Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
59. Pertemuan Yang Tak Disengaja


__ADS_3

"Ada apa?" Bian yang semula juga fokus mencari tempat duduk seketika menoleh pada Nuna. Mendengar nada bicaranya membuat pria itu merasa ada sesuatu.


Dan yang benar saja, wanita itu masih melihat ke arah Arga dan istrinya yang terlihat sedang mengandung. Ia tak tahu dan tak kenal siapa wanita itu. Disaat seperti ini, Nuna masih sempat-sempatnya teringat saat ia mengandung Cashel. Di mana hidup penuh dengan perjuangan yang berat, untuk membeli susu dan buah saja ia harus bekerja terlebih dahulu. Dan sekarang lihatlah betapa loyal nya Arga pada istrinya.


Setelah melihat Nuna yang terpaku di satu arah, Bian mengikuti arah pandang wanita itu.


"Cashel, kita makan di tempat lain nggak apa-apa, kan? Di sini terlalu ramai. Nanti malah nggak makan-makan kita karena nunggu antrian."


Anak penurut itu hanya menjawab dengan anggukan. Setelah selesai bernegosiasi dengan Cashel, Bian menggeret Nuna untuk pergi dari sana. Air mata wanita itu sudah luruh saat Bian membawa wanita itu pergi.


Usaha Bian untuk membawa Nuna pergi ia kira sudah berhasil, beberapa langkah menjauh dari lesehan ia justru mendengar ada seseorang yang memanggil Nuna. Refleks ketiga manusia yang saling bergandengan itu berhenti.


Bian adalah orang pertama yang menolehkan kepala ke belakang. Ternyata benar dugaannya, yang memanggil adalah Arga. Pria itu terlihat berjalan mendekati mereka.


"Senang bertemu kalian di sini, apa dia...?" Arga tanpa basa basi memulai obrolan dan bertanya ke arah kepastian anak yang mereka bawa.


Tidak ada yang menjawab pertanyaannya membuat Arga berlutut di depan Cashel. Ia menatap anak kecil itu dalam-dalam, tangannya terangkat untuk menyentuh kepalanya, namun dengan gerakan cepat Nuna menyingkirkan Cashel dari ayah kandungnya.


"Jangan sentuh anakku! Ayo kita pergi, Bian."


"Nuna, aku hanya ingin kenal. Apa salah aku mengenal anakku sendiri? Jangan pisahkan hubungan darah kami."


"Kau sendiri yang memutuskan hubungan darah dengan anakmu sendiri. Statusmu dan Cashel nggak akan pernah berubah. Akan tetap ayah dan anak sampai dunia berhenti berputar. Tapi cukup hanya itu, jangan minta lebih. Kau sudah tidak mengakuinya dari dia belum lahir. Sebuah kewajaran jika Nuna tidak ingin kau menyentuh anaknya."


"Izinkan aku untuk bicara sekali saja."

__ADS_1


"Aku tidak bisa membantumu. Semua hak ada pada Nuna. Aku harap kau bisa menghargai keputusannya."


Arga hendak menghampiri Nuna yang berdiri di belakang Bian. Namun, pria itu menghentikan langkah Arga dengan mencekal tangannya.


"Kau tidak dengar tadi Nuna bilang apa? Kau ingin menyentuh anaknya saja tidak diizinkan dan sekarang kau ingin meminta lebih? Lakukan ini lain kali." Bian memberikan tatapan tajamnya.


Selang beberapa detik, Bian dan yang lain pergi dari sana. Tak ada obrolan sepanjang perjalanan menuju parkiran, hanya saja Nuna mendekap sang anak lebih erat.


"Tadi siapa, Bu?" Akhirnya pertanyaan itu muncul juga dari mulut Cashel. Mereka baru saja masuk mobil, bahkan Bian belum memajukan mobilnya dan Cashel sudah melontarkan pertanyaan yang sepertinya sejak tadi ada dalam kepalanya.


"Nanti pelan-pelan akan dijelaskan sama Ibu, ya. Tapi jangan tanya sekarang dulu, ya. Nanti kalau waktunya udah pas. Pasti dijelasin sama Ibu. Atau nanti kakek sama nenek yang jelasin."


"Om tahu om-om tadi siapa? Om kenal?"


Untuk yang kesekian kalinya, Cashel menjawab dengan anggukan. Untunglah anak cerdas itu bisa mengerti keadaan yang tidak memungkinkan untuk dijelaskan sekarang.


Meski dalam hati Cashel butuh kejelasan mengenai ucapan Arga tadi ia lebih memilih untuk tetep diam dan patuh. Diusianya yang baru tujuh tahun ia sudah paham dengan bahasa yang Arga ucapkan tadi. Ia paham maksud Arga dengan bahasa 'apa salahnya mengenal anakku sendiri?' satu kalimat sederhana itu sudah mampu ia pahami. Namun, ia tetap butuh penjelasan yang lebih detail mengenai kalimat itu.


"Ibu nangis, ya? Maaf Ibu, aku nggak akan nanya lagi."


Bian yang hampir melajukan mobilnya urung lantaran mendengar pertanyaan Cashel. Ia melongokkan kepalanya ke wajah Nuna. Kalau sudah seperti ini, mana bisa ia bersikap acuh seperti yang sudah-sudah.


"Apa yang buat kamu nangis? Semua sudah berakhir. Kesusahan yang pernah datang kamu lalui dengan baik. Ibarat anak sekolah, kamu sudah lulus dengan nilai bagus. Ada sesuatu yang kamu sesali?"


Nuna menggeleng seraya mengusap pipinya yang ditetesi air mata.

__ADS_1


"Terus yang buat nangis apa?"


Nuna hanya diam saja. Rasanya tak enak jika harus cerita sesuatu di depan Cashel. Apalagi yang ia sedihkan berkaitan dengannya.


"Kalau nggak mau cerita di depan anak, berhenti nangisnya. Kasihan dia, mikirnya kamu nangis gara-gara dia tanya. Bisa?"


Nuna menganggukkan kepala. Hatinya yang semula terasa sakit saat mengingat masa lalunya tiba-tiba menghangat karena perlakuan Bian. Sungguh pria itu mampu membuat dirinya jauh lebih baik meski hanya dengan sebuah kata-kata penenang. Selain berperan menjadi laki-laki dewasa yang sudah siap menjadi kepala keluarga, ia juga sangat peka terhadap lingkungan sekitar tanpa harus banyak bicara. Banyak sekali kejadian atau situasi yang menunjukkan betapa pekanya Bian. Kepekaan yang sangat jarang dimiliki oleh pria pada umumnya.


Sepanjang perjalanan yang hening membuat Bian sedikit khawatir dengan Cashel. Ia khawatir jika anak itu berpikir yang tidak-tidak dan memikirkan apa yang seharusnya tidak dipikirkan. Akhirnya ia mencoba untuk mencairkan suasana dengan bersenda gimurau dan melibatkan Nuna. Agar wanita itu juga tak kembali tenggelam di masa lalunya.


Senda gurau yang Bian ciptakan mampu membawa mereka ke restoran terdekat dari kolam. Seusai namanya, lesehan apung. Lesehan tersebut tepat di atas air-air yang banyak sekali ikan di dalamnya. Pengunjung bisa dengan bebas memberi makan ikan-ikan itu dengan makanan ikan yang tersedia di sana.


Melihat pemandangan yang tak biasa di rumah makan pada umumnya rupanya mampu membuat keceriaan Cashel kembali. Dengen senang dan senyum yang memenuhi wajahnya ia memberikan makan ikan-ikan tersebut. Ia lebih heboh lagi ketika melihat banyak sekali spot foto dan juga jasa sewa perahu.


"Mau naik? Kita akan naik setelah makan, kita makan dulu, ya. Kamu lupa kalau kamu tadi lapar?"


Nuna sejak berangkat tadi hanya terdiam mengamati perlakuan Bian terhadap anaknya. Ketulusan dan kebaikan pria itu masih saja sama seperti tahun-tahun yang lalu.


Perlakuan manis Bian ternyata berlanjut saat makan dan sesi setelah makan siang yang terlalu siang bahkan hampir sore. Ia begitu memanjakan Cashel dengan menuruti kemauan sang anak yang sederhana. Meminta foto dan naik perahu yang tersedia di sana.


Pukul tiga sore akhirnya mereka perjalanan pulang. Belum sempat sampai rumah, anak kecil yang terbilang tampan itu tertidur di tengah perjalanan.


"Terima kasih, Bian. Banyak yang kamu lakukan untuk aku dan Cashel hari ini. Aku jarang melihat Cashel yang tertawa lepas seperti sepanjang hari ini."


"Aku berharap kamu paham bahwa aku akan melakukan apa pun untuk kalian. Seperti yang sudah aku sering katakan. Aku sayang kalian dari hati."

__ADS_1


__ADS_2