
"Ibu, Om Bian tadi kasih ini ke aku. Mainan sama buku dongeng. Bagus deh bukunya. Aku tadi udah baca setengah. Ibu bacain aku dong," pinta Cashel di malam hari sembari menyodorkan buku.
"Om tadi ngomong apa aja sama kamu?"
"Nggak ngomong apa-apa, sih. Cuman nanya-nanya hari-hari aku di sekolah, punya temen banyak nggak, sama ngomongin Om yang katanya sayang sama Ibu."
Nuna sedikit terkejut, ia tak pernah menyangka sebelumnya Bian akan membicarakan soal perasaan pada anak sekecil Cashel. Jujur saja ucapan Bian memang sekarang menjadi beban tersendiri baginya. Ia tak menyangkal, bahwa sebenarnya ia juga butuh seseorang untuk hanya sekedar bersandar atau mendengar keluh kesahnya. Ia juga butuh tangan hanya untuk sekedar mendekap, pundak untuk bersandar, telinga untuk mendengar, dan ucapan dari seseorang yang mampu menguatkannya.
Bukan berarti selama ini orang tuanya tak mampu melakukan itu, bukan. Hanya saja menceritakan keluh kesah pada orang tua sepertinya akan menambah bebannya saja.
"Memangnya kenapa, sih, Bu kok aku nggak boleh dekat-dekat sama Om Bian? Om Bian dekat sama Kakek, tadi mereka ngobrol lama banget. Terus Om udah kasih banyak mainan dan buku. Ya meskipun aku semoga kesel sama Om Bian karena udah marahin Ibu."
"Om sama Kakek ngobrol apa?"
"Nggak tahu. Tadi aku sibuk sama mainan."
Cashel yang sebelumnya ingin dibacakan dongeng kini malah tertarik membicarakan Bian. Anak itu tak henti mengucap nama Bian di dalam ceritanya. Sepertinya setengah hari pendekatan itu membawa sedikit perubahan pada Cashel. Saat ini hanya Nuna yang mengerti binar mata yang tersinar di mata sang anak.
°°°
Bukan Bian namanya jika ia berhenti begitu saja sebelum mendapatkan apa yang ia mau. Apalagi ia tahu jika sebenarnya yang ia mau juga menginginkan dirinya. Ia tahu dari lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya Nuna menginginkan dirinya. Dari sorot mata yang sebenarnya juga menyiratkan itu semua membuat Bian hanya perlu memberinya kesempatan seluas-luasnya untuk melihat betapa ia serius soal mencintai Nuna.
Di hari minggu berikutnya setelah pertemuan pertamanya itu, Bian kembali datang. Ia membawa banyak makanan dan buah untuk seluruh anggota keluarga yang membuatnya memiliki kembali keluarga yang utuh. Entahlah, Bukan hanya merasa nyaman dan hangat saja saat bercengkrama dengan kedua orang tua Nuna. Ia merasa kembali punya keluarga.
"Bian, kalau ke sini jauh nggak perlu bawa apa-apa seperti ini. Baru kemarin kamu kasih jajan buat Cashel. Sekarang bawa lagi." Ibu Nuna berucap sungkan seraya menyodorkan satu cangkir teh hangat untuk tamunya.
"Nggak apa-apa, Bu. Biar Cashel nggak jajan sembarangan. Kalau anak segitu dikasih uang sendiri terus, yang ada nanti apa yang dia konsumsi akan salah terus."
__ADS_1
Nuna menghembuskan napas berat dan panjang ketika baru pulang dari luar rumah. Entah ada keperluan apa wanita itu hingga di hari yang masih pagi ia sudah keluar rumah dan kembali dengan tentangan tas di tangannya.
Seperti biasa, wanita itu tidak merespon apa pun. Mengajak bicara, menyapa, atau melakukan apa pun untuk berkomunikasi dengan Bian. Ia berharap dengan cara itu ia bisa membuat Bian menyerah dan tidak lagi berharap padanya. Sungguh, hatinya ingin sekali memiliki manusia itu, namun logika yang sepertinya bekerja keras dan menguasai dirinya membuat ia lagi-lagi berpikir pria itu pasti bisa dan harus mendapatkan perempuan yang lebih baik darinya. Hingga detik ini rupanya Nuna masih merasa tak pantas untuk bersanding dengan laki-laki itu.
Nuna melanjutkan langkah setelah sesaat berhenti di ruang tamu. Entah dilangkah yang ke berapa ia berpapasan dengan Cashel yang menggendong tas punggungnya dengan berpakaian rapi seperti akan bepergian.
"Mau ke mana?"
"Diajak Om Bian renang. Tadi Om Bian sendiri yang izin sama nenek dan kakek. Mereka ngizinin aku untuk pergi sama Om Bian."
Nuna menatap kedua orang tuanya bergantian seakan meminta penjelasan. Dan seakan mengerti apa yang terpancar ditatapan mata sangat anak, Pak Lukman buka suara tanpa diminta.
"Cashel belum pernah renang, sekali-kali nggak apa-apa Nuna. Lagian dia pergi bukan dengan orang asing, kita kenal yang ngajak Cashel pergi udah dari Cashel lahir. Nggak ada salahnya kalau mereka pergi. Kalau kamu khawatir Bian nggak bisa jaga Cashel, ya kamu ikut aja."
Nuna melihat binar mata Cashel yang mengharapkan izin darinya. Kenapa semakin ke sini ia merasa situasi semakin mendukung keinginan Bian untuk terus mendekatinya? Jika begini terus bukannya ia bisa lupa malah akan semakin bertambah rasa.
Senyum yang sulit diartikan terbit begitu saja di bibir Pak Lukman. Bian dan Ayah Nuna saling tatap sejenak sebelum akhirnya sama-sama mencetak raut wajah yang sama.
Apa ini yang dimaksud Pak Lukman akan membantu Bian dalam mendapatkan hati Nuna? Entahlah.
"Cashel bawa apa aja, Nak? Coba sini Om lihat."
Entahlah, ada rasa bahagia tersendiri saat Bian memberikan perhatian itu pada anak Nuna. Ia seperti kembali pada masa lima tahun yang lalu di mana ia hampir setiap hari berbincang dengan Cashel kecil meski hanya melalui sambungan telepon. Bahkan ia masih ingat bagaimana Cashel memanggilnya dengan nada dan suara khas anak kecil.
"Udah lengkap. Om bawa ini ke mobil dulu. Kita tunggu Ibu sebentar, ya."
Cashel hanya mengangguk.
__ADS_1
Saat Bian berjalan menuju mobilnya, saat itulah Nuna muncul. Ia merasa sangat gugup kali ini. Bukankah ini adalah pertama kalinya mereka pergi berdua?
"Ayah, kenapa Ayah lakukan ini? Ayah tahu, kan kalau aku sedang berusaha untuk menjauh. Kenapa malah Ayah izinkan dia ke sini?"
"Dia sendiri yang datang ke sini, masa harus Ayah usir? Lagian Cashel nyaman-nyaman aja Bian datang. Malah kalau Cashel lagi main sama temennya terus tahu Bian ke sini langsung pulang dia. Tanya aja sama anakmu. Kalau Cashel senang bergaul dengan Bian masa iya harus Ayah larang?"
Nuna tak bisa berucap lagi. Ia diam bukan karena tak punya kalimat sangkalan, tapi Bian sudah kembali dan mengajak mereka untuk segera berangkat.
Rasanya sudah lama Nuna tak melihat Bian berpakaian santai seperti ini. Hanya dengan celana pendek dan sebuah kaos serta jam tangan di pergelangan tangan kirinya rupanya mampu membuat gumuruh jantung Nuna semakin kentara.
"Cashel mau duduk di depan apa belakang?"
Anak itu sempat berpikir, sedikit demi sedikit Bian mengetahui kebiasaan Cashel. Anak itu selalu berpikir terlebih dahulu jika menjawab sesuatu. Dan Bian suka dengan itu.
"Belakang aja. Aku bisa selonjoran," jawab Cashel dengan polosnya.
"Cashel nggak boleh gitu, nggak sopan. Duduk sama Ibu di depan."
"Nuna, jangan telalu keras sama anak. Dia masih kecil, masih tujuh tahun. Jangan paksa dia menjadi seperti apa yang kamu mau."
"Aku tidak menjadikan Cashel seperti yang aku mau. Sopan santun harus diajarkan sedari dini."
"Iya, tahu. Pelan-pelan ngajarinnya. Emang kamu pikir dia bilang kayak gitu, dia bakal selonjoran beneran? Dia masih polos, apa yang keluar dari mulutnya, ya itu bayangannya. Tapi belum tentu dia melakukan apa yang dia ucap. Lagian kalau mau nasehatin anak bukan di depan orang lain. Kasih tahu dia disaat sendiri. Udah Cashel masuk!" Bian membuka pintu bagian belakang. Laki-laki itu menganggukkan kepala untuk meyakinkan anak tujuh tahun yang menunjukkan raut ragu dan sedikit takut.
"Lain kali jangan begitu, Nuna. Jangan buat aku ngomel di depan anak kecil. Dia jadi takut," bisik Bian setelah menutup kembali pintu mobilnya.
Kenapa jadi bertingkah seakan-akan dia yang punya anak? Menyebalkan!
__ADS_1