
Pukul tiga sore, Nuna sudah berada dalam perjalanan pulang. Meski badannya terasa lelah, ia cukup senang karena sekarang ia punya uang untuk dijadikan pegangan. Ia tak perlu lagi memikirkan uang untuk biaya melahirkan. Yang ia pikirkan sekarang adalah apa yang akan ia jelaskan saat sampai rumah. Mungkin jika hari ini bisa bohong, tidak untuk hari berikutnya. Ia hari ini bisa beralasan jalan-jalan, tapi tak mungkin jalan-jalan dilakukan setiap hari dan seharian penuh.
Beban pikiran yang tak ada habisnya itu rupanya membawa dirinya lebih cepat sampai rumah. Ia disambut oleh Ibu mertuanya di tengah pintu utama dengan tangan yang bersilang di depan dada.
"Berani keluyuran, ya kamu sekarang? Dari mana?" Bu Ningsih bertanya dengan ketus.
"Tadi nggak sengaja ketemu sama teman di jalan dan ngajak ngobrol sampai lupa waktu. Kebetulan kami tidak pernah bertemu jadi banyak hal yang kami obrolkan."
"Saya nggak peduli juga sih sebenernya. Mau kamu pergi dari sini juga saya nggak peduli. Ya udah sana beberes rumah!" Bu Ningsih berlalu dari hadapan menantunya.
Lalu kenapa bertanya?
Buyar sudah angan-angan Nuna untuk segera menyegarkan diri dan merebahkan diri. Memang tak seharusnya ia berangan-angan untuk bisa istirahat dengan segera. Mengingat perilaku ibunya terhadapnya bagaimana bisa ia berharap bisa hidup dengan tenang sesuai dengan keinginan.
Dentingan waktu yang berjalan tanpa henti itu membawa mereka ke hari berikutnya. Hingga hari ketiga, Nuna tak bicara apa pun pada suaminya. Rasa lelah di tubuhnya membuat ia istirahat lebih awal dan tak tahu kapan suaminya itu tiba di rumah.
Namun, Nuna berpikir akan berusaha untuk jujur hari ini juga. Ia tak mau jika suatu hari nanti, suaminya tahu dari orang lain, pasti akan menimbulkan permasalahan sendiri jika itu sampai terjadi.
"Mas aku mau ngomong sesuatu," ujar Nuna saat suaminya bersiap akan berangkat.
"Mau ngomong apa?"
Belum sempat Nuna bicara, ibunya dari luar sudah meneriaki sang anak. Pria itu dengan segera berlalu dari kamar tanpa berpamitan. Nuna hanya berdecak kesal melihat tingkah suaminya.
Hingga akhirnya pagi itu Nuna gagal hendak bicara jujur pada suaminya. Ia berangkat ke kedai Bian tanpa sepengetahuan suaminya dan juga Ibu mertuanya. Entah ke mana perginya wanita itu, Nuna tak tahu dan tak mau tahu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya ia harus cepat sampai di kedai karena jam yang hampir menunjukkan pukul delapan pagi. Ia tak mau jika mendapatkan omelan dari pria itu. Sudah cukup bagi Nuna kesehariannya yang selalu suram ketika di rumah. Ia tidak mau jika kesuraman juga mengikutinya hingga keluar rumah. Baru tiga hari bekerja dengannya saja, entah berapa kali Nuna mendapat omelan.
__ADS_1
Namun naasnya, dewi fortuna belum berpihak padanya. Nuna mendapati Bian yang sedang menyapu lantai. Ia segera berlari dan merebut sapu itu dengan kencang.
"Maaf aku terlambat. Biar aku yang melanjutkan. Kau bisa mengerjakan yang lain. Ini tugasku, kan?" Nuna segera melanjutkan membersihkan lantai itu tanpa menatap atau menunggu jawaban dari Bian. Ia terlalu takut untuk menatap pandangan pria itu yang tajam.
Bian hanya memperhatikan Nuna dengan berkacak pinggang. Pandangannya seakan terkunci pada wajah wanita itu. Hingga kedua bola matanya menemukan sebutir keringat yang mengalir di pinggiran alisnya.
"Apa kau ke sini berlari?" Bian memberikan selembar tisu pada Nuna.
"Iya ... sebenarnya ... maksudku ... tidak ... aku tadi berjalan, jarak rumahku dan kedaimu tidak jauh jadi aku tidak naik kendaraan umum. Tapi, saat aku melihatmu menyapu aku berlari karena aku takut kau marah." Nuna menjawab dengan mengelap dahinya dan kembali melanjutkan menyapu.
Aku susah tiga hari bekerja di sini, apa dia nggak sadar aku nggak pernah bawa kendaraan? Kenapa baru bertanya.
"Setelah menyapu, kuncir rambutmu! Aku tidak mau kalau rambutmu nanti masuk ke dalam minuman atau makananku. Kebersihan itu penting, apalagi rambutmu terlalu panjang untuk digerai."
Nuna hanya menganggukkan kepala. Nafas lega terdengar dari mulutnya ketika Bian membawa tubuhnya masuk ke kedai.
Selesai dengan menyapu, ia segera masuk pantry. Tangannya belum mengerjakan apa pun saat Bian masuk ke pantry nya.
"Astaga, kemana ikat rambutku?" Nuna mengaduk-aduk isi tasnya, namun tak kunjung menemukan apa yang ia cari. Hingga akhirnya kesabarannya pun habis dan menumpahkan segala isi yang ada di dalam tasnya. Tentu saja isinya terjungkal keluar tanpa ada satu pun yang tersisa.
"Ya Tuhan, aku tidak membawa ikat rambut bagaimana ini?" Nuna semakin frustasi ketika mendapati kenyataan bahwa ia benar-benar tak membawa ikat rambut atau apa pun yang bisa ia gunakan untuk mengikat rambutnya yang panjang itu.
"Khem."
Sebuah deheman membuat aktivitas Nuna berhenti seketika dan dengan perlahan ia menolehkan kepalanya ke belakang. Sejak bekerja dengan Bian, rasanya kehidupannya benar-benar tidak tenang, selalu dihantui rasa takut dan khawatir yang berlebihan.
__ADS_1
"Rambutmu itu panjang, kau bisa mengikatnya tanpa karet. Kau tidak berpikir sampai sana? Jangan bermalas-malasan. Aku tidak suka!"
"Kalau aku bisa melakukannya, akan aku lakukan dari tadi. Aku tidak bisa mengikat rambut tanpa karet. Aku tidak malas Bian, kau baru mengenal ku kemarin dan kau sudah menilai aku seperti itu hanya karena aku...."
Tubuh Nuna mendadak bergetar ketika pria itu memajukan langkahnya. Ia tidak bisa mundur ke mana-mana karena tubuhnya sudah mepet dengan meja. Tak mampu membalas tatapan mata Bian, ia lebih memilih untuk menutup matanya. Ia terlalu takut untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Kepalanya sedikit berjingkat ke belakang saat ia merasakan ada tangan yang sedang mengutik-utik rambutnya. Aroma tubuh yang wangi menyeruak masuk dengan dengan lancang ke dalam hidungnya.
"Sudah selesai. Sebentar lagi kedai buka, bersihkan pantry! Pantry kita ini cukup terbuka, jadi aku tidak mau kalau customer melihat pantry ini kotor. Buka matamu dan bekerjalah!"
Nuna melorotkan tubuhnya ke lantai. Olahraga jantung yang setiap detik ia terima sungguh menyiksanya.
Setelah terduduk beberapa lama, ia segera bekerja. Ia tak mau mati muda dengan membiarkan Bian terus membuat jantungnya berdetak berantakan.
Kesibukan yang terasa tiada henti, membawa mereka ke jam makan siang yang tiba-tiba menghampiri. Hal itu terlihat dari penuhnya kedai hingga tidak ada tempat duduk lagi untuk customer lain. Bahkan Nuna yang belum terbiasa dengan hal ini merasa stres sendiri karena harus bolak-balik ke depan dan belakang.
"Mas, istrinya, ya? Cantik banget. Kok baru kelihatan. Apa baru nikah? Tapi perasaan kedainya nggak pernah tutup, kapan nikahnya?" Seorang pelanggan tiba-tiba bersuara. Pertanyaan yang ia lontarkan membuat beberapa pelanggan lain menoleh ke arah Bian dan Nuna yang kebetulan mengantar miuman ke depan.
"Bukan, Mbak. Saya bukan istrinya, saya hanya pekerja saja. Mbak salah paham."
Nuna segera berlalu dari sana, ia tak mau menanggung kemarahan Bian dan malu sendiri dengan ucapan wanita yang tidak tahu sopan santun itu. Saking terburu-burunya, tanpa sengaja ia bertubrukan dengan salah satu pelanggan lain dan nampan yang ia peluk sedikit menekan perutnya.
Tekanan yang ditimbulkan oleh nampan itu tidaklah parah. Tapi entah kenapa perut Nuna terasa nyeri.
"Nggak apa-apa, Mbak? Maaf saya tidak sengaja. Ada yang sakit?"
__ADS_1
"Nggak. Saya nggak apa-apa." Nuna menjawab dengan meringis lalu segera pergi dari sana seraya mencengkram kuat baju bagian perutnya.