
Cengkraman di pergelangan tangan Bian mulai melonggar setelah pria itu memberikan tatapan maut pada wanita yang selalu mengganggunya. Setelah cengkraman itu benar-benar terlepas, Bian segera pergi dari tempat itu.
Seperti biasa, Bian akan selalu dengan ugal-ugalan mengendarai mobilnya. Di jam yang masih menunjukkan pukul tujuh malam, suasana juga masih ramai kendaraan, namun entah kenapa Bian merasa sangat sunyi senyap. Berpapasan dengan muda mudi yang berboncengan dengan motor seeta berpeluk mesra jujur saja membuat Bian iri. Bagaimana bisa ia kalah dengan remaja dan pemuda lainnya yang sudah memiliki pasangan untuk setidaknya diajak makan malam bersama di luar.
Tak mau tenggelam dalam kesepian dan hening yang terasa mencekam, Bian menyalakam musik di mobilnya.
Kau datang dan pergi, oh, begitu saja
Semua ku trima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Di ruang rindu kita bertemu
Letto-ruang rindu.
Bian mendengus kesal, bagaimana bisa lagu yang terputar tiba-tiba lagu yang menyatu drmah dirinya seperti ini. Terlebih lagu jadul ini adalah lagu yang mengisahkan kerinduan seseorang terhadap orang lain. Sungguh ini sangat tidak baik untuk perasaannya sendiri.
Musik ia hentikan ketika berhenti di lalu lintas yang menyala warna merah. Pandangannya ia fokuskan pada pandangan di depannya, hingga tak sengaja kedua bola matanya melihat sosok pria tua yang seperti pernah ia lihat sebelumnya. Pandangan Bian terkunci pada pria itu seraya mencoba untuk mengingat-ingat siapa orang itu dan ia pernah melihat di mana? Ingatannya tak kunjung kembali hingga lampu lalu lintas kembali berwarna hijau.
"Pak Lukman. Astaga itu tadi Pak Lukman? Bagaimana aku bisa sebodoh ini. Arrgh!" Bian baru saja sadar siapa pria yang tadi ia lihat ketika mobil sudah melaju beberapa meter. Saking kesalnya ia pada dirinya sendiri ia memukul setir dengan sekencang-kencangnya.
__ADS_1
Apalagi yang bisa ia lakukan selain marah untuk saat ini, karena untuk memutar arah mengikuti pria yang ia kenal sebagai Ayah Nuna itu tentu saja tidak akan bisa ia kejar mengingat jarak sudah cukup jauh.
Menyadari bahwa amarahnya adalah hal kebodohan, ia mencoba untuk menguasai dirinya sendiri dengan mengatur nafasnya. Menarik dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Begitu terus hingga beberapa kali dan akhirnya ia bisa menurunkan emosinya secara bertahap.
Aku yakin aku tidak salah lihat. Aku melihatnya begitu lama tadi. Aku yakin itu Pak Lukman. Kalau itu benar Pak Lukman itu artinya dia dan keluarganya berada di sini, tinggal di dekat sini? Aku harus cari sampai dapat.
Tak apa tak bisa menjumpai Pak Lukman sekarang, setidaknya ia tahu bahwa pria itu dan keluarganya berada di satu Kota yang sama dengannya.
Bian seakan mendapat pencerahan. Entah kenapa ia merasa ada kelegaan di dalam hatinya bisa bertemu dengan Ayah Nuna meskipun tak saling bertegur sapa. Kelegaan itu membawa ia tak terasa sampai rumah dengan cepat. Ia melihat adik dan adik iparnya yang menunggu di teras.
"Jadikan pelajaran kalau ke sini itu jangan mendadak. Udah tahu Mas tinggal sendiri, ke sini jangan sewaktu-waktu." Bian berjalan seraya mengomel dan membuka pintu rumah.
"Kenapa selalu melawan kalau dikasih tahu?"
"Itu namanya nggak ngasih tahu, mana ada kasih tahu yang kayak gitu?"
Bian berjalan menuju dapur dan mencuci tangannya. Ia langsung merebut sang keponakan dari gendongan adiknya. Bayi yang berusia lima bulan itu sedang lucu-lucunya. Sejak Shanum berada dalam gendongannya tak henti-hentinya bibir Bian mengecup seluruh wajah bayi itu.
"Kalian ada apa ke sini mendadak?" tanya Bian sebelum akhirnya melanjutkan kecupan pada bayi itu.
"Mampir doang. Kebetulan Mas Riko ada kepentingan di dekat sini, makanya kita mampir. Terus beberapa hari ini Mas Riko juga longgar dari kerjaannya makanya aku juga mau nginep di sini."
__ADS_1
"Ya udah sana istirahat, biar Shanum sama Mas." Pria yang sudah pantas menjadi sosok Ayah itu membawa keponakannya ke kamar.
Memang benar kata orang, seorang bayi bisa mengusir rasa lelah setelah seharian bekerja atau beraktivitas di luar rumah. Nyatanya sekarang Bian lupa dengan lelahnya yang seharian juga berada di restoran. Kedatangan Shanum benar-benar obat baginya. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan sang keponakan. Waktu Shanum lahir Bian tak sempat menjenguk karena kesibukannya yang kala itu tak bisa ditinggalkan.
"Kenapa lihatin Pakdhe begitu? Bingung nggak pernah ketemu, ya? Maaf, ya Pakdhe nggak pernah nemuin Shanum. Pakdhe lagi sibuk. Apa-apa, kamu mau apa, ha?" Bian terus mengoceh meski Shanum masih menatapnya dengan muka datar lantaran tak pernah bersua.
"Selfie yuk. Lihat sini, lihat sini." Bian heboh sendiri dengan bayi yang sejak tadi aktif menggerakkan kaki dan tangannya.
Ia mengambil beberapa jepretan foto dirinya dengan Shanum. Ia memilih foto terbaik untuk ia unggah di salah satu aplikasi sosial medianya yang saat ini banyak followers wanita cantik. Banyak yang mengirim pesan pribadi pria itu, namun satu pun tak ada yang ia tanggapi.
°°°
Nuna baru saja melihat ponselnya ketika Cashel sudah terlelap dalam mimpi. Seperti biasa, ia akan berselancar di dunia maya yang baru saja ia punya beberapa tahun yang lalu. Nuna yang sempat menghapus seluruh akun sosial medianya setelah menikah dengan Arga kini ia mulai miliki kembali dengan akun baru.
Betapa terkejutnya ia mendapati saran pertemanan yang muncul di beranda insta nya. Dengan jelas ia melihat foto Bian yang sedang duduk dengan memakai sebuah blazer berwarna hitam. Foto itu memang tak menghadap kamera, tapi ia sangat yakin bahwa itu Bian meskipun ia hanya melihat pria itu dari samping. Username pun sama dengan nama lengkap Bian. Tidak mungkin nama lengkap dimiliki oleh beberapa orang, kan? Begitu pikir Nuna.
Nuna ingin menghilang dari kehidupan pria itu, dan ia berhasil melakukannya meski dengan berat hati. Setelah beberapa tahun ia hidup tanpa kabar atau apa pun darinya, kenapa sekarang malah tiba-tiba ia muncul kembali?
Nuna masih sadar dengan keinginannya untuk ingin menghilang, namun entah kenapa jarinya justru megetuk foto bian yang itu artinya ia akan melihat apa pun yang di posting oleh pria itu.
Baru beberapa menit yang lalu. Bayi? Ini anaknya Bian? Jadi benar pemikiran ku kalau dia udah nikah?
__ADS_1