
Hari baru, semua serba baru. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Nuna dan Arga. Mereka sama-sama menikmati hari baru di tempat yang berbeda. Status Arga kini bukan lagi menduda, dengan dorongan dari Bu Nungsih dan Lia, pria itu akhirnya menikah dengan wanita yang lagi-lagi ia hamili. Entah apa yang salah dengan pria itu, ia menikah dua kali dengan kondisi wanita yang sama-sama sudah mengandung benih darinya.
Di usia kandungan yang memasuki usia empat bulan, Lia memerankan peran persis seperti yang Bu Ningsih koar-koar kan pada Nuna. Ia hanya duduk diam, rebahan, dan hanya ongkang-ongkang kaki di kamar. Mereka memang tak tinggal serumah, Lia ingin tinggal di rumahnya saja, selain tak ada yang menempati rumah lantai dua yang seringkali ia agung-agungkan, ia juga tak mau tinggal satu atap dengan mertua. Meskipun hubungan mereka akrab, tetap saja Lia memasang pembatasan untuk kedekatannya. Mengingat Ibu mertuanya itu suka mengumbar apa pun, ia juga harus ekstra waspada.
"Lia, kandungan kamu sehat. Kamu nggak harus bedrest. Kamu bisa kalau hanya nyapu-nyapu aja, kayaknya nggak akan buat kamu cape."
Bukan Bu Ningsih yang mengatakan itu, namun Arga sendiri yang menegurnya. Ia ingat bahwa istrinya yang dulu rajin dan menjadi ibu rumah tangga yang baik meski ia baru menyadari setelah beberapa bulan pernikahan dan saat sedang bersitegang.
"Aku emang nggak harus bedrest, Ar. Tapi badan aku ini masih suka lemes. Kenapa sih emangnya? Ibu aja nggak apa-apa beres-beres rumah sama masakin buat kita, nggak pernah protes dia. Lagian kan dia nggak ada kerjaan juga selain beberes. Kamu, kan tahu kadang aku juga ngurusin toko."
Arga hanya menghela nafas berat. Entah bagaimana cara ia menjelaskan pada Lia bahwa yang ingin lakukan ini sama sekali tidak menghargai ibunya.
"Belum berangkat, Ar? Tumben?" Manusia yang sedang dibela oleh anaknya kini muncul. Seperti biasa, beliau akan muncul persis seperti asisten rumah tangga yang hanya datang untuk membersihkan rumah dan juga memasak.
Bu Nungsih tidak pernah protes akan hal itu, bahkan beliau senang-senang saja saat melakukannya karena memang mendapatkan menantu yang kaya raya adalah impian satu-satunya. Meskipun beliau harus diperlakukan seperti pembantu oleh menantunya sendiri, Bu Ningsih tidak mempermasalahkan itu karena beliau merasa itu sudah menjadi kebiasaan dan pekerjaannya sehari-hari. Jadi tidak masalah bagi beliau jika harus membantu menantunya untuk melakukan pekerjaan rumah.
__ADS_1
"Ini aku mau berangkat. Ibu jangan cape-cape, nanti setelah selesai bersih-bersih rumah sama masak langsung pulang, istirahat. Nggak usah ngerjain hal yang lain lagi."
"Arga Ibu ke sini tuh cuma buat masak sama bersih-bersih rumah. Aku udah cuci pakaian kita sendiri. Kamu kenapa, sih? Kok kayak nggak suka banget Ibu bantuin aku?"
"Bukannya aku nggak suka, Lia. Emang kamu ini keterlaluan, kamu bisa melakukannya sendiri, kenapa kamu harus minta orang lain untuk melakukannya? Kamu tahu, Nu...."
Arga seketika berhenti berucap. Ia hampir saja menyebut nama mantan istrinya setelah beberapa bulan terpisah. Ia sebenarnya berusaha keras untuk melupakan Nuna dan perlahan ia mulai mengikhlaskan perpisahan yang ia buat dengan sendirinya. Tapi apa yang dilakukan istrinya sekarang ini selalu mengingatkan ia pada istri pertamanya dahulu. Karena sikap dan tingkah mereka sangat jauh berbeda, hal itu justru membuat Arga diam-diam membanding-bandingkan Nuna dengan istrinya yang sekarang.
"Udah Ar, ngapain sih berantem cuma urusan kecil kayak gini. Ini tuh masalah kecil, nggak apa-apa kok Ibu beres-beres rumah sama masak di sini. Lagian Ibu juga nggak ada kegiatan, selesai melakukan itu juga Ibu istirahat, pulang. Udah nggak ngapa-ngapain lagi, selama kamu kerja Lia nggak pernah ngerepotin Ibu kok."
Pagi-pagi udah bikin kesel aja kamu," sungut Lia meninggalkan ruang tengah.
Arga hanya buang muka kesal. Baru beberapa bulan ia menikah, namun tak terhitung lagi hari ini adalah ke berapa kalinya ia marah dengan istrinya.
"Arga kamu tuh ngapain, sih? Jangan sering-sering bikin orang kesel apalagi dia lagi hamil anak kamu."
__ADS_1
"Ibu, Ibu jujur sama aku. Cara memperlakukan Nuna dan Lia itu jauh berbeda. Ibu benci Nuna, tapi dia tetap melakukan pekerjaan rumah, mau dia hamil muda ataupun hamil tua. Ibu nggak ngapa-ngapain, kan? Tapi ibu malah membuang dia dari kehidupan kita dan Ibu mungut Lia. Ibu bawa masuk ke dalam kehidupan kita."
"Lah, kok kamu jadi nyalahin Ibu sih? Kamu nikah cepat sama Lia, kan juga karena kamu hamilin dia."
"Ya kalau Ibu nggak maksa aku untuk deketin Lia, untuk buka hati sama dia, ya mana mungkin aku bisa sampai khilaf sejauh itu."
Ibu dan anak itu akhirnya berdebat mendebatkan siapa yang salah dan benar, siapa yang menjadi korban dan tersangka, siapa yang paling dirugikan dan diuntungkan. Itu adalah perdebatan pertama kalinya yang terjadi antara Arga dan ibunya. Seperti yang kita ketahui dari awal, bahwa Arga adalah sosok pria yang sangat mencintai ibunya lebih dari apa pun. Apa pun yang dilakukan ibunya di matanya adalah sebuah kebenaran. Dan setelah semua tabir terbuka dengan lebar, untuk pertama kalinya Arga berdebat panjang dengan sang Ibu.
"Kalian berdua kenapa jadi ribut di situ, sih? Berisik tahu."
"Ibu lihat, kan? pernah Nuna bicara kayak gitu sama Ibu?"
"Dia jauh lebih tidak sopan daripada Lia, kamu lupa dia pernah hina Ibu?"
"Nggak, aku nggak lupa sama detik-detik terakhir Nuna memperlakukan Ibu, tapi semakin ke sini aku semakin sadar dan aku ngerti kenapa Nuna kayak gitu. Karena dia bener, dia nggak salah, Ibu yang buat dia menghina Ibu. Aku bukannya belain Nuna, tapi apa yang terjadi itu juga karena Ibu. Aku kalau di posisi Nuna juga nggak terima Bu, di fitnah sekeji itu."
__ADS_1
Merasa kesal dengan anak semata wayangnya, Bu Ningsih memilih untuk meninggalkan Arga dan mulai melakukan kegiatan rutinnya.