa, karena itu bukanĀ  ranah urusannya.

__ADS_1


"Jaga bicaramu Nuna! Tahu apa kamu tentang saya? Saya tidak butuh penghormatan dari kamu. Wanita ****** yang memanfaatkan kebaikan Arga untuk menanggung kehidupanmu. Kamu siapa berani berkata seperti itu di depan saya?"


"Ibu tidak butuh penghormatan dari aku? Baiklah, mulai detik ini aku akan hilangkan rasa hormat aku pada Ibu. Orang seperti Ibu memang tidak seharusnya mendapat penghormatan dari siapa pun."


Kedua wanita itu saling tatap dalam ketegangan dan suasana terasa menjadi mencekam. Di saat itulah, Nuna mengambil ponsel ibunya, entah mengapa ia meyakini ada sesuatu di sana.


"Jangan mendekat atau aku lempar HP ini!" ancam Nuna saat Bu Ningsih maju satu langkah mendekatinya.


Bian masih berada di tempat. Ia hanya bisa tenganga melihat keberanian Nuna. Apakah ini sifat aslinya? Wanita yang tiga hari bersamanya ini ia kenal ceroboh, teledor, dan bodoh bisa bertindak seberani ini? Sungguh ia merasa diberi kejutan oleh Nuna.


Nuna menyungging salah satu sudut bibirnya ketika menemukan sebuah foto. Ia segera menghapus foto tersebut dari galeri, tak lupa berkas sampah juga ikut ia hapus agar Bu Ningsih tak bisa melakukan apa-apa. Setelah dirasa tak ada lagi hal yang bisa menimbulkan kesalahpahaman, ia mengembalikan benda pipih itu pada ibunya.


"Kamu pikir setelah menghapus ini kamu bisa mengambil hati Arga lagi? Saya bukan Arga yang bisa kamu bodohi. Saya boleh kehilangan foto yang saya ambil. Saya hanya kehilangan foto, bukan cara untuk menyingkirkan kamu dari kehidupan anak saya."


Bu Ningsih meninggalkan kedai setelah itu, sebelum benar-benar pergi, beliau sempat menatap Bian sesaat.


"Aku minta maaf sudah membuat kekacauan."


"Iya. Bibirmu luka," ujar Bian memberikan kotak P3K berukuran kecil.


Nuna dengan sedikit menahan sakit mengobati lukanya sendiri. Ia ingin menangis, tapi malu pada Bian yang tadi melihatnya begitu berani. Rasanya tak lucu jika ia menangis karena luka sebuah tamparan.


"Setelah ini pasti Ibu mertuamu akan bilang ke suamimu kalau kamu kembali ke sini."

__ADS_1


"Aku nggak takut, aku juga nggak khawatir. Aku tidak salah. Ini, terima kasih, ya." Nuna mengembalikan kotak obat. "Aku pergi, jangan lupa nanti setelah kedai tutup. Kamu bisa ke rumah untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Sekali lagi aku minta maaf, kita baru kenal kemarin, tapi aku sudah membawamu ke dalam masalah."


"Iya."


Bian mengantar kepergian Nuna dengan pandangan kedua bola matanya. Hingga punggung itu tak terlihat lagi, Bian masih menatap jalanan. Dalam hati ia berpikir dan banyak pertanyaan mengenai kehidupan Nuna. Tapi ia sungkan untuk bertanya, mengingat ia dan Nuna baru saling kenal beberapa hari saja.


Sore harinya, Bian yang akan menepati janjinya untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya sudah bersiap akan berangkat. Ia menutup rolling door saat sebuah motor berhenti di dekatnya.


Bugh!


Sebuah pukulan keras tiba-tiba menyapa sudut bibir Bian. Ia yang bingung dengan situasi ini hanya tersungkur ke belakang.


"Laki-laki brengsek! Kau hamili Nuna kenapa kau tidak tanggung jawab dan malah menyuruhnya untuk aku nikahi. Kau mau lepas dari tanggung jawab? Dasar brengsek, biadab kau!" Sekali lagi pukulan Arga tepat sasaran. Kini ganti hidung Bian yang mengeluarkan darah.


Dari ucapan Arga, Bian mulai paham dengan duduk perkara tanpa harus harus bertanya.


"Kau salah paham. Sebelum kau memukulku lagi, kau harus mendengar penjelasan dariku. Kalau kau sampai mengangkat tanganmu lagi, aku juga bisa melakukan hal yang sama. Atau lebih parahnya kau bisa aku penjarakan. Pikirkan ibumu!" Bian berucap seraya mengelap sudut bibir dan hidungnya yang mengeluarkan darah.


Arga mau tak mau menenangkan diri mendengar kata polisi.


"Aku dan istrimu tidak ada hubungan apa-apa, aku dan dia hanya sebatas atasan dan karyawannya. Dia bekerja di kedai ku sekitar 4 hari yang lalu. Aku nggak tahu kalau dia sudah menikah dan sedang hamil. Dia tidak menjelaskan apa pun. Aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu. Bagaimana bisa kau mengira aku yang menghamili istrimu."


"Sudah? Sudah membualnya? Kau tadi memintaku untuk mendengar penjelasanmu, kan? Aku sudah dengar dan hanya ini yang bisa aku berikan."

__ADS_1


Sekali lagi Bian harus kembali menerima tinjuan di perut dari Arga. Tinjuan yang tiba-tiba membuat Bian tak mampu mengelak. Arga sudah pergi lebih dulu sebelum ia sempat membalasnya.


Tahan Bian, jangan kau kejar. Jangan buat Nuna semakin kesulitan dengan kau memberi suaminya hukuman atas apa yang sudah dia berikan padamu.


__ADS_2