Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
30. Masih Berkilah


__ADS_3

Di bawah atap rumah sederhana itu masih terjadi ketegangan diantara keempat manusia dewasa yang menatap satu orang yang sama.


"Kenapa diam saja, Mas? Jelaskan apa yang dibilang Bian tadi! Maksudnya apa, kamu menghamili siapa?"


"Itu bukan urusanmu, Nuna."


"Bagaimana itu menjadi bukan urusanku kalau kamu masih menjadi suamiku?"


Arga yang sudah membenci istrinya sendiri itu sudah merasa muak dengan ucapan yang selalu Nuna perdengarkan padanya. Baginya, ia bukan lagi suami Nuna setelah mengetahui pengkhianatan yang Nuna lakukan.


"Itu sebabnya aku buat sekarang kita bukan lagi suami istri. Aku nggak mau punya istri seperti kamu. Aku nggak mau ngurusin anak orang."


Ibu Nuna yang tak terima dengan pernyataan menantunya itu seketika pergi dari ruang tamu. Beliau mengambil cucunya yang tertidur dengan pulas. Siapa pun yang melihat Cashel pasti sudah tahu bahwa bayi yang berada dalam gendongannya itu adalah anak Arga. Kemiripan wajah yang tak bisa dipungkiri membuat Ibu Nuna yakin bisa membungkam mulut Arga yang meragukan status anaknya.


"Kamu yakin anaknya dalam gendongan saya ini bukan anak kamu, Arga?" Ibu Nuna berjalan mendekat ke arah Arga.  Beliau berhenti tepat di depan pria itu berdiri.


Wajahnya syok dan tergugu tidak bisa disembunyikan oleh pria yang sedikit-sedikit meluapkan emosinya itu. Pandangannya terkunci pada bayi mungil yang tubuhnya terbungkus oleh kain bedong. Dalam hati ia sangat mengakui bahwa Bayi itu memiliki kemiripan wajah dengannya. Namun, seakan tidak terima, logikanya selalu mengambil alih apa yang terlintas di hatinya.


"Kenapa diam? Bingung? Akan aku berikan sesuatu lagi kalau kau masih ragu dan masih mempertanyakan status bayi yang di depanmu itu." Bian menyodorkan sebuah amplop bertuliskan nama rumah sakit.

__ADS_1


Amplop yang seharusnya ia berikan pada Nuna terpaksa ia berikan langsung pada Arga. Amplop itu masih tertutup rapi, Bian memang sengaja tak membukanya dan tanpa pikir panjang menyerahkan itu pada Arga.


Kali ini Arga mendengar kata hatinya. Ia membuka amplop itu dan membaca deretan huruf yang berada di dalamnya. Tangannya sedikit bergetar beberapa saat setelah matanya tertunduk dan fokus pada lembaran kertas tipis yang mampu merobek hatinya. Angka persentase tes DNA yang nyaris sempurna membuat Arga tak mampu melakukan apa-apa selain menatap Bian dengan pandangan yang entah bagaimana cara menjelaskannya.


Sementara Nuna dan ibunya hanya saling tatap seakan menanyakan hal yang sama.


"Kenapa? Masih mau berkilah kalau anak ini bukan anakmu? Mau bukti apa lagi? Mau tes DNA sendiri? Silakan, aku akan membiayai tes DNA mu jika kau mau mengulangi. Mau di rumah sakit mana? Silakan pilih rumah sakitnya!" tantang Bian seakan dirinya punya limpahan uang yang tak terpakai.


Arga diam, sementara kedua wanita yang berada di sana masih bernapas, namun mematung di tempat. Entahlah, kejadian akhir-akhir ini mampu membuat mereka terutama Nuna tak mampu berkata-kata. Semuanya terlihat mengejutkan untuknya. Semua yang terjadi menjadi serba membuat jantungnya terasa di pompa lebih cepat.


"Ini pasti rekayasa, kan? Ini akal-akalan kalian saja, kan? Ini pasti palsu." Arga masih tak percaya.


"Supaya kau lepas dari tanggung jawabmu lah. Dari awal saja kau menghamili Nuna kau tidak ingin menikahinya. Apalagi sekarang untuk merawat anaknya, pasti kau melempar tanggung jawab itu kepadaku. Apa kau berpikir aku ini bodoh?"


"Benarkah Aku tidak ingin tanggung jawab? Aku tidak tahu jalan pikiranmu bagaimana. Kau hanya mengandalkan emosi saja, kalau memang aku melepas tanggung jawab dan tidak mau direpotkan atas apa yang aku lakukan, untuk apa aku susah-susah membiayai Nuna melahirkan di rumah sakit dan mencarikan rumah untuknya? Kalau aku melakukan sama seperti yang kau tuduhkan, seharusnya aku tidak lagi muncul dalam kehidupan Nuna. Kalau memang aku tidak mau tanggung jawab atas kehamilan Nuna untuk apa sekarang aku susah payah membantunya? Aku tidak perlu melempar tanggung jawabku jika aku bisa membiayai apa yang tidak bisa dibiayai olehmu."


Semua diam termasuk Arga. Sesekali ia melirik bayi yang masih berada di dalam gendongan Ibu mertuanya. Kini logika dan perasaannya sudah berjalan tak beriringan. Dibalik diamnya, ada perasaan dan logika yang sedang bertengkar di dalam.


Nuna pun terdiam dan tenggelam dalam sakit hatinya. Hatinya terluka lebih lebar melihat respon Arga yang masih saja berkilah atas dua bukti nyata yang seharusnya tak diragukan.

__ADS_1


"Bagaimana? Kau bisa mengambil keputusan sekarang, mau percaya atau kau mau bukti tes DNA yang kau lakukan sendiri?" Sekali lagi Bian menantang Arga untuk melakukan tes DNA ulang.


Astaga, mulutku ini terlalu sombong. Udah kayak orang kaya aja aku nantang-nantang begini. Kalau diiyain mampus.


Arga hampir mengataka iya, jika saya Nuna tak angat suara. Tentu saja Nuna tak mau Bian berkorban lagi untuk manusia-manusia yang bukan siapa-siapanya. Diberikan hal yang mengejutkan begini saja Nuna entah sanggup membayarnya atau tidak.


"Tunggu, Mas. Kalau kamu memang merasa ini hanyalah palsu, silakan tanyakan saja pada pihak rumah sakit. Aku nggak mau siapa pun mengeluarkan uang untuk hal yang tidak penting seperti ini. Kamu sudah tahu hasil dari tes DNA itu kenapa masih ragu? Jika memang kamu meragukan keaslian surat itu, kamu buktikan dengan usahamu sendiri. Jangan libatkan orang lain."


"Kenapa? Dia yang nawarin, dia yang nantang? Apa kau takut?"


"Aku tidak takut. Aku hanya tidak mau orang lain jadi terlibat dan dirugikan karena ulahmu. Kamu mau percaya atau tidak, itu urusan kamu." Nuna lalu pergi dari sana untuk beberapa saat. Ia kembali dengan sebuah gunting dan sebuah plastik kecil. Ia menggunting sedikit rambut Cashel dan memasukkannya ke dalam wadah plastik.


"Sejujurnya aku tidak rela memberikan helaian rambut anakku. Tapi aku terpaksa melakukannya demi ketenangan hidupku sendiri dan kesengsaraan kelanjutan hidupmu. Lakukan tes DNA di saat kamu mampu melakukannya."


Nuna beralih pada surat ajuan perpisahan yang dibawa suaminya. Mengambil surat itu dan memberikan tanda tangannya di sana. Kekecewaan dan rasa sakit yang hati yang Arga tambahkan rupanya membuat Nuna tidak ingin mempertahankan apa pun dari Arga. Ditambah lagi mengingat ucapan Bian, sungguh dibalik ketegarannya ini, kehidupan dan hatinya benar-benar hancur.


"Ini. Kamu sudah dapat apa yang kamu mau. Mulai hari ini hubungan kita bukan apa-apa. Silakan pergi dari sini."


Arga pergi dari sana dengan wajah yang tegang dan rahang yang mengerat

__ADS_1


__ADS_2