Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
31. Terkuak


__ADS_3

Arga membawa motornya dengan keadaan setengah melamun. Ia memang terlihat acuh dan menyangkal saat berada di depan semua orang, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa saat ia sendirian ia kepikiran dengan hasil tes DNA dan juga wajah bayi yang baru saja ia lihat.


Jujur saja, ada perasaan dan rasa yang aneh ketika ia berada di dekat bayi itu. Perasaan aneh yang sudah ia rasakan ketika ia mengikuti supir taksi yang membawa istrinya ke rumah baru itu.


Ya, setelah malam pertengkarannya dengan Bian itu, keesokan harinya Arga kembali mendatangi rumah sakit bermaksud untuk meminta Nuna menandatangani surat cerai. Namun, belum sempat ia menemui istrinya Arga sudah mendapati Bian yang berada di halaman bersama dengan Nuna beserta ibunya. Melihat mereka memasuki mobil yang sama, akhirnya membuat Arga tergerak untuk mengikuti mobil yang mereka tumpangi.


Arga kini hampir melewati rumah sakit di mana tempat Nuna melahirkan sekaligus tempat di mana Bian melakukan tes DNA. Ditengah kebimbangan dan juga pertengkaran batin yang ia alami, ia menghentikan motornya di tepi jalan. Ia menatap bangunan besar itu dengan nanar. Haruskah ia pergi ke sana untuk melegakan hatinya?


Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya Arga membelokkan motornya ke bangunan yang tak pernah lekang oleh jamahan manusia itu. Meski ragu, ia tetap membawa langkahnya untuk maju.


°°°


Sementara di lain tempat, setelah kepergian Arga, Nuna terduduk lesu di lantai. Siapa yang tidak hancur jika kehidupannya seperti Nuna saat ini. Berpisah dengan suaminya, anaknya yang tidak diakui, dan tunggu, bukankah tadi ia harus menanyakan satu hal pada Bian?


Nuna menghapus air matanya kasar dan seketika berdiri saat ibunya baru saja akan memenangkan dirinya.

__ADS_1


"Bian, kamu masih punya hutang satu penjelasan sama aku. Apa maksud ucapan kamu tadi? Apa yang kamu ketahui tentang Arga? Siapa yang dihamilinya?" Sorot mata Nuna sangat menunjukkan bahwa ia sedang hancur hatinya.


Pancaran mata Nuna membuat Bian memilih bungkam. Bagaimana bisa ia menjelaskan apa yang ia tahu di saat situasi yang seperti ini? Hati Nuna sudah cukup hancur menjadi kepingan, tak perlu ia menambah kepingan itu menjadi leburan dan butiran yang lebih kecil.


Air mata yang terus mengalir, namun tak terdengar isakan membuat hati Bian merasa tercubit, ada rasa tak enak yang tiba-tiba menyapa ketika ia melihat butiran air itu mengalir dengan lancar dan bebas tanpa hambatan.


"Bian jawab aku!" pinta Nuna lirih.


Bian belum sempat berucap, niatnya yang memang tak mau menceritakan soal Arga sekarang rupanya didukung oleh Cashel. Bayi yang semula tertidur nyenyak itu tiba-tiba terbangun dan menangis kencang.


Nuna segera mengambil sang anak dari ibunya dan berjalan ke kamar. Bian akhirnya bernapas dengan lega. Ia sudah terbebas dari Nuna, namun tidak dengan ibunya. Wanita tua itu menatap Bian dengan tatapan yang seakan menuntut penjelasan seperti yang dilakukan Nuna tadi.


"Saya sengaja nggak mau cerita ini sama Nuna. Saya khawatir kalau apa yang saya ceritakan ini malah membuat mental Nuna berantakan. Jadi suami Nuna sebenarnya sudah menghamili wanita lain. Saya nggak tahu dia siapa dan sebenarnya mereka berhubungan sudah cukup lama. Suami Nuna punya niatan kalau dia akan menikah setelah mereka resmi bercerai. Itu Saya dengar sendiri dari mulut suami Nuna tepat di hari Nuna melahirkan."


Ibu Nuna sudah tak sanggup mengeluarkan kalimatnya. Beliau kehabisan kata untuk menggambarkan kehidupan Nuna yang pedih semenjak ia menikah. Terlebih lagi saat beliau mengingat setiap kali mereka berkomunikasi melalui telepon, Nuna sangat pandai menyembunyikan apa yang ia alami.

__ADS_1


Ibu Nuna terduduk di sofa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dengan pundak bergetar. Sebisa mungkin beliau menyembunyikan isakannya agar tak terdengar oleh sang anak.


Sepersekian detik kemudian, Bian ikut duduk tak jauh dari Ibu Nuna. Beliau mendongak dan menghapus air matanya seketika saat sadar bahwa beliau terlalu larut dalam kesedihan.


"Terima kasih Bian, kamu sudah peduli sama anak saya. Tindakan kamu sederhana, tapi berdampak besar pada Nuna. Dia pasti akan lebih hancur dari sekarang kalau tahu itu."


"Sekarang yang kita pikirkan adalah bagaimana cara biar Nuna bisa melupakan apa yang menimpanya dengan cepat. Ya setidaknya dia tidak terfokus sama masalah ini. Kira-kira kita kasih dia kesibukan apa ya, Bu?"


Mereka akhirnya larut dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Jika Bian dan Ibu Nuna memikirkan kesehatan mental dan hati Nuna di hari berikutnya, berbeda dengan Arga yang juga mendadak seperti nyawanya diambil paksa oleh keadaan. Ia berjalan keluar rumah sakit dengan tenaga yang tersisa tak seberapa.


Kenyataan yang baru saja ia dengar sungguh membuat jantungnya seakan berhenti. Niat hati ingin membuat pikiran dan perasaannya tenang, kini yang terjadi justru sebaliknya.


"Iya, Pak. Ini surat asli dari rumah sakit kami. Tanda ini hanya dimiliki oleh surat yang keluar dari rumah sakit kami," ujar salah satu suster yang sedang bertugas kala itu. Jarinya menunjuk sebuah logo khas rumah sakit.

__ADS_1


Hancur sudah kehidupan Arga saat itu, anak yang begitu ia tentang kehadirannya rupanya darah dagingnya sendiri. Rentetan kejadian sebelum hari ini akhirnya mau tak mau berputar kembali di kepalanya.


Perputaran setiap momen itu akhirnya membawa Arga pada momen di mana awal kesalahpahaman itu terjadi.


__ADS_2