Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
13. Calon Menantu


__ADS_3

Nuna menenggak susu tersebut tak sampai setengah dan ia muntahkan lagi. Tiba-tiba ia merasakan mual saat susu tersebut melewati tenggorokannya.


"Astaga, rasanya kenapa amis begini?" Nuna mengeluh lalu kembali muntah. Ia memutuskan untuk tidak minum susu tersebut lantaran tak kuat dengan baunya.


Di balik dinding dapur, Bu Ningsih menggeram kesal lantaran usaha yang gagal. Namun ternyata, kegigihan beliau tak ada surutnya. Beliau terus berusaha melakukan segala cara untuk membuat Nuna keguguran, tapi sayangnya usaha Bu Ningsih selalu berakhir dengan kegagalan.


Hingga beberapa hari kemudian, Bu Ningsih mulai memikirkan cara lain untuk membuat keduanya berpisah. Hubungan mereka yang sudah benar-benar tak ada lagi tegur sapa lagi membuat jalan berpisah jauh lebih mudah dibandingkan dengan berusaha melenyapkan janin Nuna. Hanya cukup dengan menghadirkan duri di antara mereka, maka kepastian berpisah akan lebih cepat.


Seakan rencana Bu Ningsih disambut baik oleh semesta, wanita itu melihat tetangganya pulang dari bekerja di luar negeri. Dengan cepat-cepat beliau menghampiri wanita yang statusnya masih lajang itu.


"Ya ampun Lia. Ini Lia, kan, ya? Kamu beda banget. Sekarang jauh lebih cantik. Kok pulang sendirian? Mana suaminya?"


Lia tersenyum hangat, "Aku belum nikah, Bu. Aku terlalu sibuk di sana. Jadi nggak kepikiran yang lain. Ibu apa kabar?"


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Bu Ningsih seketika merubah air mukanya, "Ibu kurang baik."


"Kenapa begitu? Ayo duduk dulu, Bu. Lebih enak kalau ngobrolnya sambil duduk."


Lia sudah lima tahun ini menjadi anak yatim piatu. Kedua orang tuanya pergi selamanya dalam waktu bersamaan karena kecelakaan. Tak mau larut dalam kesedihan, Lia memutuskan bekerja di luar negeri.


Selama hampir lima tahun ia bekerja di negeri orang. Setelah merasa cukup dengan keuangannya untuk usaha dan hidup di tanah kelahirannya, ia akhirnya memutuskan untuk pulang.


Bu Ningsih kembali mengarang cerita entah untuk ke berapa kalinya. Beliau atur cerita bohong dengan mendramatisir keadaan menjadi sangat merugikan dirinya dan membuatnya menderita.


Lia yang sudah lama menaruh hati pada Arga tentu saja seperti punya angin segar untuk bisa hidup bersama dengan pria yang ia sukai.

__ADS_1


"Ibu nggak sabar kalau harus nunggu Nuna melahirkan. Kurang enam bulan lagi. Mana tahan Ibu satu atap sama perempuan yang nggak tahu diri itu. Kamu mau bantu Ibu nggak?"


"Bantu apa?"


"Ambil hatinya Arga supaya mau deket sama kamu. Ibu tahu kamu dari dulu suka sama Arga, kan? Ibu sering memergoki kamu ngeliatin Arga kalau berangkat kerja. Kalau Arga lagi di teras juga kadang-kadang kamu suka nyapa. Kamu suka wira wiri di jalan untuk menarik perhatian Arga. Ibu tahu semuanya, tapi Ibu diam waktu itu karena Ibu merasa Arga belum bisa mengurus anak orang. Giliran dia udah bisa ngurus anak orang, dia malah nikah sama perempuan yang salah." Bu Ningsih memasang wajah melas.


"Bu, aku akan jadi jahat kalau aku masih dalam kehidupan mereka. Kalau boleh jujur sebenarnya aku juga menyimpan rasa sama Mas Arga. Tapi kalau sudah menikah...."


"Ibu merestui kalian. Ibu udah nggak kuat sama kelakuan Nuna. Lagi pula Ibu sudah jelaskan tadi kalau anaknya Nuna itu bukan anak Arga, anak orang lain. Ibu juga nggak tahu kenapa Nuna meminta bertanggung jawaban sama anak Ibu. Pelan-pelan aja Lia, Ibu yakin lama kelamaan Arga akan luluh juga. Lagi pula perasaan Arga ke Nuna itu udah beda, udah nggak kayak dulu."


Lia diam memikirkan ucapan Bu Ningsih. Ini kesempatan baginya untuk mendapatkan Arga. Tapi bukankah akan terlihat buruk di mata orang jika ia masuk ke dalam rumah tangga Arga.


"Nggak ada salahnya untuk mencoba, Lia. Pelan-pelan aja. Asal pasti, nanti Ibu bantu."


Dengan segala rentetan kalimat manis yang banyak dijanjikan oleh Bu Ningsih, akhirnya Lia mengiyakan tawaran dari beliau. Lagi pula ini adalah hal yang ia inginkan.


Dengan dress selutut berwarna merah dan polesan bibir yang berwarna senada, Lia berjalan keluar rumah. Ia membawa sebuah kue dan sepasang sandal yang seharusnya ia berikan pada orang yang sudah mengurus rumahnya selama ia di luar negeri. Namun, rencana yang tak terduga ini membuat Lia harus membelokkan rencananya.


"Cari siapa, ya Mbak?"


Oh jadi ini istri Arga. Cantik juga, tapi sayangnya licik.


Lia hendak berucap, namun ia kalah cepat dengan Bu Ningsih yang bersuara dengan lantang dari dalam rumah.


"Kenapa berdiri di situ? Ayo masuk. Uh calon menantu Ibu memang cantik luar dalam. Ayo duduk. Ibu panggil Arga, dia baru aja bersih-bersih habis pulang kerja. Pasti dia akan senang kalau ketemu sama teman lamanya."

__ADS_1


Nuna yang masih berada di ambang pintu sedikit linglung dengan ucapan ibunya. Ia hanya menatap kedua wanita itu bergantian. Dan tak lama kemudian, Arga datang dengan sendirinya sebelum Bu Ningsih memanggil.


Kedua manusia itu tak sengaja saling tatap dan tatapan itu bertahan hingga beberapa saat.


"Khem. Arga sepertinya pangling sama kamu, Lia."


"Lia? Ini Lia? Udah pulang, kapan pulangnya?"


"Baru kemarin, Ar."


Merasa Lia sedikit genit dengan tatapannya, Nuna maju dan menyodorkan tangannya.


"Perkenalkan, aku Nuna. Istri Mas Arga."


"Lia. Senang bertemu denganmu. Aku teman Arga dari kecil. Rumahku ada di depan sana. Rumah yang punya dua lantai."


Nuna hanya menganggukkan kepala mendengar kesombongan Lia. Ia lalu pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Tak butuh waktu lama bagi Nuna untuk membuat segelas teh untuk tamu yang sepertinya diagungkan oleh ibu mertuanya.


"Arga, menantu seperti ini yang Ibu mau. Udah cantik, baik, sopan, mandiri, lihatlah apa yang dia capai dengan usahanya sendiri. Bisa buat rumah sebesar itu. Tapi dia masih baik dan nggak sombong. Lihat, Ibu dikasih kue sama sandal. Bagus, kan?" Bu Ningsih memperlihatkan sandal yang baru saja beliau ambil dari kotaknya.


Bu Ningsih kembali berucap ketika Nuna meletakkan segelas minuman ke meja, "'Coba aja kamu lebih sabar untuk nunggu Lia. Pasti kamu akan bahagia, Ibu juga bahagia punya menantu seperti dia. Tidak ada satu pun Ibu yang nolak untuk dijadikan mertua sama dia." Lirikan Bu Ningsih tertuju pada Nuna.


"Ibu, Arga sudah beristri. Jangan begitu," sahut Lia pura-pura berbaik hati.


"Iya sih, dia sudah punya istri, tapi istrinya itu nipu dia. Yang menghamili siapa yang tanggung jawab siapa."

__ADS_1


"Lia, jangan lupa kalau seorang Ibu memperlakukan menantunya seperti ini, tidak pantas menjadi mertua. Bayangkan jika kamu melakukan satu kesalahan, maka satu negara akan tahu kesalahanmu itu. Meskipun kesalahanmu itu hanya seujung kuku."


Nuna menatap kedua wanita itu tajam sebelum ia meninggal ruang tamu.


__ADS_2