Lidah Pahit Mertua

Lidah Pahit Mertua
89


__ADS_3

Semua orang berkumpul di dalam ruangan ICU sesaat setelah Nuna memanggil dokter. Arga memang tersadar dari koma, ini adalah keajaiban Tuhan mengingat kondosinya yang parah dan kemungkinan untuk sadar sangat tipis.


"Arga, ini Ibu, Nak. Kamu dengar Ibu ngomong, kan? Mana yang sakit? Beritahu Ibu." Bu Ningsih mengelus dengan penuh kasih sayang pipi sang anak.


Baru kali ini Nuna melihat Bu Ningsih sebagai manusia yang punya kesedihan dan berada di titik terendah. Ia melihat Arga yang tak merespon apa pun. Hanya mata yang terbuka seraya menatap langit-langit ruang rawatnya.


"Arga kenapa diam saja? Kamu mau apa? Kamu mau Ibu nggak maksa kamu buat ambil Cashel, kan? Baiklah akan Ibu lakukan. Ibu nggak akan paksa dan tekan kamu untuk ambil anakmu. Ibu akan menerima keputusan kamu untuk tidak menikah dan tidak memperjuangkan apa yang Ibu katakan. Tapi kamu harus sembuh, apa pun yang kamu mau akan Ibu turuti, tapi kamu harus sembuh dulu. Ingat Arga, Ibu cuma punya kamu, Nak. Ibu sama siapa kalau kamu pergi? Kamu udah janji nggak akan ninggalin Ibu. Kamu harus tepati janji. Arga, tolonglah jawab permintaan Ibu."


Arga terlihat ingin mengucapkan sesuatu, namun terlihat sangat sulit. Terlihat sangat menyakitkan saat Arga berusaha untuk buka suara.


"Bu Ningsih, mungkin Arga ingin ketemu anaknya. Beri kesempatan dia untuk lebih dekat dengan Cashel," usul Pak Lukman dengan penuh kehati-hatian.


Bu Ningsih menggeser sedikit tubuhnya tanpa menjawab. Beliau membawa Cashel agar lebih dekat dengan sang Ayah. Beliau letakkan anak kecil itu di dekat kepala Arga. Matanya sudah hampir menangis melihat keadaan ayahnya yang sebenarnya ia tak tahu banyak kenapa ayahnya menjadi seperti itu.


"Cashel ngomong aja sama Ayah. Bilang aja kalau Cashel udah datang buat jenguk Ayah. Bisikin aja di telinganya," pinta Pak Lukman.


Cashel menurut, meski ia tak tahu dampak apa yang akan diperlihatkan ketika ia sudah mengatakan itu, ia membisikkan kalimat yang seperti disarankan kakeknya.

__ADS_1


Cashel mendekatkan diri ke telinga sang Ayah, "Ayah, aku di sini, aku datang untuk jenguk Ayah. Katanya Ayah mau ketemu sama aku. Ayo kita ngobrol."


Tak lama dari bisikan Cashel, tangan Arga sedikit terangkat dan seperti meraba di mana keberadaan anak itu. Bu Ningsih yang paham dengan pergerakan sang anak membimbing tangan Arga agar sampai pada kepala Cashel.


Begitu tangan itu sampai di kepala anak itu, tak ada ucapan yang keluar darinya, hanya tangan Arga yang terlihat memaksakan diri agar bergerak mengelus lembut kepala anak semata wayangnya itu.


Perlahan-lahan, napas Arga mulai tak teratur, alat medis untuk mendeteksi detak jantung pun juga perlahan berubah. Semua orang panik, untunglah masih ada dokter yang berada dalam ruangan itu. Dokter laki-laki berkacamata itu sudah memprediksi ini akan terjadi dalam waktu dekat. Itulah sebabnya, mengapa beliau meminta seluruh anggota keluarga untuk masuk ke dalam ruangan.


Sesaat setelah dokter itu hendak memeriksa keadaan Arga, alat pendeteksi detak jantung berubah garis menjadi garis lurus dengan bunyi yang cukup nyaring.


"Ayah kenapa?" tanya Cashel entah pada siapa.


Nuna lalu menggeser tubuh anaknya agar dokter bisa leluasa untuk menangani mantan suaminya itu.


"Dokter, kenapa di lepas? Jangan di lepas, nanti anak saya nggak bisa napas," teriak Bu Ningsih melihat alat bantu pernapasan Arga dicabut dan menutup mata Arga yang masih terbuka.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Mohon maaf, pasien sudah berpulang. Kami turut berdukacita, Ibu dan yang lain yang tabah, ya. Ini sudah jalan dari Tuhan." Dokter itu beralih menatap susternya. "Sus, segera urus jenazah, ya!" perintahnya kemudian.

__ADS_1


Bu Ningsih seketika histeris seraya memeluk jasad anaknya yang tertutup kain putih di sekujur tubuhnya.


"Arga, kamu belum makan. Kamu dari kemarin tidur, jangan bercanda. Ini nggak lucu, Ibu marah sama kamu, Arga. Ayo bangun dulu, kamu katanya mau cari kado buat nikahnya Nuna sama Bian. Ayo Ibu antar, kamu mau cari yang seperti apa? Ayo, Nak bangun dulu. Nggak apa-apa kamu datangnya telat, biar Ibu nanti yang minta maaf sama Nuna. Lihat, Nuna ada di sini, Arga. Cashel juga, kamu belum ngobrol sama dia. Kamu juga mau Ibu berubah, kan? Kamu mau Ibu minta maaf sama Nuna atas kesalahan Ibu di masa lalu, kan? Baiklah, Ibu akan minta maaf. Tapi kamu harus bangun, Ibu nggak mau minta maaf kalau kamu tidur terus. Ayo bangun, Arga. Dokter akan mengira kamu meninggal kalau kamu nggak buka mata. Ibu marah, Arga!"


Semua yang berada di sana tak kuasa menahan air mata ketika Bu Ningsih mengucapkan kalimat panjang tersebut. Ibu Nuna mendekat dan berusaha untuk memberikan sentuhan penenang. Melihat Bu Ningsih yang mungkin saja sekarang hatinya hancur lebur membuat beliau seperti ikut merasakan hati Bu Ningsih yang sudah menjadi kepingan.


"Nuna, tolong bangunkan dia. Mungkin dia akan nurut sama kamu. Atau kalau nggak kamu, Nak. Cashel, Ayah pasti akan mendengar kata-kata kamu, Nak. Suruh Ayah bangun." Bu Ningsih merasa lemas dan akhirnya tak mampu menahan tubuhnya dengan kedua kalinya, beliau terduduk di lantai dengan isakan yang mengiris hati.


"Ibu, apa Ayah tidurnya nggak bangun lagi? Kenapa nenek menangis seperti itu? Kenapa tubuh Ayah di tutup semua? Kan Ayah nggak bisa napas, Bu."


"Sayang, Ayah sudah nyenyak tidurnya. Udah nggak bisa diganggu lagi. Ayah nggak akan bangun, Ayah sudah pulang. Ayah udah waktunya untuk istirahat. Jadi sekarang, kita akan temani Ayah sampai pulang ke rumah barunya. Mulai sekarang, kita hanya bisa kirim doa untuk Ayah. Setiap habis salat, kita berdoa untuk Ayah. Mudah-mudahan Ayah pas di jalan pulang, perjalanannya diterangi sama lampu. Bisa, kan?" Nuna menghapus air mata anaknya yang sudah luruh.


"Jadi aku nggak bisa lagi ketemu sama Ayah? Nggak ada yang ajak aku main tiap sore?"


Nuna menghela napas berat, "Mainnya sama Ayah Bian, ya Nak."


"Tapi aku baru ketemu sama Ayah. Kenapa dia ninggalin aku lagi?"

__ADS_1


__ADS_2