Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
8. Salah Paham


__ADS_3

"Jadi ini yang membuat kamu beberapa hari ini keluar rumah lupa waktu?"


"Ibu, bagaimana Ibu bisa di sini?"


"Itu tidak penting. Pulang sekarang! Seharusnya kamu lebih hati-hati dalam bekerja biar nggak sampai di pecat."


Bu Ningsih bak orang yang tak berperasaan itu berlalu tanpa dosa dari hadapan Nuna. Salah satu petugas kesehatan yang sempat membantu Nuna tadi datang menghampiri dan memaksa Nuna untuk kembali ke ruangan karena ia belum pulih benar. Dengan segala upaya Nuna bersikeras untuk pulang, namun upayanya itu berujung pada kekalahan.


°°°


Bu Ningsih bagaikan mendapatkan berlian, apa yang beliau dapati hari ini adalah kesempatan emas untuk membuat kesalahpahaman antara Arga dan Nuna. Beliau tak perlu repot-repot berpikir keras untuk membuat keduanya sedikit ada jarak.


Pukul empat sore, Arga pulang dan disambut ibunya dengan menggeret tangannya dan mendudukkan diri ke sofa ruang tamu.


"Ada apa, Bu?"


"Tadi Ibu pas di Puskesmas ketemu sama Nuna. Dia berduaan sama laki-laki. Mereka kelihatan mesra, Ibu nggak berani tegur. Nanti malah Ibu yang diomelin sama Nuna. Dan kamu perlu tahu, Ar. Beberapa hari terakhir Nuna sering kali keluar rumah setelah kamu berangkat kerja dan pulang sebelum kamu pulang kerja. Setiap kali Ibu nanya, dia selalu jawab ketemu sama temennya. Untuk apa ketemu setiap hari dan seharian penuh di luar rumah? Mereka ngobrolin apa? Pasti dia ketemu sama laki-laki yang Ibu lihat di puskesmas tadi. Mulai sekarang kamu harus curiga sama dia. Ibu dari awal sudah nggak yakin kalau anaknya dikandung Nuna itu anak kamu. Pasti anak orang lain dan dia memanfaatkan kamu."


"Ibu salah lihat kali, Bu. Nggak mungkin Nuna kayak gitu, aku kenal Nuna."


"Berapa lama kamu kenal dia? Orang yang kamu kenal dari bayi pun bisa berubah sewaktu-waktu karena keadaan, situasi, atau karena ada kesempatan. Jangan terlalu percaya sama orang."


Seakan berumur panjang, Nuna yang sedang menjadi topik pembahasan sore itu pulang dengan badan yang masih cukup lemas. Ia berhenti di ruang tamu dengan bertukar tatap dengan dua orang yang duduk berdampingan.

__ADS_1


"Mas."


"Ke kamar sekarang!" Arga tanpa memberikan kesempatan untuk Nuna berucap lebih panjang. Ia berjalan ke kamar dengan langkah lebar. Untuk sesaat Nuna menatap ibunya, kemudian mengikuti langkah kaki suaminya.


"Benar apa yang dikatakan Ibu?" Arga bertanya satu detik setelah Nuna membuka pintu.


Nuna dengan takut membawa tubuhnya ke dalam kamar dan duduk di tepian ranjang dekat suaminya.


"Jadi Ibu sudah cerita semuanya?"


"Aku butuh jawaban, bukan pertanyaan."


"Maaf Mas, aku melakukan ini karena aku...."


Emosi Arga yang bergejolak di puncak kepala tarasa ingin meledak. Dirinya yang malu pertengkarannya di dengar Ibu atau para tetangga sekitar rumah memilih untuk pergi saja.


Secepat kilat ia membawa dirinya keluar kamar, namun secepat itu juga Nuna meraih tangan suaminya.


"Mas, aku minta maaf. Aku janji nggak akan seperti ini lagi. Beri aku kesempatan, ini hanya kesalahan kecil yang bisa aku perbaiki. Maafkan aku, Mas." Nuna tak menyangka bahwa respon yang diberikan Arga akan semurka ini. Ia memelas dengan air mata yang sudah berlinang.


"Apa kamu bilang? Kesalahan yang kamu lakukan ini kesalahan kecil dan kamu bisa memperbaikinya? Kamu mau memperbaiki ini dari mana? Tidak ada yang bisa diperbaiki. Lepaskan aku!  Aku tidak sudi di sentuh wanita menjijikan seperti kamu. Kesalahan dan penyesalan terbesarku adalah menikah dengan wanita sepertimu." Dengan sekali tarikan, Arga berhasil melepas tangannya dari genggaman istrinya. Ia berlalu dari kamar dengan pakaian kerjanya.


Aku hanya menyembunyikan kenyataan bahwa aku bekerja, kenapa dia menyebutku wanita menjijikkan?

__ADS_1


Untuk sesaat, Nuna melamun. Kata-kata dari Arga rupanya berhasil membuat ia sedikit terkesiap dan tak sadar bahwa suaminya sudah tak berada di tempat.


"Mas, Mas Arga. Aku hanya tidak jujur satu hal kenapa kamu semarah ini?" Nuna membawa kakinya keluar kamar bermaksud untuk mengejar suaminya. Namun sayangnya, ia terlambat, jejak kaki Arga saja sudah tak nampak di rumah itu.


Saat sampai di teras, ia melihat ibunya yang sedang berkumpul bersama ibu lainnya di tepi jalan. Nuna sudah tak heran atau bertanya-tanya apa yang mereka lakukan dan mereka bicarakan. Jika Bu Ningsih berada di gerombolan itu, itu artinya, ia adalah topik utama dalam obrolan mereka. Tak mau menambah sakit hatinya, ia berbalik badan dan masuk.


°°°


Bian mondar-mandir ke depan dan belakang sejak beberapa jam yang lalu. Hari sudah gelap dan ia mulai kesal karena Nuna tak kunjung datang untuk mengambil tasnya. Bian sebenarnya tak peduli tasnya diambil atau tidak, ia mulai resah dan kesal saat dering ponsel Nuna yang tak mau diam. Nama kontak yang sempat ia baca membuat Bian berpikir bahwa ibunya ini sangat merindukan Nuna.


"Apa mungkin ini yang namanya ikatan batin? Nuna hampir kehilangan bayinya dan ibunya merasakan? Apakah begitu? Ah persetan dengan itu semua, Nuna sudah tidak berada di sini, tapi dia masih membuatku kesal. Keterlaluan!" Bian melanjutkan wira-wirinya dengan berkacak pinggang.


Bian hanya menunggu bukan karena tak ada alasan, ia tadi sudah sempat ke puskesmas, tapi wanita itu rupanya sudah pulang. Mau tak mau akhirnya ia kembali ke kedai barangkali Nuna datang untuk mengambil tasnya. Namun hingga jam menunjukkan pukul delapan malam, wanita yang ia harapkan kedatangannya tak menampakkan batang hidangnya.


Bian sempat terpikir bahwa ingin mengantar tas ini ke rumah, tapi ia khawatir justru akan menimbulkan kesalahpahaman mengingat Nuna tidak izin suaminya untuk bekerja.


Bian yang bingung hendak berbuat apa, akhirnya iseng membuka tas dan mengambil dompet wanita itu. Ia berpikir pasti di dalamnya ada KTP, ia bisa mengantar tas itu melalui kurir atau minta bantuan adiknya.


"Astaga. Aku ketularan bodohnya Nuna. Kenapa tidak terpikir dari tadi, ya? Aku bisa minta tolong Bianca untuk mengantarkan tas ini. Dasar bodoh!" Jika sepanjang hari biasanya kata bodoh diperuntukkan untuk Nuna, kini Bian mengatakan itu untuk dirinya sendiri.


"Ah ini dekat. Tiga menit juga udah sampai," gumam Bian mengamati KTP yang berada di tangannya. "Eh, usianya masih 22 tahun? Bahkan dia lebih muda dari Bianca, tapi dia berani menikah? Keputusan yang terlalu gegabah."


Bian akhirnya memutuskan untuk membawanya pulang dan meminta adiknya untuk mengantarkan besok.

__ADS_1


__ADS_2