Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
19. Pengusiran


__ADS_3

Sepulang dari Perpustakaan, Nuna menghitung uang hasil berkerjanya selama beberapa bulan terakhir. Gaji yang tak besar dan juga keperluannya yang tidak sedikit membuat Nuna hanya bisa menabung sebisanya. Ia berharap uang yang ia kumpulkan ini cukup setidaknya untuk biaya melahirkan. Untuk perlengkapan bayi ia sudah beli meski tidak dalam jumlah yang banyak.


"Wow. Lumayan juga uang kamu." Bu Ningsih datang dengan tangan tersilang di depan dada.


Nuna tak menanggapi, ia menyimpan uang itu kembali.


"Kalau saya jadi kamu sudah pergi dari sini dari dulu. Kamu terlihat seperti sampah dengan mengemis maaf dan kesempatan untuk tetep tinggal. Harga diri kamu sudah benar-benar pergi entah ke mana."


"Aku seperti sampah? Kita lihat nanti, apa yang akan kalian lakukan ketika sampah ini bergerak. Ibu tahu aspal? Aspal tetap diam ketika diinjak, tapi jangan lupa, diamnya aspal juga bisa melenyapkan nyawa orang. Ibu berpikir aku tidak punya harga diri? Baiklah, anggap saja begitu. Lalu apa kabar dengan Ibu? Di mana letak harga diri seseorang ketika menghalalkan segala cara untuk memisahkan anaknya? Memfitnah orang yang tak bersalah, membenci seseorang tanpa sebab, dan suka mengarang cerita untuk kemenangannya. Kita sama, Bu. Sama-sama sampah, bedanya. Aku masih bisa didaur ulang. Sedangkan Ibu, hanya menunggu waktu untuk benar-benar dibuang."


Bu Ningsih seketika mengeluarkan tanduknya. Beliau benar-benar marah dengan kata-kata yang terdengar dari mulut Nuna. Satu tamparan membuat memar pipi wanita hamil besar itu.


"Kamu adalah satu-satunya orang yang tidak tahu terima kasih. Sudah dibiarkan tinggal di sini, tapi ngelunjak."


"Ibu Bodoh atau pura-pura bodoh? Aku tetap tinggal di sini karena anak yang aku kandung adalah anak Mas Arga, Ibu tahu itu. Yang membuat kesalahpahaman antara aku dan Mas Arga, kan Ibu. Ibu yang mengarang cerita bahwa anak yang aku kandung ini bukan anak Mas Arga."


Kedua wanita itu saling tatap dalam ketegangan saat Arga sampai sana dan menampakkan raut wajah yang murka.


"Berani sekali kau mengatai ibuku bodoh."

__ADS_1


Arga rupanya hanya mendengar kalimat terakhir dari Nuna. Pria itu semakin membenci istrinya karena selalu saja melihat Nuna diwaktu yang salah. Kebencian semakin menjadi hari ini.


"Arga, dia ngambil uang Ibu yang dari kamu. Ibu kembali menabung setelah kamu nggak bagi uang sama dia. Tapi dari dua hari yang lalu uangnya hilang, dan Ibu lihat tadi dia ngitung uang banyak. Itu pasti uang Ibu."


Arga seketika menatap tajam Nuna yang nampak tenang.


"Bagaimana bisa kamu menilai apa yang Ibu ucapkan itu sebuah kebenaran, sementara kamu sendiri tidak pernah melihat bagaimana dan berapa jumlah tabungan ibumu. Aku bisa mendapatkan uang karena aku bekerja.  Kamu pun tahu itu, aku membeli segala sesuatu, aku bisa makan, aku bisa membeli apa pun itu karena aku bekerja. Aku nggak pernah minta selama ini sama kamu. Jadi wajar kalau aku punya uang, sebuah kewajaran bahwa aku punya tabungan. Uang yang Ibu lihat tadi uang tabungan kerjaku. Hasil aku kerja dari pagi sampai sore untuk biaya melahirkan anak kita."


"Aku jijik mendengar kalimat mu. Aku merasa tidak punya anak darimu. Kembalikan uang Ibu. Apa pun yang keluar dari mulutmu  tidak ada yang bisa dipercaya. Sekali berkhianat, sekali menipu, pasti akan terus menipu."


Entah karena memang efek dari hasutan Bu Ningsih yang terlalu kuat atau memang Arga sedang kesal dan marah, pria itu berjalan menuju lemari yang ditunjuk Bu Ningsih.


Nuna berusaha untuk mencegah Arga mengambil uang yang bukan haknya, tapi tenaga Nuna yang tak seberapa itu sudah pasti kalah dengan tenaga kuat dari Arga. Seberapa keras ia berusaha, sekeras itu juga Arga menepis tangan-tangan Nuna. Hingga akhirnya pria itu menemukan yang berlembar-lembar.


"Kau bekerja berapa bulan? Ini terlalu banyak untuk hasil kerjamu yang hanya jaga perpustakaan. Kau, kan bisa menyuruh simpananmu itu untuk membiayai kehidupanmu. Oh, atau jangan-jangan dia sudah lepas tangan," ejek Arga.


Nuna tak menjawab, ia lebih memilih untuk merebut uang yang berada di tangan Arga. Itu adalah uang hasil jerih payahnya. Tidak seharusnya Arga mengambil paksa uang tesebut.


Namun siapa sangka, Bu Ningsih seakan tau niat Nuna. Wanita itu lebih cepat mengambil uang dari tangan Arga. Dan beliau lalu berlari menjauh dari keduanya. Tentu saja Nuna tak tinggal diam. Meskipun dengan langkah pelan karena membawa beban perut yang besar, ia berusaha untuk mendapatkan haknya kembali.

__ADS_1


Bu Ningsih hendak masuk kamarnya ketika beliau mendorong pintu kamar ke dalam, di waktu bersamaan Nuna berhasil meraih tangan beliau dan dengan kekuatan penuh, ia menarik tangan tersebut hingga tubuh Bu Ningsih terputar menghadapnya. Di saat itulah Nuna merebut uang hasil jerih payahnya.


"Ini uang hasil keringatku sendiri, aku mengumpulkan ini untuk kelahiran anakku. Tak masalah bagiku jika Ibu membenciku, tapi jangan ambil hakku. Apakah selama ini aku kurang diam? Ingat, sudah berapa orang yang mendengar keburukan yang Ibu karang mengenai aku? Ingat Bu, karma selalu datang tepat waktu dan tepat sasaran."


Situasi semakin memanas ketika tangan Bu Ningsih melayang di udara. Niat beliau yang akan memberikan sebuah tamparan gagal lantaran tangan Nuna dengan cekatan dan penuh keberanian mencekal pergelangan tangan wanita itu dengan kuat.


"Sudah pernah aku katakan sebelumnya, aku selama ini diam karena menghormati Ibu. Tapi bukan berarti Ibu bisa mengangkat tangan di depanku untuk kedua kalinya." Tanpa sadar Nuna mencengkram pergelangan tangan Bu Ningsih dengan kencang.


"Lepaskan ini sakit! Kamu mau celaka karena durhaka dan berani menyakiti seorang Ibu. Kamu sedang hamil, tidak takut kualat?"


Nuna melepas tangan Bu Ningsih dengan kasar. Pergelangan tangan wanita itu sedikit memerah.


"Sudah aku katakan, karma tidak pernah salah sasaran. Memang Ibu pikir aku akan berani dan memberontak seperti ini jika Ibu tidak keterlaluan?"


Arga yang geram tanpa kata seketika menarik tangan Nuna dengan kasar dan membawa wanita hamil tua itu keluar rumah.


"Pergi dari sini! Kau sudah bertindak diluar batas. Kau siapa berani memperlakukan ibuku seperti itu?"


"Keluar? Baik, aku akan keluar dari rumah ini."

__ADS_1


Di detik-detik terakhir, Nuna tiba-tiba ingat kata-kata Bian. Ia bisa membungkam mulut mereka dan membuktikan bahwa ia tidak salah tanpa harus bertahan di rumah itu. Memang terdengar sangat terlambat, tapi dengan cara ini setidaknya ia berhasil membuktikan bahwa dirinya kuat dan tidak mudah untuk dihancurkan. Ia sudah berhasil menunjukkan pada mereka bahwa ia bisa bertahan sejauh ini sendirian.


Tinggal satu langkah lagi, Nuna. Tinggal satu langkah lagi, kau bisa membuktikan bahwa kau memang benar.


__ADS_2