
Sesuai janji Nuna, pukul sepuluh pagi ia sudah bersiap dengan dandanan yang selalu cantik untuk menjemput sang anak. Ia memanjakan dirinya semenjak bekerja bukan untuk menggoda laki-laki diluaran sana. Ia ingat kata majikannya dulu, bahwa kita para perempuan memanjakan diri sendiri dengan cara mempercantik diri adalah sebagai bentuk kita menghargai dan mencintai diri sendiri. Kita tak perlu menunggu orang lain untuk meratukan diri sendiri, bukan?
"Na, ini bahan-bahan kuenya mau dibeli kapan?"
"Besok juga nggak masalah, Bu. Nizar udah dapat tempatnya, kan? Nanti sore aku akan coba cek dulu tempatnya. Untuk banner dan lain-lain udah diurus sama Nizar udah lama katanya. Pinter juga itu anak, aku pulang tinggal ngurus bahan. Pokoknya Ibu tenang aja, nggak ada seminggu itu toko udah buka."
"Ya udah, Ibu mah nurut aja sama kamu."
Setelah perbincangan singkat itu Nuna meraih tas mungilnya yang berwarna coklat dan ia sampirkan ke pundaknya. Orang yang tak pernah bertemu dengan Nuna bisa saja mengira bahwa wanita itu masih gadis.
Sekitar limaa menit Nuna menunggu di depan gerbang sekolah. Setelah menunggu dengan berbincang dengan beberapa Ibu yang juga menunggu anaknya, akhirnya Cashel muncul juga. Senyum anak kecil itu sejak ibunya datang tak pernah hilang dari bibirnya.
"Udah siap makan di restoran?" bisik Nuna.
"Siap banget." Cashel menjawab dengan nada sumringah dan semangat.
Mereka lalu menunggangi motor yang entah sudah berapa tahun bersama keluarganya. Panas matahari yang cukup menyengat kala itu tidak memudarkan semangat dan senyum keduanya.
°°°
Untuk pertama kalinya Bian membawa Shanum ke restoran. Dengan mendekap hangat bayi yang baru bangun tidur dan ia bawa keluar rumah tanpa sepengetahuan ibunya, ia jadi pusat perhatian karyawannya saat itu. Wajar saja, karena bukan Bian namanya jika datang dengan senyum yang mengembang begitu sempurna sesempurna ketampanannya.
Saat kaki Bian baru saja menginjakkan kaki di anak tangga paling bawah, datang seseorang yang sangat tidak ingin ia temui. Dengan suara yang terdengar bahagia dan senyum yang merekah, Naya berlari seraya memanggil Bian. Seketika senyum pria itu hilang entah ke mana.
"Ini pasti anaknya Bianca, ya? Lucu banget. Aku mau gendong."
__ADS_1
Bian dengan segera menyingkirkan Shanum daruli tangan Naya.
"Pergi, aku sibuk!"
"Kalau kamu sibuk kenapa bawa bayi ke sini? Biar aku yang bawa, kamu bisa kerja." Untuk yang ke dua kalinya, Naya mengulurkan tangannya ke arah bayi gemuk itu.
Disaat Bian masih sibuk menyingkirkan Naya, tanpa ia sadari Nuna dan Cashel masuk ke dalam restoran dan duduk di salah satunya sudut resto yang berdinding kaca. Dari dalam sana semua pengunjung bisa melihat aktivitas di jalan dan itu sangat menyenangkan mata bagi beberapa orang yang datang untuk sedikit merefresh pikiran.
"Naya, kau cantik, kau pantas mendapatkan laki-laki yang lebih dari aku. Aku baru saja divonis kanker testis. Menjauh dariku!" Berbohong adalah cara terakhir Bian.
Saking terkejut Naya, ia sampai menutup mulutnya yang mendadak menganga mendengar penuturan Bian. Sementara pria itu sedang berusaha keras untuk menahan tawa karena merasa usahanya untuk mengelabui Naya nampaknya berhasil. Mau bagaimana lagi? Jika cara halus hingga kasar sudah ia gunakan untuk membuat Naya berhenti menggangunya, tapi tak membuahkan hasil maka cara ini seharusnya membuatnya wanita itu berhenti menggangunya.
"Aku harap kau masih waras. Cari laki-laki yang sehat untuk mendampingi mu, jangan ganggu aku!"
Tak ada lagi perbincangan lain setelah itu. Bian akhirnya bisa bernapas dengan lega karena ia merasa hari ini adalah hari terakhir ia diganggu oleh wanita itu.
"Gimana? Enak, kan Bu?"
"Enak." Nuna menganggukan kepalanya.
Dalam hati ia seperti ingat rasa masakan ini tapi di mana? Dan kapan ia menikmati makanan yang rasanya seperti ini? Nuna mengunyah dengan kepala yang terus mengingat tentang rasa makanan yang ia makan sekarang.
"Ibu, nanti ulang tahun aku mau di rayain di atas aja. Di sana luas tempatnya, aku mau banyak mainan sama badut, ya Bu. Boleh, kan?"
"Boleh. Apa pun yang kamu mau, akan Ibu berikan asal kamu janji juga sama Ibu. Harus jadi anak yang rajin, baik, rendah hati, dan nurut sama Ibu."
__ADS_1
Cashel dengan cepat menganggukkan kepalanya. Bagi Nuna, tak apa jika sesekali ia mengabulkan apa yang Cashel inginkan, mengingat ia tak ada saat anaknya itu tumbuh hingga sekarang.
"Ibu mau ke kasir dulu, ya. Mau bayar sekalian pesen buat Nenek sama Kakek. Sama sekalian tanya-tanya untuk acara kamu. Jangan ke mana-mana. Kalau mau ke toilet bilang sama Ibu dulu. Jangan bicara banyak dengan orang asing."
"Ibu, aku di sini. Ini tempatnya rame, nggak akan ada yang culik aku."
Nuna bangkit tepat di saat Bian juga menuruni anak tangga. Shanum yang rewel sejak berada di ruangannya membuat laki-laki itu berinisiatif untuk mengajaknya ke taman mini yang berada di depan restonya.
"Mbak saya mau sekalian tanya-tanya untuk booking lantai dua, ya. Untuk ulang tahun anak saya. Ada menu rekomendasi untuk anak-anak SD? Saya mau menu yang sehat."
Letak kasir yang kebetulan dekat dengan tangga membuat Bian mendengar suara Nuna dengan jelas. Mendengar suara itu refleks Bian menghentikan langkahnya seketika, jantungnya terasa berdegup dengan kencang, kakinya seakan kaku digunakan untuk berjalan. Tubuhnya sedikit begetar mendengar suara yang benar-benar ia rindukan.
Setelah beberapa detik terdiam dan tersadar bahwa suara itu adalah suara milik wanita yang membuatnya menjadi lebih dingin dari sebelumnya, ia bergegas melanjutkan langkah untuk memastikan pemilik suara itu.
Pandangan dan tubuhnya yang benar-benar terkunci ketika kakinya menginjak anak tangga paling bawah. Degupan di jantungnya semakin kencang dari sebelumnya. Bahkan saking terkejutnya, mulutnya saja tidak mampu hanya untuk sekedar memanggil namanya.
Cukup lama Bian memandangi wanita itu. Pandangannya seakan meneliti wanita yang tak jauh berdiri di depannya. Tubuh yang lebih berisi, rambut panjang yang tergerai dengan indah, kulit yang lebih bersih, dan penampilan yang jauh lebih baik dari yang terakhir kali ia lihat. Meskipun terlihat dari samping, aura kecantikan wanita yang masih bertahta di hatinya itu tidak bisa disembunyikan.
Bian tersadar dari syoknya ketika tangan mungil Shanum menepuk-tepuk di pipinya. Untuk sesaat ia menatap bayi yang masih erat dalam dekapannya, lalu melanjutkan langkah dengan pelan menuju tempat berdiri Nuna.
Hanya tinggal dua langkah lagi untuk bisa meraih Nuna, mulutnya yang hampir mengeluarkan suara untuk memanggil wanita itu dikalahkan anak kecil yang menghampirinya.
"Ibu aku mau ke toilet sebentar."
Belum usai Bian termangu, tercengang, terkejut dengan kehadiran Nuna yang tiba-tiba. Ia sudah kembali dihantam kenyataan dengan anak yang pernah tidak sengaja menubruknya adalah anak yang dulu nyaris setiap hari dalam dekapannya ketika bayi.
__ADS_1
Cashel.