Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
61. Romantis


__ADS_3

"Apa aku pantas untuk kamu perjuangkan sebesar itu?"


"Aku sudah pernah bilang, yang menilai pantas seseorang itu bersanding denganku atau tidak itu hanya aku. Setelah apa yang kita lewati kamu masih menanyakan itu? Apa aku harus melakukan sesuatu seperti Arga supaya kamu mau menikah denganku?"


"Kamu mau rusak aku lagi?"


"Kalau aku mau sudah kulakukan dari dulu."


Setelah melakukan obrolan yang cukup berat dan dalam itu Bian pamit pulang. Hari sudah sore dan rasa lelah juga sepertinya sudah mulai menyapa.


"Nizar pulang apa ikut Ayah sama Ibu?"


"Ikut sama Ibu. Tapi besok pagi udah balik. Dia, kan harus kerja juga. Kenapa?"


"Kamu tinggal sendirian malam ini. Kalau ada apa-apa harus turunkan ego dan gengsi, hubungi aku." Bian memberikan sebuah kartu nama dan memaksa Nuna untuk menerimanya.


"Kamu terlalu khawatir."


"Karena aku sayang. Ada dua orang di sini yang tinggal sendirian."


"Berikan gombalan itu pada gadis, jangan berikan padaku. Nggak mempan. Oh, ya. Gimana keadaan kamu? Maksudku penyakit kamu. Setidaknya kamu harus sehat untuk menjadi seorang suami, kan?"


Bian tertawa kecil, "Apa salah satu alasan kamu menolakku adalah karena ini?"


"Bukan. Bukan itu maksudnya. Untuk menjadi suami dari wanita mana pun harus sehat. Begitu maksudnya," jawab Nuna gugup.


"Aku sehat Nuna. Sebenarnya soal itu hanya salah paham saja."


Mengalirlah cerita Bian dan teman adiknya yang selalu mengejar dan menghantuinya di mana pun. Respon yang diberikan Nuna hanya tertawa.


Tawa Nuna bagaikan udara bagi Bian, ia sangat penting dalam kehidupannya. Setelah Bianca, Nuna dan keluarganya adalah segalanya.

__ADS_1


"Ya udah aku pulang, ya. Langsung istirahat. Jangan cape-cape, seharian


udah keluar rumah jadi harus langsung istirahat."


"Kamu juga."


Bian hanya mengangguk serta memberikan satu bonus kecupan di dahi wanita itu dan ia langsung melarikan diri.


Sementara Nuna hanya bisa terpaku seraya mengelus dahinya yang baru saja tersentuh oleh bibir Bian. Ia segera masuk dengan degupan jantung yang seakan menyerang dirinya.


Sejak hari itu, perubahan nampak nyata dalam hubungan keduanya. Meski belum ada hubungan resmi antara mereka, setidaknya kedua yang sudah tidak pernah bersitegang seperti sebelumnya. Bian pun bebas mengajak Cashel ke mana pun ia mau. Sudah bebas datang dan pergi ke rumah Nuna tanpa lagi sungkan apalagi menunggu Nuna berada di luar rumah. Dalam beberapa minggu ini setidaknya itulah yang dilakukan Bian, melakukan pendekatan dengen sering datang ke rumah.


Di hari senin pagi, Cashel yang biasanya paling semangat untuk menyantap makan paginya nampak belum terlihat batang hidungnya. Bahkan hingga Nuna selesai menghidangkan makanan anak itu tak kunjung keluar.


"Cashel, kok tumben jam sehingga masih tidur? Ini udah siang, ayo bangun."


Nuna sedikit tersentak begitu menyentuh tubuh Cashel yang terasa panas. Ia merasa seluruh wajah dan benar, anak itu demam setelah kemarin terliha nampak sehat saat bepergian ke kebun binatang bersama Bian.


"Kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin kalau demam? Kamu ini dari dulu nggak pernah berubah. Dua kali 24 jam belum ada perubahan bawa ke rumah sakit, nggak harus nunggu tiga hari. Apalagi ini demamnya tinggi."


Bian yang baru tahu bahwa Cashel demam sudah tiga hari langsung meluncur ke rumah Nuna dan seperti biasa, ia akan memberikan omelan terlebih dahulu. Ia tak pernah berubah soal ini.


Bian tahu Cashel demam pun tanpa sengaja, ia mendengar ada yang muntah saat sedang menelepon Nuna, hingga akhirnya pria itu mencecar wanita itu dan bergegaslah ia ke sana.


"Bian, aku mana tahu kalau akan semakin parah. Aku sudah memberinya obat yang sesuai, yang biasa di minum saat demam. Aku nggak tahu kenapa demamnya jadi berlanjut. Jangan terlalu kencang, Bian. Kamu bawa nyawa tiga orang." Nuna memperingatkan pria itu agar membawa mobil lebih terarah.


Bian diam, ia tak mau menyalahkan Nuna lebih jauh. Wanita itu ibunya, ia pasti lebih khawatir dari dirinya. Hingga beberapa saat kemudian, mobil mereka sampai di rumah sakit terdekat. Bian mengambil Cashel dari pangkuan ibunya dan berlari ke rumah sakit seraya berteriak.


Kepanikan terlihat jelas di raut wajahnya. Panik yang digambarkan bahkan hampir menyamai Nuna. Keduanya menunggu di depan ruang UGD dengan wajah tak tenang.


Dari momen ini seharusnya tak ada lagi alasan bagi Nuna untuk membiarkan hubungan keduanya berhenti sebagai teman apalagi digantung seperti ini.

__ADS_1


"Bian, kenapa dokter lama sekali? Apa saja yang mereka lakukan?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, Bian baru sadar bahwa ia tidak seharusnya panik juga. Ia harusnya memberikan dukungan atau setidaknya menenangkan wanita itu agar lebih tenang.


"Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Kamu harus tenang." Genggaman tangan Bian adalah bukti nyata bahwa pria itu memiliki cinta yang besar terhadap Nuna bahkan pada anaknya.


Sepersekian detik selanjutnya, dokter wanita muncul dari ruang UGD. Dokter itu memberikan kabar bahwa Cashel terkena demam berdarah dan dalam fase kritis.


"Untunglah segera dibawa ke rumah sakit sehingga mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Terlambat sedikit saja akan lain yang terjadi."


Remuk sudah hati Nuna, ia merasa gagal menjadi orang tua. Bagaimana bisa ia se ceroboh ini pada anaknya sendiri.


"Sampai kapan anak saya akan mengalami fase ini?" Sebuah pertanyaan refleks meluncur begitu saja dari mulut Bian.


Nuna yang sedang merasakan keterkejutan dan rasa bersalah terhadap anaknya sendiri dibuat terkejut kembali dengan kalimat Bian yang membatasi Cashel adalah anaknya. Wanita itu sampai melupakan sejenak rasa yang sebelumnya menguasai dirinya untuk menatap dalam laki-laki yang berdiri di sampingnya. Ia juga baru sadar bahwa Bian tak kalah khawatir dengan kondisi anak yang bukan siapa-siapanya. Tidak ada hubungan darah atau hubungan apa pun antara Bian dan Cashel, tapi kasih sayang yang laki-laki itu berikan pasti membuat Cashel akan merasakan kasih sayang ayah tiri rasa ayah kandung.


"Biasanya fase ini akan berlangsung selama 24-48 jam. Ibu dan Bapak tidak perlu khawatir berlebihan, karena ini pasti terjadi di penderita yang menderita demam berdarah. Masa kritis itu akan berlalu dengan sendirinya, asalkan mendapatkan penanganan yang tepat. Saya permisi dulu ya, Pak, Bu. Bapak dan Ibu bisa menemani anaknya ketika nanti sudah dipindahkan ke ruang rawat."


"Iya, terima kasih," ujar Bian sebelum dokter itu pergi.


Bian menatap Nuna dengan penuh tanda tanya lantaran ia baru sadar jika wanita itu sedang menatapnya tanpa kedip.


"Apa yang salah denganmu, Nuna? Kenapa kamu melihatku seperti itu?"


Nuna akhirnya tersadar, "Tidak apa-apa. Hanya saja sepertinya aku tadi salah dengar."


"Salah dengar apa? Oh aku tahu, kamu pasti terpesona sama aku, kan? Kamu merasa terharu karena aku nyebut Cashel anakku? Aku sudah anggap dia anakku, aku yang menemani kamu selama hamil, aku yang bantu kamu, aku juga yang menjadi korban kamu pas kamu ngelahirin dia. Dan sebagai bayarannya adalah aku juga ikut andil dalam memiliki Cashel. Terlebih ibunya, dia harus jadi milik Bian."


"Bian, ini bukan waktunya untuk mengatakan itu."


"Biar kamu nggak terlalu tegang dan khawatir sama kondisi Cashel. Dia akan baik-baik saja. Tadi dokter bilang fase kritis hanya berlangsung selama satu sampai dua hari. Aku ke administrasi dulu, kamu tunggu di sini. Sebentar lagi Cashel pindah ke ruang rawat. Jangan tinggalkan dia sendirian, hmm." Hanya sekedar pamit untuk mengurus administrasi Cashel, Bian berlaku romantis dengan menangkup salah satu pipi Nuna dan mengelusnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2