Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
80


__ADS_3

Tak ada yang menyadari bahwa Cashel kembali terbangun saat telinganya lamat-lamat mendengar pertengkaran ibunya dan Bu Ningsih. Suara dari kedua wanita itu memang tidak keras, tapi tetap saja pertengkaran yang dilakukan di satu ruangan dengan anak itu membuat matanya kembali terbuka.


Cashel juga melihat bahwa ibunya terluka dan terisak saat seorang pria menyeret wanita tua keluar ruangan. Ia masih memperhatikan gerak-gerik Nuna dan Bian, ia terdiam dengan mata yang sedikit dipejamkan. Terlihat tangan kanan Bian yang membantu sedikit demi sedikit mengobati luka wanita itu yang kembali terbuka. Ringisan kesakitan dan perih membuat Bian terus mengulang kata maaf.


"Aku lagi-lagi nggak bisa ngelindungin kamu dari bahaya. Untuk melawan Bu Ningsih aja aku nggak bisa. Aku minta maaf, ya, Sayang."


"Nggak apa-apa, Bian. Kita masih bisa saling melindungi dan melengkapi. Kamu duduk di kursi roda dengan kondisi tangan dan kaki yang patah. Tapi aku masih bisa berjalan dan menjadi kaki buat kamu. Aku nggak akan takut lagi menghadapi apa pun dan siapa pun. Aku akan selalu ingat kata-kata kamu bahwa selagi masih ada kamu di samping aku, semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku belum bisa menghilangkan sifat cengengku, jadi tolong maklumi jika aku sedikit-sedikit menangis, ya," ujar Nuna tertawa kecil menghapus air mata yang tersisa.


"Nggak apa-apa, Sayang. Kalau kamu mau nangis, nangis aja. Menangis juga bisa meringankan beban, tapi kalau bisa jangan lama-lama. Hatiku yang sakit kalau melihat air mata kamu keluar." Tangan Bian kembali mendekap tubuh mungil Nuna.


"Aku bangga sama kamu." Bibir Bian mengecup lama kening wanita itu.


Dibalik hubungan hangat mereka, ada Cashel yang sedang berpikir kenapa nenek tadi ingin membawanya? Ia tidak ingat apakah ia pernah bertemu dengannya atau tidak. Yang jelas ia tak kenal dengan wanita itu, lalu kenapa beliau ingin membawanya?


"Ibu," panggil Cashel lemah.

__ADS_1


Keduanya melepas pelukan dan mengalihkan perhatian pada anak kecil itu.


"Kenapa, Sayang? Perlu sesuatu? Apa mau ke kamar mandi?" tanya Nuna.


Cashel menggeleng, "Tadi siapa?"


Nuna dan Bian seketika saling pandang dalam diam. Diamnya Mereka seolah melempar pertanyaan yang sama.


"Kamu dengar Ibu bicara, Nak?"


"Sayang, nanti Ibu akan cerita kalau memang waktunya sudah tepat dan kamu sudah mengerti dengan apa yang Ibu bicarakan. Janji Ibu akan cerita, tapi nggak sekarang, ya. Pokoknya kamu tenang aja. Nggak akan ada yang bisa ambil kamu dari kami. Sekarang tidur lagi, ya. Mau cepat pulang, kan?"


Cashel mengangguk dan kembali memejamkan mata.


°°°

__ADS_1


"Ibu, apaan sih? Ibu jangan buat situasi semakin runyam. Ibu dari dulu selalu kekang aku untuk mengambil Cashel dari ibunya. Aku nggak mau, cukup dengan aku ketemu sama dia itu udah melegakan buat aku. Itu udah lebih dari cukup, aku nggak mau nuntut apa pun lagi. Aku tahu dia anakku, tapi apa yang kita lakukan itu benar-benar memberikan bekas di hati Nuna. Ibu tahu, Nuna sudah sedikit meluluhkan hatinya, dia udah sedikit melunakkan hatinya. Aku mungkin beberapa saat lagi bisa menemui Cashel seperti apa yang aku mau. Ibu jangan datang ke sana dan rusak semuanya lalu kembali dari awal. Aku sama sekali nggak bisa ketemu sama anakku sendiri. Ibu mau kayak gitu? Kalau kita nggak bisa mendapatkan apa yang kita mau, harusnya mendapatkan sedikit bagian dari apa yang kita mau nggak masalah, kan? Yang terpenting buat aku bukan bagaimana cara mengambil Cashel, Bu. Yang penting aku bisa ketemu. Jangan buat apa yang aku usahakan menjadi kembali luluh lantak dan berantakan," pinta Arga panjang lebar begitu sampai rumah.


Pria itu tadi rela mengabaikan sakit perut yang ia rasa beberapa hari terakhir. Ia berlari dari halaman rumah sakit menuju ruangan Cashel yang berada di lantai tiga. Maksud hati ingin berbagi cerita dengan ibunya mengenai apa yang terjadi pada sang anak, yang terjadi justru diluar ekspetasinya.  Sungguh Arga bingung bagaimana cara ia untuk membuat ibunya sadar dan berubah.


Arga meninggalkan ibunya yang berada di ruang tamu. Dengan menahan rasa sakit di perutnya ia berusaha memejamkan mata di kamar.


Sementara Bu Ningsih masih terdiam di ruang tamu. Kepalanya masih berpikir dengan keras bagaimana cara untuk mengambil cucunya dari mantan menantunya. Beliau tidak peduli dengan amarah, bentuk protes atau apa pun yang diucapkan Arga padanya. Sang anak yang memutuskan tidak ingin menikah seumur hidupnya membuat Bu Ningsih menggebu-gebu untuk memiliki Cashel seutuhnya.


Dan hasil pikiran Bu Ningsih itu bisa kita lihat hari ini, setelah beberapa hari menahan diri untuk tidak ke rumah sakit menunggu keadaan Cashel sedikit lebih baik, akhirnya penantian itu terbayar hari ini.


Di tengah malam saat semua tertidur dengan pulas, Bu Ningsih dan kedua pria yang beliau mintai tolong memasuki ruangan Cashel dengan diam-diam. Dengan sekali gerakan saja, Nuna dan Bian tak sadarkan diri lantaran bius yang diberikan ke mulut keduanya dengan sapu tangan.


Sebelum tak sadrkan diri, Nuna sempat melihat seorang wanita yang membelakanginya. Samar-samar ia mengenal punggung wanita itu, ia berusaha untuk berontak, namun tenaga yang kalah kuat membuat Nuna akhirnya memejamkan mata.


Setelah itu, giliran Cashel yang menjadi target Bu Ningsih. Entah atas arahan siapa, wanita itu menyuntikkan obat tidur di tangan Cashel dan meminta salah satu pria suruhannya untuk menggendong cucunya. Sedangkan pria yang lain melihat situasi dan juga melindungi nasib mereka agar tak ketahuan.

__ADS_1


__ADS_2