
Gelap sudah menyapa ketika Nuna menenteng sebuah travel bag berisi pakaian dan perlengkapan bayi yang sudah ia beli. Petir-petir yang menggelegar kecil menunjukkan bahwa malam itu mendung. Langit yang nampak sepi dari bulan bintang turut menemani langkah Nuna malam itu.
Meskipun Nuna tak tahu akan tidur di mana malam ini, ia terus berjalan. Tak peduli seberapa ia lelah dan letih, setidaknya ia harus menemukan Masjid atau Mushola untuk istirahat malam ini.
Setelah satu jam berjalan dengan bawaan yang cukup berat, ia akhirnya menemukan sebuah Mushola. Setelah meletakkan tasnya di belakang pintu ia segera ambil wudu dan melaksanakan kewajiban yang sempat tertunda. Tak berselang lama setelahnya ia masuk Mushola, hujan turun dengan deras. Nampaknya beristirahat hingga esok hari di rumah ibadah itu adalah pilihan yang tepat.
"Adek, bangunin Ibu sebelum subuh, ya. Kita harus pergi dari sini sebelum orang-orang berjamaah." Nuna bicara dengan mengelus perutnya. Sebuah tendangan keras selalu menjadi respon bayi itu ketika Nuna ajak bicara.
Bermalam bukan di rumah membuat Nuna seringkali terbangun. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan perutnya. Seperti ada rasa nyeri yang datang dan pergi. Rasa itu ia rasakan hingga pagi menjelang. Pukul empat subuh sebelum adzan, Nuna sudah melaksanakan kewajiban dan segera pergi dari sana. Ia harus mencari kontrakan segera. Dengan mengabaikan sedikit nyeri yang ia rasa, tangannya kembali menenteng tasnya.
Nuna sudah cukup lama berjalan. Hari sudah menampakkan terangnya meski belum ada matahari yang menyapa. Ia terus berjalan entah sudah berapa jauh, tak dapat juga apa yang ia cari. Jika ia tidak dapat juga, terpaksa ia harus membawa tas besar ini ke tempat kerjanya.
Sebelum ia melanjutkan perjalanan, ia putuskan untuk membelokkan tubuhnya ke tukang bubur. Sarapan dengan bubur di hari yang masih pagi nampaknya akan memanjakan perutnya.
Nuna baru memasukkan beberapa suap bubur ke dalam mulutnya saat ia mendengar suara yang seperti ia kenal, seperti tidak asing di telinganya, namun sudah lama tidak ia dengar. Untuk memastikan siapa pemilik suara itu, ia mendongak dan satu detik kemudian, ia menunduk seraya menutupi puncak kepalanya dengan telapak tangan.
Rupanya benar dugaannya, pemilik suara itu adalah Bian. Nuna mengintip pria itu dari sela-sela jarinya yang rupanya duduk tepat di depannya dengan jarak yang cukup dekat. Wanita hamil tua itu menjadi tidak fokus makan. Tangannya bergemetar karena ia takut jika keberadaannya disadari oleh pria itu.
Nuna takut dan khawatir bukan karena tanpa alasan. Ia sungguh malu jika harus bertemu Bian setelah keputusannya untuk menghilang dengan cara yang tidak sopan. Meskipun ia menghilang juga demi untuk melindungi pria itu, tetap saja caranya menghilang tidak dibenarkan oleh siapa pun. Apalagi Bian sudah banyak membantu dan berbaik hati terhadapnya meskipun mereka hanya mengenal sekedar nama.
Pyaaarrr!
__ADS_1
Gelas yang berisi teh manis hangat milik Nuna itu terjatuh. Saking gemetar tangannya karena Bian tak kunjung pergi dari hadapannya, ia sampai tak sengaja menjatuhkan gelas yang masih berisi penuh itu.
Nuna seketika menurunkan tubuhnya ke lantai seraya memungut pecahan gelas itu. Ia melakukan itu seraya berdoa dalam hati agar keberadaannya tak diketahui oleh Bian.
"Mbak nggak apa-apa? Udah Mbak biar saya aja. Mbak bisa lanjut makan, nanti saya ganti tehnya." Penjual bubur berjenis kelamin perempuan itu menghampiri Nuna dan berjongkok di depan wanita itu.
Nuna seketika penampakan wajah panik seraya menempelkan jari telunjuknya ke bibir.
"Udah Bu, tidak apa-apa. Saya bantu bersihkan ini, saya yang salah, saya minta maaf. Saya akan ganti gelasnya." Nuna bicara dengan sangat pelan.
"Iya, tapi..."
Wanita itu tidak melanjutkan kalimatnya karena jari telunjuk Nuna yang tertancap pecahan gelas. Belum sampai wanita itu bersuara, Nuna sudah memberi kode untuk tetap diam. Ia juga memberikan isyarat bahwa dirinya tidak apa-apa.
Mendengar nama Bian yang dipanggil, seketika mata dan mulut Nuna kompak terbuka dengan lebar. Nuna menyuruhnya diam dan tidak usah sekhawatir itu agar dirinya tidak ketahuan oleh Bian. Tapi yang terjadi justru ia seperti bunuh diri dengan persembunyiannya itu.
"Aduh Ibu kenapa sekhawatir itu? Ini luka kecil saja, tidak apa-apa tolong..." Nuna tidak melanjutkan kalimatnya dan menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Ia berharap dengan cara itu ia bisa menyembunyikan wajahnya dari Bian.
Ah sial. Se sempit inikah dunia? Kenapa aku harus bertemu dengan Bian. Lalu kenapa penjual bubur ini kenal dia? Aku harus apa ini?
Nuna sampai menahan napas seakan napasnya itu dikenali oleh Bian. Setelah terasa bahwa tangannya sedang ditempel oleh plaster, Nuna sedikit demi sedikit membuka mata dengan kepala yang masih tertunduk. Ia sedikit menggeser penglihatannya, tidak ada kaki di samping wanita itu. Di saat itulah akhirnya Nuna mengeluarkan napas dengan lega seakan ia baru saja selamat dari ancaman pembunuhan.
__ADS_1
"Gelasnya saya bawa ke belakang. Mbak lanjut makan, saya akan ganti minumannya."
"Bu tunggu, Bu." Nuna mencegah penjual itu berdiri dengan menahan tangannya. "Apa laki-laki yang Ibu panggil Bian tadi sudah pergi?" tanyanya dengan berbisik.
Wanita itu melirik arah depannya dengan sedikit menaikkan bola matanya, "Ah iya sudah. Mbak kenal sama dia?"
"Tidak, saya tidak kenal. Pernah bertemu saja."
Nuna mengelus dadanya sebagai bentuk kelegaan yang ia rasa. Ia benar-benar tenang. Sejurus kemudian, ia bangkit dengan pelan dan duduk di kursinya.
Tunggu, seperti ada yang melihatnya dari arah samping. Dari ekor matanya, ia bisa melihat seseorang yang duduk satu meja dengannya dan sedang menghadapnya. Tiba-tiba perasaan tidak enak kembali muncul, bahkan untuk menelan ludahnya saja ia terasa kesulitan. Dengan ragu dan gerakan yang sangat pelan Nuna menolehkan kepalanya ke arah kanan. Jantungnya terasa melompat dari tempatnya ketika ia melihat orang yang satu meja dengannya ternyata adalah Bian.
Pria itu menatap wajah Nuna tanpa ekspresi, pandangannya terkunci pada wanita itu. Sementara Nuna sendiri mendadak salah tingkah. Hal itu terlihat dari pergerakan tubuhnya yang bergerak ke sana kemari.
Tidak tahan dengan tatapan Bian yang seperti mengintimidasinya, ia segera bangkit dari kursi tanpa menghabiskan bubur yang masih tersisa.
"Ini saya mau buatkan teh, kok udahan makannya?" ujar penjual itu bingung.
"Saya buru-buru, Bu. Maaf, ini uang bubur sama ganti gelas yang pecah. Sekali lagi, saya minta maaf, ya Bu."
Tanpa berbasa-basi lagi atau berlama-lama di tempat yang sama dengan Bian, ia segera pergi dengan berjalan cepat tanpa membawa tasnya. Bian yang mengetahui hal itu hanya tersenyum kecil. Namun, dibalik senyumnya juga ia merasakan iba pada wanita itu. Ia sedang hamil besar, tapi wajah dan badannya terlihat kurus. Hanya perutnya saja yang membesar.
__ADS_1
Di saat Bian tengah memikirkan kondisi fisik Nuna yang terlihat di depan wajahnya, wanita itu kembali dengan gerakan terburu-buru dan mengambil tasnya lalu kembali pergi. Seakan ia benar-benar tidak mau terlihat oleh Bian.
Pria itu masih diam dan hanya melihat gerak gerik wanita yang sepanjang hari ia pikirkan entah apa alasannya. Dan saat Nuna melewati tempat duduk Bian, tangan mungil Nuna itu dicekal olehnya.