Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
17. Doa Bian


__ADS_3

"Lah, pada mau ke mana?"


Bian berpapasan dengan Nuna berserta adiknya di koridor puskesmas. Nuna masih nampak pucat meski tak selemas tadi.


"Mbak Nuna udah boleh pulang."


"Yakin? Kenapa buru-buru? Itu wajah Nuna masih pucat. Nggak apa-apa istirahat aja dulu di sini."


"Nanti aku dicariin sama orang-orang, Bian. Nanti mereka malah khawatir. Udah nggak apa-apa, aku udah sehat kok."


Bian semakin salut dengan Nuna saat mengatakan itu. Lihatlah betapa rapinya ia menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya sedikit demi sedikit sudah Bian ketahui. Namun, ia juga tak bisa gegabah untuk menanyakan atau mengatakan apa yang sudah ia ketahui. Ia berpikir alangkah jauh lebih bagus jika ia tahu lebih jauh soal mereka. Bukan bermaksud ikut campur, ia juga sebenarnya tidak ingin terjun ke dalam urusan Nuna. Tapi mau bagaimana? Apakah ia harus diam saja melihat ketidakadilan yang ia lihat di depan mata?


Tuhan, aku hanya berniat untuk membantu. Nuna tidak ada teman untuk berbagi beban. Jika Kau mengizinkan aku untuk turut andil dalam persoalan ini, aku hanya ingin Kau permudah untuk membantu Nuna. Jika Kau tidak izinkan, tolong jauhkan kami, Tuhan.


Bian lalu berniat memesan taksi online untuk mengantar Nuna. Sempat terjadi perdebatan antara Nuna dan Bian. Nuna kekeh tak ingin pulang diantar siapa pun. Ia bersikeras untuk pulang sendiri, ia tak mau mempertambah masalahnya dengan kejadian ini. Sementara Bian juga tak kalah keras kepala dengan Nuna.


"Udah, keputusan aku nggak bisa diganggu gugat. Aku mau kau pulang diantar sama Bianca. Biar nanti dia yang jelaskan ke Ibu mertua dan suamimu. Kau diam saja. Ini bawa. Katakan ini dari Bianca. Selesai, kan?"


"Udah Mbak, iyain aja. Kamu nggak tahu betapa Mas Bian sejauh ini nggak pernah melenturkan keras kepalanya. Udah terima aja. Pengen cepet pulang, kan?" Bianca bicara dengan berbisik.


Atas saran Bianca, Nuna akhirnya menerima dengan sungkan. Setelah itu perdebatan yang cukup alot itu akhirnya mereka terpisah di sana. Bian hanya mengantar mereka dengan pandangan mata yang terus menatap taksi yang menjauh.


Dan kepercayaan yang di serahkan pada Bianca itu berjalan lancar. Selain ceroboh, Bianca cukup handal untuk bersandiwara atau membuat keadaan menjadi baik-baik saja di situasi yang sebenarnya menegang.

__ADS_1


Entah apa maunya Bu Ningsih, wanita itu bersikap seakan beliau tak suka dengan Bianca. Dari tatapannya, ekspresi wajahnya, dan juga setiap kata yang beliau keluarkan terasa kurang enak di dengar.


Nuna jadi berpikir bahwa Bu Ningsih tak menyukai siapa pun yang dekat atau berhubung dengannya. Apakah ini yang dinamakan usia tidak menunjukkan kedewasaan seseorang? Usia beliau bukan lagi dewasa, tapi seharusnya sudah matang dan tahu bagaimana cara memperlakukan orang, baik itu yang tak diukai dan disukai.


"Ca. Lebih baik kamu pulang, kamu udah dari siang nemenin aku, kamu juga harus istirahat. Terima kasih udah nganterin aku pulang dan terima kasih juga untuk makanannya."


"Iya Mbak. Saya permisi, Bu." Bianca berlalu dari sana dengan sopan.


Saat kaki Bianca mencapai tanah halaman rumah itu, ia berpapasan dengan Arga dan Lia. Mereka lempar pandangan dan sempat berhenti sesaat. Bianca menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyuman sebagai tanda menyapa. Hal yang sama di lakukan oleh kedua manusia yang terlihat sedang kasmaran itu.


"Kok pulangnya barengan? Pasti tadi janjian, ya? Mau masuk dulu Lia?"


Suara Bu Ningsih masih cukup terdengar di telinga Bianca. Wanita muda itu menghentikan langkahnya di pagar dan menolehkan kepala ke belakang. Semua orang berada di teras, ia merasa ada yang tidak beres dengan keluarga itu. Ia masih bisa melihat bahwa sikap Bu Ningsih sangat berbeda sejak kedatangan keduanya. Sambutan baik dan bibir yang full senyum tiba-tiba terlihat sejak kedua pasangan itu datang. Bahkan Bu Ningsih menuntun keduanya untuk masuk ke rumah. Sementara Nuna masih tertinggal di teras.


Bianca ingin tak memikirkan apa yang ia lihat barusan. Tapi kejadian singkat itu terus melekat dalam pikirannya.


Apa tadi suaminya Nuna? Kenapa pulang sama perempuan lain? Kenapa...?


Pikiran Bianca seketika buyar begitu mendengar supir taksi mengatakan ia sudah sampai di rumah. Rumah yang cukup besar dengan satu lantai itu hanya dihuni oleh Bian dan Bianca. Kedua orang tua mereka telah tiada tujuh tahun yang lalu.


"Ca, gimana? Ketemu nggak tadi sama Ibu mertuanya Nuna?" Bian menyiapkan makan malam. Saat terdengar langkah kaki yang masuk ke rumah membuat ia bertanya dengan sedikit berteriak.


"Ketemu," jawab Bianca menghampiri kakaknya yang berada di dapur. "Ketemu sama orang seperti Ibu mertuanya Nuna membuat aku takut menikah."

__ADS_1


"Kenapa?"


Bianca lalu menceritakan apa yang terjadi di sana. Ketus, jutek, dan judesnya ia ceritakan dengan lengkap.


"Eh tapi, Mas. Tadi aku pas mau pulang ketemu sama anaknya Bu Ningsih. Dia sama perempuan. Pas perempuan itu datang sama anaknya, buset dah. Perlakuan Bu Ningsih beda banget sama pas Nuna dateng. Perempuan yang sama anaknya tuh dibaikin banget. Kalau mereka sama-sama menantu kenapa diperlakukan beda?"


Bian tak tahu yang dimaksud oleh adiknya itu Arga atau bukan. Pasalnya ia juga belum mengerti banyak soal keluarga dari suami Nuna itu. Tapi jika memang Arga punya saudara kandung, apakah semua anaknya tinggal di satu rumah yang sama meski sudah berkeluarga?


"Mas, kok diem aja sih. Jangan bilang Mas ada rasa sama istri orang, ya!"


"Berisik, pergi sana!"


°°°


"Itu tadi siapa, Bu?" Arga bertanya setelah membersihkan diri dan bergabung dengan Lia dan ibunya. Sementara Nuna langsung menuju kamar sesaat setelah suami dan Lia datang ke rumah.


"Nuna nolong perempuan tadi. Kepala Nuna terbentur trotoar, makanya tadi diantar pulang. Kamu nggak lihat tadi kepala Nuna dibalut kapas sama plester?"


Hanya anggukan kepala yang menjadi respon Arga. Di satu sisi ia merasa kasihan pada wanita yang masih berstatus istrinya itu, tapi jika perasaan iba itu muncul, logikanya mengambil alih dan mengingatkannya pada perutnya yang sedikit buncit. Rasa kecewa dan amarah selalu muncul ketika melihat Nuna dengan perutnya itu.


Setelah ngobrol sebentar, Lia pamit pulang. Sempat ditawari untuk makan malam, namun ia menolak dengan alasan ingin segera membersihkan dirinya. Sebelum benar-benar pergi, wanita itu mengedipkan sebelah matanya seakan mengingatkan pria itu bahwa ia ada janji dengannya.


"Weekend aja, ya. Kita lakukan di hotel saja. Kalau di rumah nanti ada yang tahu," bisik Arga yang dijawab anggukan Lia.

__ADS_1


__ADS_2