
"Gimana soal kerjaan buat Nuna?" Bianca baru saja duduk di meja makan dan sudah disuguhi dengan pertanyaan soal Nuna.
"Sebenarnya ada apa sih, Mas? Kenapa Nuna cari kerjaan? Dia cerita sesuatu sama Mas?"
"Dia nggak cerita apa-apa ke Mas. Sebenarnya sih tadi sempat tanya, tapi dia nggak mau jujur. Kamu lihat sendiri kondisinya gimana, orang yang baru lihat pertama kali juga ngerti dia nggak baik-baik aja. Tadi waktu mau kembali ke kedai, Mas balik lagi ke Puskesmas...." Mengalir lah cerita Bian yang tadi mendengar obrolan Nuna dengan janinnya.
Kedua saudara itu memang jarang akur, tapi keterbukaan di antara mereka tak bisa di ragukan. Jika memang ada sesuatu yang harus diceritakan, maka mereka tak sungkan untuk bercerita. Mau bagaimana? Bian hanya punya Bianca, bergitu pula sebaliknya. Jika mereka tidak saling menjaga atau mengerti, siapa yang akan melakukan itu pada mereka. Begitulah kira-kira pikiran keduanya yang mendadak menjadi yatim piatu karena kepergian kedua orang tuanya yang tiba-tiba dan hampir bersamaan.
"Kasihan Nuna. Dia masih muda, tapi harus menanggung beban seberat ini. Sebenarnya aku ada sih kerjaan yang Mas mau. Jaga perpustakaan punya temen. Sebenarnya aku mau ambil kerjaan ini, tapi karena Nuna lebih butuh, ya udah buat dia aja."
Bian sudah bersiap membuka mulut ingin mengomeli adiknya, namun belum sempat ia bersuara, adiknya sudah mencela.
"Mas, aku aku ingin cari kerja juga buat ngisi waktu kosong aja. Lagi pula Mas terlalu berlebihan karena tidak memperbolehkan aku apa-apa, sementara aku juga punya kebutuhan pribadi yang nggak sedikit. Aku juga mau punya kegiatan yang menghasilkan uang."
"Urus kuliah sampai selesai, baru cari kerjaan!"
"Terus gimana caranya Mas ngasih tahu kalau ada kerjaan yang cocok sama dia? Kan Mas nggak dikasih tahu kalau dia lagi butuh kerjaan."
°°°
Nuna makan buah dari Bian dengan melamun. Ia sedang berada dalam kebingungan, di satu sisi ia butuh pekerjaan, tapi di sisi lain ia tak tahu harus mencari ke mana selain minta bantuan Bian untuk kembali bekerja di kedainya.
Di satu sisi jika ia kembali bekerja dengan Bian, ia khawatir semua ini akan memperburuk situasi dan merugikan Bian.
__ADS_1
"Apa aku minta bantuan untuk mencarikan pekerjaan lain? Bagaimana kalau dia tanya-tanya kenapa aku kembali bekerja? Aku mau jawab apa?"
Nuna mengunyah masih dengan memikirkan kemungkinan yang terjadi jika ia meminta bantuan Bian untuk mencari kerja. Ia tak bisa lama-lama memutuskan apalagi menunda, waktu yang terus berlalu mengharuskan ia berpikir cepat.
Setelah semalaman berpikir, akhirnya Nuna putuskan untuk ke kedai Bian pagi ini. Dirinya yang benar-benar di lepas oleh suaminya sendiri harus berjuang untuk bertahan dan membuktikan pada Arga bahwa anak yang ia kandung adalah anaknya.
Bian baru saja membuka kedai ketika Nuna sampai sana.
"Apa yang membuatmu pagi-pagi ke sini?"
"Aku mau minta tolong untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin bekerja, tapi dengan kondisiku yang seperti ini tidak mudah bagiku untuk mencari pekerjaan di mana saja. Aku tidak meminta pekerjaan di kedai mu. Aku khawatir kalau aku melakukan itu situasi akan semakin memburuk dan kesalahpahaman akan semakin melebar."
"Kenapa kau masih ingin bekerja?Kenapa kau selalu lupa dengan saran dari bidan untuk kau tidak boleh terlalu lelah?" Bian sengaja bertanya untuk mengetes kejujuran wanita itu.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu di luar rumah. Aku nggak mau terus-menerus di rumah dengan Ibu mertua yang terus-menerus menginginkan perpisahan dari anaknya."
Harga diri? Harga diri yang mana lagi? Nuna merasa sudah lama kehilangan harga dirinya sejak pertama kali ia tidur dengan Arga sebelum menikah. Ditambah lagi dengan tumbuh janin di rahimnya sebelum menikah, hal itu membuat Nuna sudah benar-benar tak punya harga diri.
"Harga diriku sudah lama hilang." Nuna bergumam sangat pelan.
"Apa kau bilang?"
"Ha? Tidak. Aku tidak mengatakan apa pun. Aku akan sabar menunggu beberapa bulan lagi untuk bertemu dengan anak ini. Aku akan melakukan tes DNA langsung supaya dia juga percaya kalau ini anaknya. Aku yakin dengan itu pasti dia akan kembali seperti dulu. Dia hanya kehilangan arah dan salah arah."
__ADS_1
Akhirnya Bian memberikan pekerjaan yang sempat direkomendasikan oleh adiknya. Ia mengira dengan bantuan ini, hubungannya dengan Nuna akan menjadi teman baik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Nuna menghilang begitu saja. Tak ada kabar, tak pernah ke kedai dan selalu menghindar saat beberapa kali Bian atau Bianca mengunjungi perpustakaan. Bian hanya tahu kabar Nuna dari teman Bianca yang seringkali memberikan informasi mengenai pegawainya.
"Gue sempat menanyakan kenapa dia nggak mau nemuin elu ataupun abang lu. Dia bilang malu ketemu sama kalian. Kalian baik, dia nggak mau ketemu lagi soalnya dapat ancaman dari suaminya kalau sampai suaminya memergoki Nuna ketemu lagi sama abang lu, dia nggak segan-segan untuk melakukan hal yang jahat. Katanya sih, tetangga Nuna pernah tahu Nuna datang ke kedai abang lu pagi-pagi. Dan setelah itu keluarga mereka jadi bahan perbincangan."
Itu adalah kabar terakhir dari teman Bianca. Semua itu ia jelaskan melalui Bianca dan dijelaskan kembali pada Bian.
Dan hari-hari tanpa kabar Nuna itu, tak terasa sudah berjalan enam bulan lamanya. Tiada hari tanpa memikirkan Nuna semenjak wanita itu bekerja di perpustakaan milik teman Bianca. Bian seringkali memikirkan hal yang seharusnya tak ia pikirkan. Ini bukan tanggung jawabnya dan untuk apa ia selalu memikirkan Nuna dengan segala kebutuhannya?
"Mas, mau nasi sama gule ayamnya dua porsi, ya. Minumnya satu es jeruk manis dan satu es lidah buaya."
Bian segera menyiapkan pesanan dengan berpikir keras. Bukan, bukan lagi Nuna yang ia pikirkan. Tapi wanita yang baru saja memesan makanan padanya.
Kenapa wanita itu seperti tidak asing. Aku pernah ketemu di mana?
Ingatan Bian masih belum kembali hingga makanan dan minuman yang di pesan berhasil ia hidangkan di meja wanita itu.
"Lia kamu yakin mau nikah sama Arga?" Wanita yang datang bersama dengan Lia bertanya setelah pesanan mereka terhidang di meja.
"Why not? Hubungan aku dengan Arga udah deket banget. Ini yang aku impi-impikan. Kenapa aku harus mundur? Aku sudah bertahan dan berjuang sejauh ini, sebentar lagi Nuna akan melahirkan. Jadi aku sudah yakin dan mantap akan menikah dengan Arga."
Nuna? Ah aku ingat sekarang, dia yang pernah aku lihat di supermarket dan membeli .... apa-apaan ini? Apa maksudnya dia bicara begitu?
"Bagaimana jika anak yang dikandung istri Arga itu adalah anaknya?"
__ADS_1
"Ya memang itu anak Arga. Bu Ningsih sudah menceritakan semuanya ke aku. Dia awalnya cerita bohong ke aku, menjelek-jelekkan Nuna di depan aku supaya aku mau mendekati Arga, tapi lambat laun akhirnya Bu Ning jujur sama aku, kalau anak yang dikandung Nuna itu sebenarnya memang bisa jadi anak Arga. Dari awal pernikahan dia emang nggak setuju kalau Arga menikah sama Nuna. Dia terpaksa menyetujui pernikahan itu karena memang Nuna hamil duluan. Makanya Arga waktu itu kekeh untuk nikah sama Nuna dan nggak bisa diganggu gugat. Aku udah tahu apa yang harus aku lakukan untuk hasil tes DNA itu. Toh Nuna belum tentu juga bisa tes DNA. Emang tes DNA sejuta dua juta cukup?"
Apa, jadi...?