Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
23. Bodoh Sekali Kau Bian


__ADS_3

Baru satu hari Nuna berada di rumah sakit, ia sudah merasa bosan karena hanya duduk diam tanpa melakukan apa pun. Ponselnya pun tertinggal di tas yang berada di rumah Bian.


Di saat sendirian seperti ini ia teringat dengan kedua orang tuanya, ia sebentar lagi akan melahirkan, ia pasti butuh pengampunan dari kedua orang tuanya untuk kelancaran persalinannya nanti. Ia bisa saja menghubungi kedua orang tuanya, tapi bagaimana jika mereka ke sini dan mengetahui keadaan anaknya? Selama ini ia tak pernah menceritakan secuil pun kisahnya selama menjadi istri Arga. Mereka pasti akan syok dengan keadaan ini jika tahu, batin wanita itu dilema.


Namun, nampaknya ke khawatiran Nuna selama ini akan benar-benar terjadi. Di hari yang menjelang senja, kedua orang tua Nuna datang dengan membawa banyak buah tangan. Mereka jauh-jauh dari kampung ke ujung kota itu hanya untuk mengunjungi sang anak. Namun, yang mereka dapat hanya sebuah penghinaan.


"Kasihan sekali kalian ini. Kalian sungguh gagal mendidiknya sebagai seorang perempuan. Dia sudah kamu usir dari sini, tidakkah dia cerita ke kalian? Tidak pulang kampung? Oh, bisa jadi dia pulang ke rumah laki-laki lain."


Orang tua Nuna yang tak tahu apa-apa tentu saja bingung. Yang mereka tahu rumah tangga anaknya itu baik-baik saja. Selama berhubungan melalui sambungan telepon Nuna selalu nampak bahagia dan menceritakan hal yang membuat kedua orang tuanya juga merasa lega.


"Maksudnya bagaimana, Bu? Selama ini kami sering ngobrol dan semua terlihat baik-baik saja."


"Biar aku yang jelaskan, Bu. Suruh mereka masuk," sahut Arga dari dalam rumah.


Bu Ningsih menuruti anaknya, beliau berjalan lebih dulu dan duduk di sofa polos berwarna biru dongker. Pergerakan Bu Ningsih diikuti orang tua Nuna dengan perasaan dan pikiran yang sudah kacau balau.


Setelah semua duduk, Arga mulai menjelaskan duduk perkara dari awal hingga akhir. Tentu saja ia bercerita versi dirinya yang di mana sebenarnya hanya kesalah pahaman saja.

__ADS_1


Tidak ada orang tua yang tidak terkejut dengan berita yang mereka dengar. Sebagai orang tua yang sudah mendidik dan merawat Nuna sebaik mungkin, tentu saja kehancuran adalah satu-satunya rasa yang mereka rasakan. Niat ingin memberikan kejutan pada anak sulungnya, nyatanya malah mereka yang terkejut.


Dengan langkah berat dan sisa tenaga yang ada, mereka pergi dari rumah itu dalam keadaan hari sudah gelap. Setelah berjalan beberapa jauh, mereka istirahat di sebuah halte.


"Ayah coba hubungi Nuna dulu." Ayah Nuna menekan ponsel dan meletakkan ke dekat telinga. Sementara sang istri sejak keluar dari rumah Bu Ningsih hanya diam membisu dan sesekali air matanya berlinang.


"Kamu di mana, Nuna? Ayah dan Ibu sudah tahu semuanya. Udah kamu nggak usah bohong lagi. Nggak usah nutupin lagi. Kamu tinggal jawab di mana kamu sekarang. Ayah nggak nerima jawaban apa pun selain keberadaan kamu."


Nuna hendak bertanya bagaimana bisa ayahnya itu tahu keadaannya, tapi ia belum selesai dengan kalimatnya, sang Ayah sudah lebih dulu menyela dengan mempertegas pertanyaan mengenai keberadaannya. Dan akhirnya, Nuna tak bisa berbuat apa-apa hingga jawaban berada di rumah sakit itu muncul dari mulutnya.


"Bian ini gimana? Ayah dan Ibu kayaknya datang ke sini dan mereka tahu keadaan aku. Ini gimana Bian?" Bingung dan kepanikan yang menyerang dengan tiba-tiba membuat Nuna menjatuhkan air matanya.


Sentuhan di pundaknya rupanya membuat wanita itu justru semakin terisak.


"Nuna, nggak ada orang yang akan mempercayaimu lebih dari kedua orang tuamu sendiri. Kau harus berpikir positif untuk menciptakan keadaan yang positif juga. Kalau kau takut dan tenggelam dalam overthinking mu nggak akan merubah apa pun selain keadaan yang memburuk. Bicara dari hati ke hati. Jelaskan tanpa ada yang disembunyikan, kau nggak akan pernah tahu jika kau tak jujur. Kau wanita kuat, kau bertahan sejauh ini udah hebat. Jangan hancurkan dengan pikiran negatif mu."


Nuna mengangguk seraya menghapus pipinya yang basah. Setelah wanita itu sedikit tenang, Bian izin untuk meninggalkan Nuna. Status Nuna yang masih menjadi istri orang dan situasi yang tidak baik membuat Bian sadar betul bahwa ia tidak berhak untuk berada di ruangan itu saat orang tua Nuna datang.

__ADS_1


"Aku akan tunggu di kantin. Kau bisa hubungi aku kalau ada apa-apa."


"Kenapa nggak pulang aja? Aku nggak apa-apa, Bian. Pasti nanti Ayah sama Ibu akan temani aku juga."


"Kau ingin aku pulang? Baiklah. Jangan sungkan hubungi aku kalau ada apa-apa. Jangan lupa kalau barang-barangmu masih bersamaku. Jangan harap kau bisa macam-macam."


"Kenapa kamu begitu peduli padaku, Bian?"


"Siapa pun yang berada di posisimu akan aku pedulikan. Nggak usah besar kepala dan berpikir yang tidak-tidak."


"Aku hanya bertanya, kenapa kamu selalu sewot?"


"Kau selalu bertanya hal yang tidak penting." Bian melirik jam tangannya lalu pamit untuk pulang sebelum ia benar-benar pergi dari ruangan itu, tanpa sadar Bian mengangkat tangannya dan ia letakkan di puncak kepala Nuna. Jari jemarinya lalu mengacak rambutnya pelan.


Nuna tentu saja termangu dengan tingkah pria itu yang selalu saja berubah dengan cepat. Sadar dengan pandangan Nuna, Bian seketika gugup dan memindahkan tangannya cepat.


"Aku pergi," kata Bian gugup dan cepat-cepat pergi dari sana.

__ADS_1


Bian berjalan cepat dan langkah lebar seraya memaki dirinya sendiri, "Dasar bodoh. Apa yang kau lakukan, Bian? Tangan sialan. Akan aku taruh mana besok mukaku. Aish bodoh sekali kau Bian!"


__ADS_2