
"Nggak ah mbak, nggak usah. Aku mau pertama kali Bian lihat aku pakai gaun ini ya pas nikah nanti. Biar surprise gitu, bagus ini udah pas. Nggak ada yang kurang. Mudah-mudahan berat badan aku nggak naik nanti pas dekat hari H." Nuna sedang berdiri di depan cermin panjang yang memperlihatkan dirinya dengan utuh, dari kepala hingga kaki tak ada yang tertinggal di cermin.
Dengan senyum yang mengembang sempurna sesempurna cinta Bian terhadapnya, Nuna berputar menunjukkan gaunnya yang mekar. Sungguh indah gaun yang ia kenakan di malam resepsi saat pernikahannya nanti.
Sepuluh menit kemudian, Nuna keluar ruangan dengan pakaian biasa. Bian dan Cashel tentu saja membola karena mereka sejak tadi gelisah sekaligus penasaran dengan penampilan Nuna saat memakai gaun pengantin. Namun, yang terjadi justru diluar ekspetasi kedua laki-laki beda generasi itu.
"Gaunnya kenapa? Ada yang kurang?" Bian berdiri menghampiri calon istrinya.
"Nggak ada. Udah pas semua, bagus. Sesuai dengan apa yang aku mau."
"Terus kenapa nggak dicoba?"
"Udah, udah aku coba. Makanya aku bilang pas, kan?"
"Ya terus kenapa nggak ditunjukin ke kita?" tanya Bian kesal.
"Nanti, kan kamu juga lihat pas kita nikah."
"Ya nggak bisa gitu, mana ada aturan begitu? Aku maunya aku yang pertama lihat dan waktunya itu cuman sekarang," protes Bian semakin kesal.
Baru kali ini Nuna melihat Bian yang kesal, namun nampak menggemaskan. Biasanya pria itu akan terlihat menyebalkan saat sedang marah.
"Ngambek nih ceritanya? Mau sekarang atau nanti, tetap kamu yang lihat pertama. Kamu pikir aku dandan di pelaminan? Kan enggak. Kan dandan juga tetap di kamar sama kamu. Tetap kamu yang lihat pertama, kan?"
__ADS_1
Bian memutar bola matanya, "Banyak alasan." Pria itu lalu memutar tubuhnya dan menggeret Cashel ke luar butik lebih dulu. Sementara Nuna hanya mengatupkan mulutnya menahan senyum. Manis sekali saat ia merajuk seperti ini, batinnya.
"Aku lapar, Mas. Sepertinya makan sup di siang hari terasa menyegarkan," goda Nuna menatap Bian dengan setengah mendongak. Panas matahari yang cukup terik membuat Nuna sedikit menyipitkan matanya.
Semarah atau sekesal apa pun Bian pada Nuna, perhatian pria itu memang luar biasa. Ia sangat dilanda kekesalan beberapa menit yang lalu hingga detik ini, namun melihat Nuna yang menyipit terkena paparan matahari demi melihatnya membuat ia cepat-cepat menutupi matanya. Belum lagi panggilan yang ia lontarkan, jujur saja membuat Bian ingin sekali jumpalitan. Nuna tak pernah memanggilnya dengan panggilan spesial, selalu Bian dan Bian. Namun, hari ini sudah dua kali ia merasa diajak terbang oleh wanita itu. Meskipun ia sadari Nuna memanggil sebutan sayang dan mas tidak dari hati dan keinginannya.
"Jangan rayu aku dengan panggilan seperti itu. Aku tetap marah."
"Kalau marah kenapa nutupin kepala aku pake tangan? Kenapa nggak biarin aku kepanasan?"
"Aku hanya marah sama kamu, bukan berarti udah nggak sayang. Aku melakukan ini karena aku sayang, bukan karena marah atau nggak. Udah buruan jalannya, kasian Cashel kepanasan juga."
Tangan Bian yang lain masih menggenggam tangan Cashel. Sejak keluar dari butik tangan anak itu tidak di lepas oleh Bian. Saat sedang fokus berjalan, Bian dikejutkan dengan tindakan Nuna yang tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang calon suaminya. Ia sampai sedikit tersentak kaget.
"Nggak, mau peluk aja. Nggak boleh emang?"
"Bukan nggak boleh, kamu bukan perempuan yang agresif dan apa yang kamu lakukan sekarang membuat aku bertanya-tanya."
"Nggak tahu kenapa aku merasa sedikit tidak enak hati, perasaan aku sedikit nggak enak."
Mendengar jawaban Nuna membuat Bian membalas pelukan wanita itu dengan terus berjalan. Tinggal sedikit lagi mereka sampai di mobil.
"Jadi makan?" tanya Bian melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Jadi, aku mau makan sup," jawab Nuna cepat.
Bian menatap kaca spion yang berada di dalam mobil. Melihat kondisi Cashel yang sejak tadi nampak diam menikmati pemandangan yang sebenarnya ia sering lihat. Anak kecil itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Sejak tadi diamnya terlihat aneh bagi Bian.
Mata Bian lalu berpindah pada wanita yang duduk di sampingnya dengan tenang. Beberapa menit yang lalu Nuna berperilaku biasa saja, seakan ia sedang tak berada dalam masalah. Tapi kini wanita itu terlihat muram. Apa ia sedang teringat bahwa tadi pagi ia kembali dibuat bertambah paranoid?
"Mikir apa?" tanya Bian sembari menarik tangan Nuna lalu ia letakkan di pangkuannya.
"Nggak tahu, aku udah bilang, kan tadi aku merasa nggak enak hati aja."
"Kepikiran sama yang tadi pagi?"
Nuna menatap Bian sesaat lalu menatap ke bawah, "Bohong kalau aku nggak mikirin itu Bian."
"Itu artinya kamu belum percaya sama aku sepenuhnya. Kalau kamu percaya sama aku, kamu akan merasa kamu dan Cashel aman dalam genggamanku, aku yakin kamu akan berpikir bahwa semuanya baik-baik saja. Tuhan tahu mana yang baik, mana yang bukan, Tuhan tahu siapa yang harus dilindungi. Kenapa kamu berpikir dan sekhawatir itu disaat ada aku? Kamu pernah berpikir nggak, kalau aku juga sedih kalau kamu kayak gitu. Aku merasa aku nggak berguna ada di samping kamu. Meskipun aku tidak ada hak sepenuhnya atas anak ini, aku sudah pasti akan melindungi dia tanpa kamu minta. Jadi tolong, tolong banget Sayang, ya, pikirannya yang tenang, sebentar lagi kita menikah. Mau bahagia buat aku, kan?"
Nuna mengangguk tersenyum. Hatinya sedikit menghangat ketika mendengar kalimat penenang dari Bian. Meski tidak sepenuhnya tenang, setidaknya ada yang bisa ia harapkan untuk menjadi garda terdepan untuk dirinya dan sang anak.
Saat sedang kembali fokus dengan jalanan, Bian dikejutkan dengan seorang anak kecil yang tiba-tiba melitasi jalan. Tak ada pilihan lain selain ia membanting setir ke arah kiri bermaksud agar tak menabrak pengendara lain, namun naasnya ia justru menabrak trotoar dan kendaraannya tertabrak oleh mobil yang berada di belakangnya.
Bian dan Cashel terlempar keluar mobil, sementara Nuna masih berada di dalam meski sabuk pengaman wanita itu sudah terlepas dan tak sadarkan diri karena kepalanya yang terbentur kaca mobil.
Bian masih sedikit tersadar dengan menahan sakit dan perih di sekujur tubuhnya yang ia rasa sudah banyak mengeluarkan darah. Ia juga tahu banyak orang yang berada di sekelilingnya dan sedang menolong Cashel untuk dibawa ke pinggiran jalan.
__ADS_1
"Nuna. Istri sa..." Hanya kata itu yang mampu dikeluarkan Bian sebelum ia hilang kesadaran.