Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
14. Bertemu Lagi


__ADS_3

"Haruskah kamu mengatakan hal yang sekeji itu di depan orang lain? Ibuku statusnya masih menjadi mertuamu, bersikaplah hormat padanya."


Arga menyusul kepergian istrinya itu ke kamar.


"Hormat? Semenjak aku datang ke sini aku sudah menghormatinya, tapi lihat apa yang dia lakukan! Apakah aku harus tetap menghormatinya ketika dia merendahkan aku? Kenapa kamu nggak minta dia untuk menghormati aku juga? Apakah karena dia lebih tua, aku yang muda, aku nggak pantas dihormati begitu? Apakah pantas seorang ibu mengatakan hal seperti tadi pada orang lain? Coba jika posisinya di balik. Apakah kamu juga akan diam? Kamu menghamili aku. Apakah orang tuaku menghinamu? Apakah orang tuaku juga memaki, memukulimu tidak, kan? Karena apa? Karena mereka juga sadar bahwa aku juga salah dalam hal ini. Aku bisa hamil karena ada campur tangan dari kamu. Apakah kamu berpikir bahwa aku bisa hamil sendiri? Ibumu selalu menyalahkan aku, hanya aku saja yang disalahkan atas kehamilanku."


"Lupakan bahwa aku pernah bersenggama denganmu. Nyatanya anak yang kamu kandung bukan anakku. Berhentilah bersikap kurang ajar pada Ibu jika kamu masih ingin di sini selama kamu hamil. Jangan lupa, urus dirimu sendiri!"


Arga kembali bergabung dengan Bu Ningsih dan Lia setelah memberikan teguran pada istrinya. Sungguh kesalahpahaman ini membuat Nuna menjadi lemah. Ia bingung hendak apa. Sempat terlintas di kepalanya untuk pulang saja, tapi membayangkan wajah kedua orang tuanya saja ia tak sanggup. Ia tak mampu membuat mereka menjadi sedih ataupun terbebani dengan anaknya yang gagal menjadi orang ini.


Hari terus berlanjut, keberanian Nuna terhadap Ibu mertuanya nyatanya berdampak pada kedekatan Lia dan Arga. Keberanian wanita muda yang tengah mengandung itu dijadikan senjata dan aji mumpung untuk Bu Ningsih dan Lia.


Sakit hati Nuna semakin melebar ketika Arga mulai membanding dirinya dan Lia. Hubungan suami istri itu sudah sangat terlihat jelas tak bisa dipertahankan. Nuna seperti kehilangan harga dirinya ketika ia terus mengalah demi keutuhan rumah tangganya. Ia sudah gagal menjaga kesuciannya, ia tak ingin gagal untuk kedua kalinya. Ia tak ingin perpisahan ini terjadi. Sebisa mungkin ia bertahan dan membawa suaminya kembali.


Pagi itu, Nuna berniat ingin mencari pekerjaan lagi. Ia harus mencari uang untuk dirinya sendiri dan calon anaknya. Meskipun ia sendiri bingung harus mencari pekerjaan di mana. Ia terus berjalan menyusuri jalan. Siapa orang yang akan mengizinkannya bekerja di saat dirinya hamil seperti ini? Pikir Nuna mengelus perutnya yang sudah terlihat meyembul keluar.


Nuna menatap kedai di seberang, hatinya ingin ke sana, namun pikirannya melarang. Ia sudah sungkan dan malu untuk menunjukkan muka dihadapan Bian. Ia mempercepat jalannya agar segera menjauh dari sana.


Beberapa langkah menjauh, Nuna kembali santai berjalan. Ia menengok ke kanan dan ke kiri berharap ada toko, atau apa pun yang mencari karyawan. Bukannya melihat apa yang ia inginkan,  Nuna justru melihat ada seorang wanita muda yang berdiri di pinggir jalan dengan fokus pada ponselnya. Wanita itu tak sadar berdiri sedikit jauh dari pinggiran aspal. Dan dari arah berlawanan Nuna berjalan, ada pengendara motor yang sedang kebut-kebutan.

__ADS_1


"Awas!" Nuna berhasil menarik tangan wanita itu dan ia tersungkur di aspal. Ia seketika tak sadarkan diri karena kepalanya yang terbentur trotoar.


"Astaga Mbak ... Mbak ... Nuna? Aduh gimana nih?"


Bianca panik, tak ada satu pun orang yang berjalan yang bisa ia mintai tolong. Darah yang keluar dari kepala Nuna semakin banyak. Akhirnya ia membawa Nuna ke puskesmas terdekat.


Bianca yang harus segera berangkat kuliah terpaksa harus mengubungi sang Kakak untuk menunggu Nuna hingga sadar. Rasanya tak sopan jika ia meninggalkan Nuna begitu saja tanpa kepastian. Meskipun ia sudah tanggung jawab, setidaknya ia harus mengucapkan satu kalimat sederhana yang saat ini sudah mulai terlupakan oleh kebanyakan orang.


Seperti biasa, Bianca yang sama cerobohnya dengan Nuna itu mendapat omelan terlebih dahulu dari Bian. Kedainya baru saja akan ia buka. Tapi harus ia urungkan karena kecerobohan yang dibuat sang adik.


"Kamu sama dia tuh sama, sama-sama cerobohnya. Nggak bisa kamu mau nyebrang lihat jalan?" Seakan tak puas dengan omelan tadi saat ditelepon, Bian kembali memarahi adiknya ketika sampai di puskesmas.


Adik Kakak yang jarang akur itu akhirnya terpisah dengan kondisi yang sama-sama kesal.


Bian berhenti sejenak saat berada di depan ruangan. Jantungnya tiba-tiba merasa berdetak tak tenang.


Aku sudah tidak ingin berhubungan dengan Nuna. Tapi kenapa ada saja yang membuat aku ketemu sama dia?


Bian menarik napas panjang lalu membuka pintu dan melihat Nuna yang masih tak sadarkan diri dengan plester di kepalanya. Ia duduk di kursi yang terpasang di sana dan mengamati wajah wanita itu dengan seksama.

__ADS_1


Entah perasaannya saja atau memang Nuna sedang tak baik-baik saja. Ia hanya merasa jika dilihat dari wajahnya, wanita itu masih berada dalam masalah. Melihat hal itu, ia jadi teringat dengan kejadian beberapa hari lalu. Di mana dirinya dihajar habis-habisan oleh Arga meski ia sudah menjelaskan kisah sebenarnya. Apakah lelaki itu juga melakukan pukulan fisik dengan istrinya?


Nuna membuka mata perlahan saat Bian sedang sibuk dan tenggelam dalam pikirannya. Ia seketika terduduk karena seingatnya tadi ia berada di jalanan.


"Tidak bisakah kau duduk dengan pelan? Kau mengejutkanku!"


"Kok aku ada di sini?" tanya Nuna bingung mengabaikan protes dari Bian.


"Kepalamu terbentur trotoar karena menyelamatkan adikku, lalu dia bawa kau ke Puskesmas."


Nuna diam mengingat kejadian itu. Ia seketika menunduk dan meraba perutnya ketika ia ingat bahwa ia tersungkur di aspal.


Melihat kekhawatiran Nuna, Bian yang cukup peka untuk jadi seorang lelaki itu menyahut, "Kandunganmu nggak apa-apa. Makasih, ya udah nolong Bianca. Dia nggak bisa nunggu sampai sadar karena harus kuliah. Jadi dia hubungi aku untuk nunggu. Apa ada yang sakit?"


Nuna menggeleng pelan dan lemas. Ia sudah lelah berjalan jauh, perutnya juga terasa lapar saat ini. Semakin ke sini kehamilannya membuat ia sedikit kelaparan dalam waktu yang singkat.


"Jadi nama adik kamu Bianca? Dia antar tas ku setelah pulang dari sini waktu itu." Membahas hal itu membuat Nuna teringat soal Arga yang mengatakan memberikan pelajaran kecil pada Bian.


"Bian, apa suamiku mencelakaimu? Jika iya, aku minta maaf. Kamu tidak datang sore itu, aku berpikir kamu...."

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Aku sengaja nggak datang, saat aku akan ke rumahmu. Suamimu datang dengan emosi, kalau aku maksa ke sana keadaan justru akan tambah runyam. Apa kau baik-baik saja? Kenapa matamu terlihat begitu? Itu bukan mata orang yang sehat," ujar Bian menelisik mata Nuna yang berkantung sekaligus sembab.


__ADS_2