
Nuna bagaikan anak remaja yang sedang di interogasi oleh bapaknya. Ia menunduk dengan jari yang bermain dengan dress yang ia kenakan. Kini wanita itu sedang duduk di sofa rumah Bian dengan segala paksaan yang laki-laki untuk lontarkan. Butuh waktu sedikit lama bagi Bian untuk membawa wanita keras kepala itu ke rumahnya.
"Mas, aku tahu kamu itu tegas, keras kepala, tapi jangan gunakan dua sifatmu itu sama orang lain. Kasihan Mbak Nuna lihat tuh, dia sampai menunduk ketakutan gitu. Kamu nggak kasihan apa sama dia?" Bianca yang merasa iba dengan wanita muda itu bersuara. Melihat wajah pucat Nuna entah kenapa begitu mengiris hatinya, terlebih lagi ia sedikit banyak mengetahui jalan hidup Nuna yang tidak mudah.
"Dia kayak gitu nggak takut, pasti dia malu tuh tanya aja dia."
"Ya udah lupakan apa yang dipikirkan oleh Mbak Nuna. Mas ngapain bawa dia ke sini kalau cuman dilihatin doang?"
Bian bangkit dari duduknya dan berjalan ke belakang. Tak berselang lama ia kembali dengan membawa sebuah handuk dan ia letakkan di meja hadapan Nuna.
"Mandi dulu sana!"
"Tidak usah, Bian. Aku ingin segera mencari kontrakan dan mandi di sana. Tolong biarkan aku pergi."
"Ya sudah kalau begitu aku tanya, kau mau cari kontrakan di mana sepagi ini? Apa kau tidak tahu daerah sini jauh dari kontrakan? Katakan apa salahku sampai kau menghindari aku seperti itu? Jangan buat aku bertanya-tanya, lalu menyimpulkan sesuatu yang salah. Apa susahnya kau mau terima kebaikan dari seseorang? Kalau kau tidak bisa menerima kebaikannya, hargai dia. Kau pernah tidak dihargai karena kebaikanmu dan kesabaranmu, kau tahu rasanya bagaimana. Lalu kau sekarang melakukannya pada orang lain? Apa kau ingin orang lain juga merasakan apa yang kau rasakan?"
Mendengar kata-kata dari Bian seketika Nuna mendongak. Ia tidak bermaksud untuk melakukan apa yang Bian katakan.
"Aku nggak maksud begitu, aku..."
"Ya udah, kalau gitu kau bisa mandi sekarang. Kau beruntung mengenal laki-laki sebaik aku. Itu cara Tuhan menolongmu, abaikan apa yang kau rasa sekarang, kau bisa di sini juga ada campur tangan dari Tuhan. Kalau kau memang bersikeras dengan rasa malu mu, kau bisa abaikan kata-kataku, dan pergi dari sini. Tidak usah peduli dengan anakmu yang bisa saja ketika kau berada di jalan tiba-tiba meronta ingin keluar."
Nuna dalam hati membenarkan apa yang diujarkan Bian. Ini adalah minggu-minggu di mana ia seharusnya sudah mendebutkan anaknya. Dengan gerakan malu dan ragu, Nuna meraih handuk yang teronggok di meja dan berjalan ke bagian rumah yang lebih dalam. Kepergian wanita kurus berperut buncit itu hanya diikuti tatapan mata oleh sang pemilik rumah.
Beberapa detik berlalu, Nuna yang menyadari kebodohannya menepuk jidat dan memaki diri sendiri dalam hati. Untuk kali ini ia membenarkan bahwa dirinya ceroboh dan bodoh. Bagaimana bisa dalam satu waktu ia melakukan kecerobohan yang kedua kalinya. Belum usai ia menyesali kejadian saat di kedai bubur tadi, sekarang ia harus menebalkan muka untuk kembali ke ruang tamu.
"Khem, kamar mandinya di mana?" Nuna bertanya dengan suara dan raut wajah yang ia buat se biasa mungkin, meski dalam hati ia ingin sekali mengubur dirinya sendiri.
__ADS_1
"Lurus aja sampai mentok, nanti belok kiri ada pintu warna biru. Di situ kamar mandinya?" Bianca yang menjawab sementara Bian hanya pura-pura fokus dengan ponselnya.
Nuna segera berlari kecil mejauh dari ruang tamu. Rasa malunya kini sudah tak terbendung lagi.
"Apa yang terjadi sama Nuna, Mas? Kenapa dia bawa tas?"
"Kurang tahu, mungkin dia diusir dari rumahnya. Mas belum tanya banyak." Bian yang semula nampak acuh dan cuek saat ada Nuna, tiba-tiba saja air mukanya berubah menjadi seperti memikirkan sesuatu.
Kurang lebih lima menit Nuna membersihkan dirinya, tersiram air dari atas hingga bawah membuat dirinya lebih segar. Ia kembali berjalan ke depan dengan mengusap usap rambutnya dengan handuk.
"Ca, di taruh mana handuknya?" tanya Nuna seraya mengibaskan rambut panjangnya yang basah.
Pemandangan sederhana itu membuat Bian terbengong. Rambut basah, bau wangi yang menyeruak ke mana-mana, dan ditambah Nuna yang terlihat kecantikannya membuat pria 30 tahun itu terpana.
Deg deg deg
Bian meraba dadanya yang tiba-tiba bergemuruh.
"Jemur di samping rumah aja, Mbak. Di sana ada jemuran handuk."
Kedua manusia yang terduduk di ruang tamu itu masih mengarahkan pandangan ke arah yang sama.
"Makasih, ya udah memberikan aku tumpangan untuk mandi. Sekarang boleh aku pergi?"
Bianca menunggu Bian untuk bicara, namun tatapan pria itu seolah meminta dirinya untuk pergi dari sana. Dengan hentakan kaki yang keras, akhirnya Bianca membawa dirinya keluar rumah.
"Bukannya aku mau ikut campur sama urusanmu. Yang jadi masalah adalah aku yang terlibat dalam masalah mu, meskipun aku sebenarnya nggak ada hubungannya dengan kalian. Ada apa, Nuna? Apa terjadi sesuatu sampai kau pergi dari rumah? Kau menghilang, aku kira kehidupanmu sudah lebih baik." Bian sengaja pura-pura tak tahu dengan kabar yang sempat ia dengar bahwa wanita itu tak mau dirinya kenapa-napa dan akhirnya ia memilih menghilang.
__ADS_1
"Aku hanya ingin pergi dari rumah, Bian. Seperti yang kamu bilang. Aku bisa membuktikan kalau aku benar tanpa harus tinggal di sana."
"Kau baru menyadarinya atau kau sudah menyerah dengan keadaan?"
"Aku baru sadar. Sepertinya aku harus segera pergi dari sini, Bian."
"Apa yang membuat kau sadar?" Bian mengabaikan keinginan Nuna yang ingin segera pergi dari rumah itu.
"Kamu bantu aku bukan berarti aku bisa menceritakan apa yang terjadi, kan? Aku sangat berterima kasih karena kamu masih baik dan memberikan aku bantuan, meskipun mungkin saja aku selalu membuat kamu kesal."
"Kau masih saja melindungi suamimu? Baiklah, nggak masalah. Ayo aku antar cari rumah."
"Aku bisa sendiri, Bian. Aku nggak mau merepotkan siapa pun."
"Kau tahu? Ada beberapa orang yang rela menurunkan sedikit egonya untuk membantu orang lain. Menerima bantuan dari orang lain itu tidak hina. Kenapa kau selalu merasa, kau bisa melakukan apa pun sendirian? Kalau kau tidak mau merepotkan orang lain atau tidak mau menerima bantuan dari orang lain, sebaiknya kau tinggal di hutan. Kau tidak akan menerima bantuan dari siapa pun." Bian saking kesalnya beranjak meninggalkan ruang tamu.
Nuna masih terdiam, apakah se menyakitkan itu ia tidak menerima bantuan darinya? Bian terlihat marah dan menakutkan. Ia hanya merasa Bian terlalu baik dan ia tidak pantas untuk menerima kebaikan itu.
Tak berselang lama, Bian kembali berjalan ke depan dengan memakai jaket. Nuna segera beranjak dan, "Bian, apa kamu marah? Aku minta maaf." Wanita itu menghadang jalan Bian.
"Iya. Aku mau ke kedai. Kau bisa pergi sekarang jika memang tidak menerima bantuanku." Bian melewati Nuna begitu saja.
Ketakutan dengan ekspresi Bian membuat Nuna terburu-buru mengambil tas dan berjalan cepat keluar rumah.
"Aduh, au." Baru saja kaki Nuna menapak lantai teras, ia merasa perutnya tiba-tiba nyeri. "Aaaa sakit," rintih Nuna tertahan.
Bian yang baru membuka pagar rumah seketika berlari saat mendengar samar-samar suara Nuna yang kesakitan.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa? Sakit perutnya? Apa mau melahirkan? Apa yang harus aku lakukan? Kenapa kau harus melahirkan sekarang?