
Dua hari setelah itu, Bian sengaja tak menemui Nuna. Ia lebih fokus untuk mencari di mana perempuan itu tinggal. Cara adik dan kakak rupanya tidak jauh berbeda. Jika Bianca tempo hari datang ke sekolah Cashel sangat pagi, sang kakak datang ke sekolah Cashel mendekati anak itu pulang sekolah.
Dibalik mobil ia tak henti-hentinya memuja Nuna yang duduk di atas motor dengan bermain ponselnya. Matanya tak lepas dari wanita itu, semakin ke sini Bian semakin jatuh cinta padanya, semangat dalam hatinya semakin berkobar untuk mendapatkan janda satu anak itu.
Tak berselang lama, Cashel dengan senyum yang tersungging dibibirnya seraya langkah yang sedikit berlari menghampiri ibunya. Ada sedikit percakapan diantara ibu dan anak itu, meskipun Bian tidak tahu apa yang mereka perbincangkan, melihat senyum keduanya yang merekah membuat bibirnya juga tertarik untuk tersenyum.
Bian melajukan mobilnya ketika motor Nuna juga melaju. Ia mengikuti motornya seraya mengingat jalan menuju rumah Nuna. Setelah beberapa saat membelah jalanan yang cukup panas bagi pengendara motor, mereka sampai di sebuah toko roti. Bian yang mengira mereka membeli roti hanya duduk diam menunggu di dalam mobil.
Lima menit, tujuh menit sudah ia menunggu, namun yang ditunggu tidak juga muncul. Akhirnya laki- laki itu terpaksa turun. Belum sempat berjalan, ia sudah mendapati Nuna yang berada di teras. Namun, ia tidak sendirian. Wanita itu sedang bercengkrama dan terlihat akrab dengan seorang laki-laki. Jika dilihat dengan seksama pun, Cashel juga terlihat dekat dengan pria itu. Melihat pemandangan itu seketika rasa cemburu di dada Bian membuncah begitu saja. Cemburunya bahkan naik hingga melewati kepalanya.
Nuna sepertinya berurusan dengan orang yang salah. Ia tidak tahu bahwa Bian memiliki rasa cemburu yang berlebihan jika sudah mencintai seseorang.
"Saya baru buka toko ini sekitar seminggu yang lalu. Tapi Bapak sudah menjadi pelanggan saya dan membawa teman-teman Bapak yang lain juga. Terima kasih banyak, Pak."
Bian melihat dengan jelas bahwa laki-laki yang memakai seragam guru itu tersenyum manis seakan menggoda Nuna. Itulah setidaknya yang dilihat oleh Bian.
"Sama-sama, Nuna. Saya pun senang jika banyak yang ke sini karena rekomendasi dari saya. Selain itu kue buatan kamu enak, jadi banyak yang ketagihan. Kalau gitu saya permisi dulu, ya. Cashel, Bapak pamit dulu, ya." Bian semakin panas ketika tangan pria itu mengelus puncak kepala Cashel. Entahlah, ia merasa pria itu adalah saingannya.
Khem.
Sebuah deheman membuat Nuna dan guru itu menoleh ke arah yang sama. Wajah terkejut datang dari wajah Nuna. Tanpa pikir panjang Bian menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Tanpa memikirkan apa pun pria yang dikenal Nuna berprofesi sebagai guru di sekolah Cashel itu menyambutnya dengan ramah.
__ADS_1
"Bian, calon suami Nuna."
Nuna hanya menganga mendengar penuturan Bian. Ingin menjelaskan tapi rasanya ia tak diberi kesempatan Bian untuk bicara.
"Calon suami? Saya gurunya Cashel di sekolah."
"Apa masih ada urusan?"
"Tidak. Saya ke sini hanya untuk mengambil kue pesanan saya. Saya permisi." Pria itu merasa hawa tidak enak tiba-tiba datang ketika Bian datang. Akhirnya ia pamit pulang dengan segera.
Plak!
Sebuah pukulan keras mengenai lengan kekar Bian. Bahkan tak hanya pukulan, wanita itu juga memberikan sebuah pelototan dari kedua bola matanya.
"Kamu yang apa-apaan, ngapain kamu pake ngaku sebagai calon suami aku di depan gurunya Cashel? Malu-maluin aja. Kan jadi nggak enak sama gurunya."
Jujur saja Bian sedikit tersinggung dengan ucapan Nuna. Kenapa harus malu diakui calon istri olehnya? Setidak pantas itukah ia di matanya?
"Kenapa kamu lebih mementingkan perasaan orang daripada perasaan aku? Kamu menolak aku habis-habisan, kamu selalu punya seribu alasan untuk menolak apa yang aku minta darimu. Kamu selalu mengatakan tidak untuk kalimat ajakan yang aku berikan. Kamu juga kurang bersikap ramah padaku, tapi lihat dengan orang yang baru kamu kenal. Kamu bisa begitu ramah dan murah senyum. Kamu berikan semua yang aku inginkan pada orang lain."
Nuna bungkam seketika, untuk menyembunyikan perasaannya ia membuang muka ke segala arah seakan ia tidak peduli dengan protesnya Bian. Padahal dalam hati ingin sekali ia menjelaskan hal lain.
__ADS_1
"Sudah cukup, Bian. Kamu terlalu lancang dengan mengikuti aku sampai sini. Apalagi dengan mengaku sebagai calon suami di depan orang lain."
Emosi Bian seketika tersulut mendengar ucapan Nuna.
"Aku lancang? Apakah kamu berpikir kalau kamu terbuka sama aku, aku akan selancang ini? Kalau kamu tidak seenakmu sendiri, apakah aku akan melakukan ini. Membuntutimu diam-diam hanya untuk mencari alamat rumahmu. Aku rela melakukan ini untuk tahu di mana rumahmu. Kamu kemarin begitu peduli sama aku, berusaha untuk mengembalikan semangat aku supaya sembuh, tapi sekarang lihat apa yang kamu lakukan. Kamu selalu bilang melakukan itu untuk Bianca, tapi kamu lupa, kamu nggak tahu apa yang membuat aku semangat untuk melanjutkan hidup. Apa yang kamu lakukan kemarin itu sama sekali tidak ada artinya kalau kamu masih bersikap begini sama aku."
Jujur saja tak pernah terpikir oleh Bian bahwa Nuna akan mengatakan hal itu padanya. Sebuah kata 'lancang' yang terdengar begitu nyaring di telinganya membuat Bian menaikkan nada bicaranya.
"Terus yang kamu mau aku bersikap bagaimana?"
"Tidak perlu bertanya jika kamu tidak mau melakukannya. Aku pernah berpikir bahwa waktu lima tahun itu sudah cukup, tapi ternyata aku salah. Aku harus berjuang lagi untuk mendapatkan apa yang aku mau. Kamu tidak tahu betapa sulitnya aku menjalani lima tahun belakangan ini. Kamu nggak tahu bagaimana sulitnya aku jatuh cinta pada seseorang, kamu tidak tahu betapa sulitnya aku menyembuhkan hatiku yang terluka. Hatimu pernah terluka karena seseorang. Aku pun sama, aku pernah berpikir jika dua orang yang pernah terluka karena seseorang yang dia cintai, jika saling memiliki mereka akan saling menjaga satu sama lain. Tapi di detik ini aku sadar bahwa pemikiranku selama ini salah."
Sorot mata Bian begitu tajam meski Nuna juga melihat hal lain dari sorot mata itu. Jika biasanya ia tak bisa melihat tatapan tajam Bian, entah kenapa kali ini pandangannya justru terkunci pada sorot mata Bian itu.
"Apa kamu tidak merasakan cintaku buat kamu, Na? Apa sorot mataku ini terlihat bahwa aku hanya ingin main-main denganmu? Untuk terakhir kalinya aku bertanya. Haruskah aku berjuang lagi untuk mendapatkan apa yang aku mau? Ingat Nuna, ini pertanyaan yang terakhir."
"Kamu tidak perlu memperjuangkan apa pun untukku. Perjuangkan saja sesuatu yang mencintaimu dan kamu cintai."
"Terima kasih karena sudah memberikan luka. Perlu kamu tahu, kamu adalah orang kedua yang memberiku luka begitu dalam."
Bian lalu pergi dari hadapan Nuna dengan wajah yang masih menunjukkan ekspresi kemarahan. Napasnya sedikit tersengal-sengal saking bergemuruhnya dadanya.
__ADS_1
Sementara Nuna hanya mampu menatap nanar kepergian Bian yang semakin menjauh. Bantingan pintu mobil yang pria itu lakukan membuat Nuna sadar bahwa ia telah membuatnya begitu marah. Sedetik kemudian, air matanya menetes tanpa diminta.