
"Setiap orang selalu punya cara untuk menunjukkan rasa sayangnya. Nggak melulu soal memperkenalkan ke khalayak umum. Memang pemikiran laki-laki dan perempuan beda. Mereka menganggap bahwa yang di spesialkan adalah mereka yang dipamerkan. Mereka menuntut pasangannya untuk memposting kebersamaan mereka atau fotonya di sosial media. Menurut perempuan itu sangat membanggakan mereka, tapi nggak buat kami. Kami para kaum laki-laki nggak pernah posting foto-foto kalian itu, ya karena itu tadi alasannya, karena kalian spesial. Foto kalian cuman buat kami." Bian berusaha untuk duduk. Kakinya yang patah membuatnya kesusahan untuk bergerak. Nuna dengan sigap membantu laki-laki itu.
"Iya-iya, udah jangan jelasin panjang lebar. Sana sembuhin diri sendiri, biar bisa nikahin aku cepet."
"Yakin mau dinikahi cepat? Kalau kamu mau cepat, sekarang juga bisa, Sayang."
"Maaf aku sudah membuat kamu nunggu lama."
"Maafnya harus dibayar dengan yang lain."
Bian yang baru sadar dari tidur panjangnya menarik sedikit kencang tangan Nuna. Meskipun tarikan itu tak begitu kuat, tetap saja tubuh Nuna tertarik ke tubuh Bian. Sudah sangat lama Bian menginginkan ini untuk yang kedua kalinya setelah cumbuan pertama dulu dilakukan tanpa sengaja.
Sepertinya Nuna juga merindukan hal yang sama. Balasan langsung Bian dapat begitu bibir mereka bertemu. Sesapan demi sesapan kerinduan akan sentuhan intim telihat jelas dari pergerakan tubuh yang keduanya ciptakan.
"Hubungan yang benar adalah dua orang yang manusia yang tidak sempurna yang menolak menyerah satu sama lain. Aku mencintai apa adanya dirimu, akan aku perbaiki apa yang kurang darimu. Begitu juga sebaliknya. Begini terus sampai akhir, ya." Bian menyatukan keningnya dengan kening Nuna.
Wanita yang seakan merasakan cinta yang pertama kalinya itu merasa terharu dan menitikkan air mata bahagia. Rasa yang ia rasakan sedikit berbeda dari saat bersama Arga. Ketulusan dan cinta Bian terasa begitu lebih nyata dari rasa yang diberikan suaminya terdahulu.
__ADS_1
Apalagi perjuangan, membicarakan soal perjuangan dilihat secara mata telanjang pun diantara Bian dan Arga sudah sangat berbeda.
Bila kebahagiaan sedang menyelimuti Bian dan Nuna, hal sebaliknya terjadi pada Arga. Pria itu lagi-lagi dihadapkan dengan ketegangan dalam hidupnya. Istrinya yang mengandung tujuh bulan tiba-tiba mengalami pendarahan hebat dan harus dioperasi untuk menyelamatkan keduanya.
Anita yang sudah mengingatkan Arga untuk menjenguk ibunya yang lama ditinggalkan, namun belum pernah diindahkan, hari itu ia laksanakan. Di tengah pikiran yang sedang semrawut ia berkendara dengan kencang setelah sang istri masuk meja operasi. Kalimat Anita yang terakhir kali ia dengar begitu terngiang di telinganya.
"Mas, kamu jemput Ibu ke sini. Aku mau Ibu tahu kalau dia juga punya cucu dari kamu. Bawa ke sini sebelum aku selesai operasi."
Dengan jarak tempuh yang cukup jauh, durasi yang berada diperjalanan harusnya bisa di tempuh tiga jam lebih bisa ia selesaikan dalam waktu kurang dari tiga jam. Dengan wajah pucat ia berlari begitu sampai di halaman rumah ibunya. Beberapa kali ia menggedor pintu, namun tak kunjung ada sahutan. Butuh waktu lima menit untuk Arga bisa bersitatap dengan ibunya.
Arga sedikit tercengang dengan keadaan ibunya yang ia tinggal berbulan-bulan. Wanita itu nampak kurus dan tak terurus. Begitu pula dengan Bu Ningsih yang terkejut dengan kedatangan putra satu-satunya yang sudah lama meninggalkannya seorang diri tanpa kabar. Terlebih ia meninggalkannya demi seorang perempuan. Beliau kesal dan marah, tapi saat ini hanya Arga yang beliau punya.
"Apa penntingnya kamu nanya kabar Ibu? Kamu ninggalin Ibu lama sekali, Arga. Masih ingat kamu sama Ibu?"
"Ibu aku minta maaf. Iya aku tahu aku salah, aku sangat salah. Untuk kali ini aja Bu, Ibu maafin aku. Setelah itu terserah Ibu mau hukum aku seperti apa. Istriku hari ini operasi karena pendarahan. Dia ingin Ibu tahu kalau Ibu punya cucu dari anak Ibu. Ibu boleh marah dan hukum aku, tapi aku mohon jangan sekarang."
Bu Ningsih menatap netra Arga yang sendu. Semarah apa pun beliau pada anaknya, beliau tak tega melihat Arga yang memohon dengan wajah melas dan lelah seperti itu. Sejahat apa pun Bu Ningsih pada menantunya terdahulu, beliau tetaplah seorang ibu yang sama seperti Ibu lainnya. Tidak tega dan sampai hati jika melihat anaknya memohon seperti itu.
__ADS_1
"Istrimu mau melahirkan? Baiklah, untuk kali ini Ibu akan mengenyampingkan ego Ibu. Kita ke rumah sakit sekarang. Apa perjalanannya jauh?"
Arga seketika memeluk ibunya. Ia tak tahu harus merespon bagaimana atas jawaban ibunya yang tanpa pikir panjang langsung mengabulkan apa yang ia minta.
Tanpa buang waktu lagi Arga prgi ke rumah saudaraha yang berada tak jauh dari rumah ibunya untuk meminjam kendaraan. Rasanya tak mungkin ia membawa ibunya bepergian jauh menggunakan motor.
Setelah setengah jam berlalu, akhirnya Arga dengan wajah yang masih tak jauh dari kepanikan dak kekhawatiran melaju dengan kecepatan tinggi.
Sempat terjadi obrolan panjang selama dalam perjalanan. Bu Ningsih menceritakan kehidupannya setelah ditinggalkan oleh Arga. Beliau menceritakan betapa sulitnya beliau hidup beberapa saat setelah anak semata wayangnya meninggalkannya tanpa kabar.
Butuh waktu berbulan-bulan untuk beliau bisa bangkit dan membiarkan beraktivitas seperti biasa. Belum lagi wanita yang biasa peduli padanya kembali bekerja ke luar negeri sesaat setelah Arga mengirim surat perpisahan. Tinggallah Bu Ningsih berjuang sendirian untuk tetap hidup.
Cerita dari Bu Ningsih dan Arga yang hidup terpisah itu membawa mereka sampai lebih cepat. Pukul setengah tujuh malam mereka sudah menyusuri lorong yang berada di rumah sakit.
Belum sampai Arga sampai di ruangan istrinya, ia berpapasan dengan Nuna yang mendorong Bian yang sedang duduk di kursi roda. Entah akan ke mana perginya mereka, ia tak tahu. Kedua keluarga itu hanya saling tatap dalam senyap sebelum akhirnya Arga dipanggil oleh suster yang ikut menangani istrinya.
"Maaf Pak Arga. Bapak di minta untuk ke ruangan dokter, ada yang ingin beliau sampaikan mengenai kondisi istri Bapak."
__ADS_1
Arga dan Bu Ningsih akhirnya berlalu begitu saja tanpa ada satu kata pun yang keluar untuk sekedar menyapa. Hanya saja pandangan Bu Ningsih pada Nuna yang rupanya tak pernah berubah. Masih sama seperti tujuh tahun yang lalu, pandangan yang menyorotkan kebencian.