
Harapan Nuna untuk melahirkan secara normal nampaknya akan terwujud. Sejak siang tadi yang merasa perutnya sudah melilitnya hingga sekarang pukul tujuh malam pembukaan jalan lahir bayi Nuna sudah berada di pembukaan tujuh. Ia terus mengucapkan maaf pada sang Ibu. Ia merasa sudah banyak dosa yang ia lakukan hingga ia merasakan sakit seperti ini.
"Nuna, udah berhenti minta maaf. Ibu sudah maafin kamu. Atur nafasnya, semua orang melahirkan pasti akan merasakan sakit sama seperti ini, bukan hanya kamu, harus tenang."
Nuna sejak tadi tak bisa diam merasakan sakit yang datang dan pergi. Rasa sakit yang semakin lama semakin terasa menyakitkan membuat Nuna merasa ingin menyerah.
"Silakan, Pak. Bapak masuk, saya yakin pasien akan lebih tenang jika Bapak juga ikut di sana dan menenangkan istri Bapak. Dan memang seharusnya Bapak berada di sini untuk menemani istri Bapak yang sedang memperjuangkan anak Bapak."
Bian yang berpapasan dengan salah satu suster yang bertugas di bagian persalinan menggeretnya untuk segera menemani Nuna yang sejak tadi tidak bisa diam karena menahan sakit.
"Sus, saya..."
"Sudah Bapak tenangkan istrinya, seperti Ibu Anda menenangkan Bu Nuna." Suster itu memeriksa pembukaan. "Sudah buka delapan. Atur nafasnya, ya Bu. Jangan sampai habis sebelum waktunya melahirkan. Ayo Bapaknya ditenangkan istrinya. Dan, ya. Elusan di perut bisa membuat istri lebih tenang."
Bian tidak sempat menjelaskan siapa dirinya sebenarnya suster itu sudah pergi meninggalkan ruangan. Ia kini berdiri dengan kaku di samping Nuna yang memeluk ibunya. Ia bingung harus berbuat apa.
Bian hendak keluar dari ruangan, namun melihat Nuna yang berbolak balik posisi ketika kontraksi datang membuat Bian terhenti di sana. Wajah pucat Nuna entah kenapa membuat Bian sedikit ngilu.
"Nak Bian, bisa tolong di sini sebentar? Ibu dari tadi sore menahan ingin buang air kecil."
"Ibu jangan tinggal aku lama-lama, Bu."
"Iya, sebentar saja. Ibu akan segera kembali." Ibu Nuna seakan lupa dengan umurnya, beliau melesat ke luar ruangan dengan cepat.
Sepergian ibunya, Nuna bingung hendak berpegang tangan pada siapa. Ia meremas bantal kuat-kuat ketika kontraksi semakin tak bisa ia tahan. Lelehan air mata menjadi tidak nampak karena peluh yang juga memenuhi seluruh wajahnya.
Bian sedikit mendekat, "Kau bisa pegang tanganku jika merasa sakit."
"Bian, tolong panggilkan dokter saja. Aku tidak kuat. Ini sangat sakit, sepertinya bayinya mau keluar." Tangan Nuna mencengkram kuat pergelangan tangan Bian.
"Belum ada lima menit suster mengatakan kalau pembukaannya masih delapan, bukannya kalau mau keluar itu buka sembilan? Au, sakit Nuna. Kau mencengkram tanganku terlalu kuat."
__ADS_1
"Cengkraman di tanganmu tidak sesakit yang aku rasakan. Diamlah, Bian. Aku butuh sesuatu untuk melampiaskan rasa sakitku."
"Perlakukan aku seperti kau perlakukan ibumu tadi. Tolong jangan sakiti aku," keluha Bian ketika kuku Nuna tertancap di pergelangan tangannya.
Mendengar ucapan dari Bian membuat Nuna menarik kemeja pria itu sehingga tubuh mereka bertabrakan. Dan seperti yang diminta oleh Bian tadi, mereka kini dalam posisi berpelukan. Nuna dengan erat memeluk tubuh pria itu.
Deg deg
Tubuh mereka yang menempel membuat darah Bian seketika berdesir, rambut yang berada di seluruh tubuhnya seakan meremang, dan jantungnya seakan berlari-larian.
Saat sedang menikmati rasa itu, tiba-tiba ia merasa rambutnya tertarik. Semakin lama tarikan itu semakin kuat dan tak lama kemudian dibarengi oleh keluhan dari Nuna.
"Apa yang kau lakukan? Rambutku bisa rontok. Apa kau tadi juga menarik-narik jilbab ibumu seperti ini? Jangan gila Nuna, lepas. Ini sakit."
"Apa yang aku rasakan jauh lebih sakit, Bian. Percayalah." Nafas Nuna sangat terasa berat.
Untuk sesaat pandangan mata mereka bertemu. Wajah yang penuh dengan peluh membuat Bian tanpa sadar mengusap wajah wanita itu. Wajah keduanya yang dekat membuat wajah mereka menghangat karena hembusan nafas yang keluar.
"Bian, maafkan aku. Ini sakit sekali, aku sudah menahannya dari tadi."
Baru kali ini Bian melihat wajah Nuna dari dekat. Ia meneliti wajah itu dengan jelas, setiap inci di kulitnya membuat detakan jantung Bian terasa semakin brutal.
"Kau bisa atur nafasmu, Nuna. Kau akan lebih merasakan sakit saat kau panik. Kau pasti bisa. Sebentar lagi, kau akan bertemu anakmu. Pikirkan itu!"
Nuna hanya mengangguk pasrah, nafasnya sedikit terengah-engah, lantaran beberapa kali berusaha untuk mendorong bayinya agar bisa keluar lebih cepat.
Tak berselang lama, dokter dan satu suster datang untuk memeriksa perkembangan pembukaan.
"Sus, kunci pintunya. Pembukaan sudah lengkap."
"Apa? Tapi, Na, Ibu mu masih ... Dok... Ibunya masih berada di luar. Kenapa dikunci pintunya?"
__ADS_1
"Yang diperlukan itu Anda. Ayo kasih semangat ke istriya, ya. Untuk ibunya lakukan apa yang saya intruksikan."
"Tapi..."
"Silakan Bapak tenangkan istrinya, ya," potong dokter wanita itu cepat.
Akhirnya Bian hanya bisa pasrah. Tak pernah bermimpi ia sebelumnya terjebak di dalam situasi seperti ini. Menemani melahirkan istri orang, astaga, terpikir dalam benaknya saja ia tidak pernah.
Nuna semakin tegang, ia yang bingung mencari pegangan akhirnya salah satu tangannya mencengkram kuat tepian ranjang sedangkan satu tangannya mencengkram bantal.
Bian yang baru pertama kali melihat situasi seperti ini hanya menelan ludahnya kasar. Ia pun mendadak berkeringat dingin melihat Nuna yang sejak jadi berusaha melahirkan anaknya.
"Pak, tolong bantu istrinya untuk membuat posisi sedikit terduduk. Sus tolong dibantu." Nuna hanya pasrah saja, apa pun yang diperintahkan oleh dokter akan ia jalankan asal bayinya segera lahir. Ia sudah tak tahan dengan rasa sakit yang menyerang sejak siang tadi.
"Sekarang Bapak silakan naik keranjang, duduk di belakang istrinya. Untuk ibunya bisa bersandar di badan bapaknya, ya. Jangan sungkan, tidak perlu malu-malu. Hanya ada kita di sini."
"Tapi, Dok, masalahnya..."
"Bian cepatlah naik! Nggak kasihan kamu sama aku?"
"Tapi..."
"Naik Bian, anakku harus segera dilahirkan," teriak Nuna sedikit keras.
Merasa terpojok dengan situasi yang sedang menyelimutinya, ditambah lagi dengan suster dan dokter yang berada di ruangan itu sama-sama menatapnya dengan datar membuat ia naik ke ranjang dan membawa tubuh Nuna untuk bersandar di bahunya.
"Jangan lupa bisikan kalimat penyemangat, ya Pak. Tenaga Bu Nuna mulai melemah."
Bian dengan perlahan menatap wajah yang lagi-lagi sangat dekat dengannya. Wajah pucat dan nafas yang tak beraturan sungguh membuat Bian terbawa perasaan. Tangannya tanpa sadar menggenggam dan mengeratkan jari jemari Nuna seakan ia sedang memberikan kekuatan melalui sentuhan.
"Dokter saya tidak sanggup, saya sudah tidak kuat." Nuna berucap sangat lemah, bahkan dirinya nyaris memejamkan mata di tengah proses persalinan yang belum usai.
__ADS_1
"Nggak boleh nyerah Nuna, kau masih ada keinginan yang harus diwujudkan. Ayo kuat, kau bisa. Ayo lakukan sekali lagu untuk bertemu anakmu. Sekali saja!"
Bisikan dari Bian rupanya membuat Nuna teringat dengan visi misinya setelah ini. Dengan sisa tenaga yang ada Akhirnya ia kembali menguatkan diri untuk mendorong anaknya agar segera keluar. Genggaman kuat dari Bian menambah semangat Nuna dan akhirnya terdengarlah suara tangisan bayi yang memecahkan ketegangan malam itu.