
"Sayang, kenapa? Kamu nggak mau Mas kasih ini?"
"Nggak apa-apa, sih. Cuman takutnya malah buat Cashel sedih aja. Jadi keinget sama Arga."
"Insyaallah nggak. Amanah lebih cepat disampaikan lebih cepat lebih baik. Ikut Mas ke resto, yuk. Mas kasih tahu urusan resto. Biar kamu juga bisa urus, kita urus bareng. Biar kamu juga tahu kondisi keuangan Mas."
Nuna tersenyum kecil, ia lalu melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Bian. Meletakkan kepalanya di bahu lebar sang suami dan, "Kamu ini manusia apa malaikat? Kamu sempurna banget menjadi suami. Mungkin ini alasan aku memilih untuk lahir ke dunia dan berdampingan dengan berbagai masalah berat. Kamu lebih dari obat buat aku. Kamu kehidupan aku, kamu udara buat aku, aku pernah melewati hari tanpa kamu bertahun-tahun, aku pernah menjauh dari kamu meski kita berada di jarak yang dekat, tempat yang sama, bahkan disaat hati aku ingin dekat tapi raga aku mengatakan ingin menjauh. Aku sudah melewati semuanya. Kamu tahu hasil dari apa yang aku lakukan itu? Semakin ke sini aku semakin nggak bisa tanpa kamu, Mas."
"Yang kita lewati adalah proses penguatan cinta kita. Kita serahkan saja semua rasa kita pada Tuhan. Berdoa setiap saat agar rasa kita nggak pernah berubah apalagi hilang. Mau ikut ke resto sekarang apa kapan-kapan?"
"Mau sekarang, aku mau makan di sana. Tiba-tiba aku kangen sama masakan sana. Aku ganti baju sebentar."
°°°
Hari itu berlalu dengan cepat. Keluarga kecil itu merasa baru saja merasakan hangatnya mentari pagi, namun tiba-tiba dunia sudah gelap dan diterpa angin malam yang cukup dingin malam itu.
__ADS_1
Di bawah sebuah pohon mangga, terdapat saung kecil yang Bian buat, ia biasa menghabiskan hari dan pekerjaannya di sana saat sedang bosan berada di tempat yang itu-itu saja. Keluarga kecil yang sedang berada di puncak kebahagiaan itu sedang duduk menikmati bintang bulan yang bertebaran di atas sana.
"Bu, Yah. Kata Ibu guru, kalau keluarga kita ada yang meninggal itu sekarang dia lagi lihatin kita dari atas sana, ya, Bu? Berarti Ayah lagi liatin kita, Bu? Ayah tahu aku duduk di sini sama Ibu sama Ayah Bian?"
"Iya tahu. Ayah akan tersenyum kalau kamu juga bahagia. Begitu juga kalau kamu sedih, Ayah akan sedih juga. Makanya kamu do'ain Ayah terus biar bisa liat kamu dari atas sana. Do'anya jangan putus sampai akhir hayat kamu nantinya."
Cashel mengangguk saja dengan nasihat ibunya. Baginya, apa pun yang diucapkan oleh orang-orang terdekatnya adalah hal kebenaran.
"Nak, ini Ayah Bian ada titipan dari Ayah Arga. Ayah Arga nitip ini ke Ayah pas kamu ulang tahun beberapa bulan yang lalu. Ayah nggak langsung kasih waktu itu, soalnya Ibu, kan, lagi ngambek sama Ayah Arga. Tapi, kan, sekarang udah baikan, udah nggak ngambek lagi. Jadi ini Ayah Bian kasih kamu hadiah dari Ayah Arga." Bian memberikan satu kotak berukuran sedang.
Kotak tersebut dibungkus Cantik dengan kertas kado berwarna coklat. Cashel langsung membuka kotak tersebut begitu benda itu ada di tangannya. Seperti anak kecil pada umumnya, ia akan senang menerima hadiah dari orang terdekatnya.
Sebuah senyuman yang dipaksa seakan tergambar di bibir Arga. Wajah lelah dan badan yang ternyata sudah mulai nampak kurus, rupanya sudah terlihat sudah lama.
"Kamu baca, Sayang. Itu ada surat dari Ayah."
__ADS_1
"Ini foto kapan, Yah? Ini, kan di rumah nenek yang lama. Sebelum pindah ke kota. Kok aku nggak pernah ketemu sama Ayah kalau Ayah pernah datang ke rumah?" Untuk pertama kalinya Cashel mengabaikan ucapan dari orang terdekatnya.
"Mungkin ini foto pas kamu udah pindah ke sini. Mungkin pas kamu lima tahunan kali, ya. Jadi Ayah dulu sempat cari kamu, tapi nggak nemu. Ayah Bian juga dulu nyari-nyari kamu sama Ibu tahu. Cashel sedih lihat foto ini?"
"Nggak. Foto Ayah satu-satunya yang aku punya. Pas Ayah sebelum meninggal, kita sering foto bareng waktu main. Tapi pakai HP nya Ayah. Ibu, kalau ke rumah nenek Ningsih aku mau dicetakin foto Ayah yang sama aku. Buat aku pajang di kamar. Foto ini boleh aku pajang di kamar?"
Nuna menelan ludahnya susah payah, ia sedikit khawatir dengan ucapan Cashel. Ia melihat ke arah Bian, wanita itu takut jika ucapan sang anak membuat Bian ada rasa tersinggung atau sakit hati karena merasa di nomor duakan.
Dan memang kenyataan, iya. Ada rasa sedikit sedih dan sakit saat mendengar Cashel mengatakan ingin mencetak fotonya dengan Arga dan di pajang di kamar. Sementara dirinya juga memiliki ratusan foto dengan anak itu, tapi Cashel tidak berpikir ke arah sana, jujur saja Bian tiba-tiba merasa cemburu.
Setelah terdiam beberapa saat, Bian akhirnya buka suara. Melihat Nuna yang juga terdiam membuat ia cepat tanggap terhadap situasi.
"Ya, nggak apa-apa dong. Nanti weekend kita ke rumah nenek Ningsih, kita minta foto kamu sama Ayah Arga yang banyak, terus kita cetak bareng-bareng. Nanti kamu pajang di mana aja boleh. Tuh ada surat dari Ayah, bacain coba."
Bian berusaha untuk tidak menunjukkan bahwa ia sebenarnya sangat cemburu. Meskipun mungkin saja Nuna bisa membaca mimik wajahnya, ia berusaha memasang bibir yang membentuk senyuman.
__ADS_1
"Cashel, anakku. Ayah minta maaf karena nggak datang di hari lahir kamu setiap tahunnya. Ayah tahu, pasti kamu sudah diberikan hadiah yang banyak sama Ibu dan Ayah Bian. Ayah minta maaf karena tiba-tiba muncul dalam kehidupan kamu. Mungkin kamu bingung, kamu belum paham benar bagaimana bisa kita terpisah. Lebih tepatnya Ayah akui, Ayah yang meninggalkan kamu. Ayah akui Ayah salah. Itu sebabnya Ayah tidak mau terlalu percaya diri dengan sering muncul di hadapan kamu dan Ibu. Ayah tahu kamu pasti benci sama Ayah. Nggak apa-apa kamu nggak mau ketemu atau benci sama Ayah. Nggak masalah buat Ayah. Bagi Ayah, dengan kamu tahu bahwa orang yang ada di foto ini adalah Ayah, itu sudah lebih dari cukup. Tolong sebenci apa pun kamu sama Ayah, jangan dibuang, ya, Nak. Kamu bisa simpan di bawah lemari atau tempat tidur kamu jika kamu nggak mau lihat foto Ayah. Tapi tolong jangan dibuang. Ini Ayah juga ada jaket buat kamu liburan. Ayah lihat kehidupan Ibu sudah sangat baik, barangkali kamu suatu saat nanti diajak liburan ke luar negeri, kamu bisa pakai ini. Maaf hadiah dari Ayah nggak mahal. Tapi Ayah kasih itu dengan ikhlas dan dari hati yang paling dalam. Mudah-mudahan bermanfaat, ya Nak. Sekali lagi Ayah minta Maaf nggak bisa jadi Ayah yang baik dan memberikan contoh yang baik untuk kamu. Belajar yang rajin, jadi anak sholeh, nurut sama orang tua, ya, Nak. I love you."
Kurang satu bab lagi menuju akhir kisah Nuna dan Bian.