
"Aku nggak apa-apa. Hanya kurang istirahat saja. Sepertinya keadaanku sudah membaik. Aku mau pulang aja. Makasih udah mau bawa aku ke sini. Sampaikan salamku untuk Bianca." Nuna menurunkan kakinya hendak turun dari ranjang. Sebisa mungkin ia menyeimbangkan kakinya agar tak jatuh. Rasanya terbentur di trotoar cukup membuat kepalanya pening.
Nuna berhasil melangkah hingga ke dekat pintu. Bian sengaja diam dan hanya menatap wanita itu berjalan dengan perlahan. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan wanita ceroboh itu.
Tangan Nuna berhasil menekan handel pintu dan di saat bersamaan ia hampir kembali tersungkur. Untunglah ada sulah satu petugas puskesmas yang kebetulan hendak masuk ke dalam ruangan dan berhasil menyelamatkan Nuna dari jatuhnya.
"Mbak masih lemas, jangan ke mana-mana dulu."
"Aku sedang hamil, itu sebabnya aku lemas."
"Tapi tidak se lemas ini. Mbak bukan hamil satu atau dua bulan. Silakan istirahat dulu. Tekanan darah mbak terlalu rendah. Itu yang yang menyebabkan pusing berlebihan. Bukan hanya benturan saja yang buat pusing." Perawat itu memaksa Nuna untuk kembali beristirahat.
Wanita itu hanya menundukkan kepala ke lantai, ia terlalu malu untuk berlama-lama dengan Bian. Masalah yang terjadi di antara mereka cukup membuatnya tak punya muka di hadapan pria itu.
"Bapak suaminya, bagaimana bisa Bapak membiarkan istri Bapak stres apalagi dalam keadaan hamil seperti ini. Istri Bapak juga terlalu lelah. Untung janinnya kuat bertahan. Tolong dijaga istrinya, ya Pak."
"Bu, dia bu...."
"Iya, saya akan jaga. Terima kasih," potong Bian dengan cepat agar petugas itu tak bicara lebih jauh.
Bian melempar tatapan tajamnya ke arah Nuna setelah kepergian petugas itu. Antara takut dan malu, lagi-lagi Nuna menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sangat tidak ingin mempedulikanmu. Tapi kau sedang kesusahan dan sebagai sesama manusia, aku ingin kau berbagi denganku. Ada apa sebenarnya, Nuna? Apa yang terjadi? Aku tidak pernah menemukan perempuan hamil yang ceroboh sepertimu. Apa pun yang kau lakukan kenapa selalu membahayakan untuk dirimu sendiri dan janinmu? Setidaknya kalau..."
Omelan Bian terhenti karena mendengar samar-samar isakan dari wanita yang berada di depannya. Hal itu membuat Bian sadar bahwa ia terlalu keras dengan wanita itu, dan akhirnya terbesit penyesalan yang ia rasakan.
"Jangan menangis, kau dengar, kan tadi nggak boleh stres. Setidaknya pikirkan anakmu."
Nuna lalu menghapus air matanya dan sedikit mendongak. Ia baru sadar jika mereka saling berhadapan. Sadar dengan kebodohannya, ia segera mengangkat kakinya ke ranjang dan duduk menghadap ke dinding.
"Aku nggak apa-apa, Bian. Aku akhir-akhir ini sedikit uring-uringan, mungkin karena hormon. Mungkin itu juga yang membuat aku stres, sungguh bukan karena masalah apa-apa."
"Kau berpikir bahwa aku bodoh? Tidak ada salahnya jika kau menceritakan sedikit masalahmu untuk mengurangi bebanmu. Mungkin aku tidak bisa membantunya, tapi setidaknya kau bisa merasa lebih lega karena sudah mengeluarkan apa yang seharusnya kau keluarkan. Memendam masalah sendirian itu tidak baik, kalau kau bisa mencari jalan keluarnya mungkin nggak apa-apa. Tapi, kau terkadang juga butuh orang lain untuk mendengar sarannya. Bukan sebuah dosa besar jika kau menceritakan sedikit masalahmu. Kita mahluk sosial, se mandiri dan sekuat apa pun kita. Kita tetap butuh orang lain."
"Seperti yang kamu tahu, Bian. Aku punya masalah dengan suamiku. Aku akan mengumbar aibnya jika aku menceritakan ke orang lain. Kamu pasti pernah mendengar kalimat bahwa istri itu pakaian suami. Begitu pula sebaliknya."
Apakah ia harus mendatangi rumah mereka? Meskipun belum pernah ke sana. Ia tapi sudah menjelaskan duduk perkaranya dan tak ada sambutan baik dari suami Nuna. Lalu ia harus apa? Tiba-tiba saja Bian merasa tidak tenang dengan nasib Nuna. Belum lagi wanita itu tengah mengandung, pasti tidak mudah baginya untuk menjalani ini, begitu pikir Bian.
"Suami mu masih salah paham?"
"Iya. Aku sudah sering menjelaskannya tapi ada hal lain yang membuat dia jadi nggak percaya sama aku, tapi nggak apa-apa. Kalau anak ini lahir pasti dia juga akan tahu kalau ini anaknya."
"Kalau kau ingin anakmu lahir seharusnya kau menjaganya dengan baik. Tidak seperti yang sudah-sudah."
__ADS_1
"Iya aku akan menjaganya. Ngomong-ngomong, kamu nggak ke kedai? Aku nggak apa-apa jika ditinggal sendirian. Aku bukan anak kecil yang harus ditemani 24 jam." Nuna melepas satu senyuman yang manis.
Bian sempat terhipnotis dengan tarikan bibir yang diciptakan Nuna. Ia menatap bibir mungil itu sesaat dan kemudian menatap ke sembaranh arah.
"Apa ada yang bisa aku lakukan untuk membantu menyelesaikan masalahmu?"
Nuna menghembuskan napas panjang, "Tidak ada Bian, sepertinya aku melibatkanmu saja sebenarnya sudah salah. Jujur saja aku khawatir sama kamu ketika suamiku mengatakan dia memberikan pelajaran saat aku datang ke kedai waktu itu. Tapi, aku juga nggak berani datang ke kedai mu lagi untuk memastikan keadaanmu karena aku takut masalahnya semakin melebar ke mana-mana."
"Kalau suamimu salah paham terus pasti ini tidak akan baik untuk hubungan kalian, kan? Kenapa tidak tes DNA saja?"
"Tes DNA ketika janin masih berada dalam kandungan rawan keguguran. Itu yang aku tahu, jadi aku nggak mau." Nuna tak mau jujur, ia tak mau dikasihani oleh siapa pun krena kejujurannya.
"Terus apa yang akan kau lakukan selama menunggu anakmu itu lahir? Masih ada waktu untuk beberapa bulan lagi, selama itu suamimu bisa melakukan apa pun."
"Aku serahkan semuanya sama Tuhan. Tuhan lebih tahu apa yang terbaik buat aku. Aku hanya bisa berusaha dan berdoa untuk mempertahankan rumah tangga ini."
"Kenapa? Kalau kau tidak kuat kenapa harus memaksa? Kau memaksakan dirimu untuk bertahan, tapi kau stres. Itu artinya kau mempertaruhkan nyawamu dan juga nyawa lain. Bagaimana kau bisa menyayangi orang lain kalau kau saja tidak sayang pada dirimu sendiri?"
"Selagi aku masih bisa hidup, itu artinya aku kuat. Jangan khawatirkan aku, Bian. Aku nggak apa-apa."
"Terserah saja."
__ADS_1
Hening.
Bian bingung hendak apa. Menunggu Nuna di sini? Sampai kapan? Ia bukan siapa-siapanya. Tapi jika ia meninggalkannya, ia juga tak tega. Jika dilihat dari wajahnya, ia sudah merasakan banyak hal setelah masalah ini terjadi.