Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
81


__ADS_3

"Rumah sakit macam apa bisa ada penyusup dan membawa kabur pasien. Saya nggak mau tahu kalian harus tanggung jawab kalau tidak, akan saya tuntut kalian karena keteledoran kalian." Nuna histeris begitu sadar dan teringat bahwa anaknya menghilang.


Ia masih ingat betul ada seseorang yang membelakanginya dan menghadap ranjang sang anak ketika ia hampir saja tak sadarkan diri.


"Sayang tenang. Tenang dulu, dengerin aku. Ini rumah sakit, kamu bisa dianggap ganggu pasien. Tenang sebentar, please. Istighfar, belajar untuk mengendalikan emosi, oke. Tarik napas dalam, buang pelan-pelan, istighfar."


Nuna terududk di lantai. Ia sangat takut jika Ia tidak bisa bertemu dengan sang anak. Ia yakin bahwa yang membawa Cashel adalah mantan mertuanya, siapa lagi memang yang selama ini berurusan dengannya? Sejauh ini hanya Bu Ningsih yang memang seringkali mengusik kehidupannya.


Bian yang belum bisa melalukan apa-apa tak lantas membuat ia diam saja. Ia sudah menghubungi teman-temannya yang memiliki koneksi dengan orang-orang yang bisa diandalkan untuk memecahkan kasus seperti ini.


"Kita ke rumah Arga sekarang. Kalaupun memang Cashel nggak dibawa pulang, kita bisa minta bantuan Arga untuk ambil Cashel dari ibunya."


"Omong kosong apa ini, Bian? Ini pasti rencana mereka berdua. Mana mungkin Arga akan melakukan apa yang kamu bicarakan?"


"Kamu mau nangis di sini apa melakukan pergerakan?"


°°°


Cashel baru saja membuka mata saat Bu Ningsih membuka pintu dan membawa semangkuk bubur ayam yang masih mengepul asapnya. Dengan senyum sepanjang jalan kenangan, Bu Ningsih berjalan mendekati ranjang Cashel.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun? Nenek bawa bubur ayam buat kamu, ayo duduk dulu bisa, kan?" Bu Ningsih meletakkan mangkuk tersebut di meja dan membantu Cashel untuk duduk.


Sementara anak itu hanya diam meski mengikuti arahan Bu Ningsih untuk duduk. Ia diam sembari memikirkan di mana dan bersama siapa ia sekarang. Ekor matanya melirik ke segala sudut ruangan.


Mengerti kebingungan Cashel, Bu Ningsih buka suara, "Kamu pasti bingung ini di mana, ya? Ini rumah Nenek. Ayah kamu kebetulan lagi ada di luar kota, tapi sebentar lagi pulang. Habis Ayah pulang, kita pindahan, ya. Kamu tinggal sama Nenek dan Ayah aja. Kita tinggal bertiga. Mau, kan?"


Cashel menggeleng, "Aku cuman mau sama Ibu. Nenek kenapa bisa ambil aku? Aku nggak punya Ayah selain Om Bian. Laki-laki yang akan menikah sama Ibu. Aku cuman mau tinggal sama Ibu."


"Iya, tapi Ayah kandung kamu itu Ayah Arga, anaknya nenek. Orang yang sudah menyelamatkan kamu, Ayah Arga sudah memberikan darahnya supaya kamu tetap hidup. Ayah rela mengurangi darahnya, sementara Ibu dan calon Ayah kamu, apa yang mereka lakukan selain menangisi kamu? Mereka nggak ngasih darahnya ke kamu, kan? Itu artinya Ayah lebih sayang sama kamu."


"Ibu sama Om Bian sayang kok sama aku. Mereka nggak ngasih darahnya, kan mereka juga kecelakaan. Mereka, kan juga sakit. Masa orang sakit ngasih darah ke aku?"


"Sambil makan!" Bu Ningsih menyodorkan satu sendok bubur ke mulut Cashel. Tak ia sangka bahwa anak ini cukup pintar untuk sebuah kebohongan.


"Kamu kalau nggak mau makan, nanti kamu lapar. Kamu nggak sembuh-sembuh. Atau kamu mau makan yang lain? Mau ayam atau apa? Ngomong sama nenek, biar nenek masakkan."


"Nggak mau, aku mau pulang. Ibu pasti nyariin aku."


"Siapa bilang? Ibu yang antar kamu ke sini, katanya kamu juga harus kenal sama Ayah Arga dan nenek. Makanya kamu bisa di sini, kan? Nanti lambat laun kamu akan mengerti, siapa nenek dan Ayah Arga. Sekarang kamu nurut dulu sama nenek."

__ADS_1


"Bohong. Aku pernah dengar kalau Ibu nggak pernah izinin nenek untuk bawa aku. Ibu juga bilang nggak ada siapa pun yang bisa ambil aku dari Ibu."


Bu Ningsih ingin sekali marah, tapi beliau sadar jika menunjukkan amarahnya di depan anak itu, yang terjadi hanyalah Cashel yang akan ketakutan dan semakin tidak mau tinggal dengannya. Yang terpenting sekarang adalah beliau harus bisa menghasut Cashel untuk bisa membenci ibunya dan memilih tinggal bersamanya.


"Itu, kan dulu. Mereka kemarin bilang sama nenek kalau harus jagain kamu dulu sementara biar bisa fokus sama pernikahan orang tua kamu. Mereka nggak mau diganggu katanya, nanti kalau kamu minta tinggal sama Ibu sekarang, kamu ganggu Ibu."


Anak polos itu diam dan berpikir, jika mengingat serangkaian momen sebelum kecelakaan, ia merasa sangat tidak mungkin jika ibunya dan Bian menganggap ia adalah pengganggu. Jika memang seperti itu, kenapa ia selalu dilibatkan dalam serangkaian acara bahkan ikut serta dalam setiap momen penting.


"Nenek bohong, ya. Aku selalu diajak ke mana-mana kok sama Ibu dan Om Bian. Aku kecelakaan juga karena habis dari cobain baju yang dipakai pas pesta. Ibu punya salah, ya, sama Nenek? Kok nenek jahat sama Ibu?"


"Iya, ibumu itu jahat. Dia egois, nenek dan Ayah itu punya hak atas kamu. Kami juga keluarga kamu, tapi apa yang dia lakukan? Dia nggak izinin nenek dan Ayah untuk ketemu sama kamu, itu nggak boleh. Namanya itu tindakan kejahatan. Tidak adil."


Cashel tak terlalu paham dengan apa yang ia dengar. Hak, tindakan kejahatan, entah tindakan kejahatan yang bagaimana. Disaat seperti ini, Tiba-tiba pikiran Cashel melayang ke beberapa waktu lalu. Waktu di mana ia bertanya pada neneknya mengenai keberadaan dan wujud ayahnya, namun jawaban dari neneknya membuat ia bungkam dan tak lagi menanyakan perihal sang Ayah.


"Ayah yang ninggalin aku sama Ibu."


"Siapa yang bilang? Itu bohong." Bu Ningsih mulai mengeluarkan air mata kepalsuan yang sudah lama tak ia keluarkan. Sementara Cashel masih mengamati wanita tua yang sudah memiliki banyak uban dan keriput di beberapa bagian wajahnya.


"Ibu kamu yang ninggalin kami. Hanya karena Ayahmu yang tidak punya banyak uang. Ibu kamu nggak mau terima keadaan Ayah. Nenek nggak sangka ibumu malah memutar balikkan fakta." Bu Ningsih tersedu seolah menjadi artis yang sedang menghayati perannya.

__ADS_1


Cashel masih diam menatap wanita yang mengaku neneknya itu. Belum sempat ia berucap, terdengar suara dari luar kamar memanggil dengan sebutan 'ibu'.


"Lah itu Ayah pulang. Kamu makan buburnya, nenek keluar dulu."


__ADS_2